Postingan

Menampilkan postingan dari 2025

Tentang Perempuan, Tabu, dan Kuasa yang Disamarkan

  Di bawah payung langit kelabu aku melangkah dengan hati-hati menyusuri hutan, berjalan di antara semak liar yang tingginya melebihi tubuhku. Sesekali angin menerpa wajah, membawa bau dedaunan dan tanah yang lembab. Pohon-pohon tua dengan batangnya yang bengkok menjulang menembus hamparan kabut, akar-akarnya yang besar seolah sedang mencengkram tanah. Hutan ini tampak sepi, namun hidup. Semakin jauh aku masuk ke dalamnya, semakin banyak hal aneh yang kurasakan. Suara merintih dari bawah batu raksasa, suara langkah di antara serasah, dan suara angin yang seolah membisikan mantra. Aku tetap melangkah dengan yakin, tak ada keraguan, apalagi rasa takut. Sampai akhirnya sebuah pohon besar berdaun keemasan menghentikan langkahku. Daun-daunnya yang berguguran berubah menjadi peri. “Ya, peri!” seruku. Aku baru saja menyaksikan keajaiban, tubuhku mematung. Ada rasa bahagia yang tak bisa kujelaskan. “Apa yang kau lakukan di hutan terlarang?” tanya Aphrodite kesal sambil menjewer telinga...

Paradoks Cinta Keibuan: Penyatuan, Keterpisahan, dan Risiko Dominasi

Teori tentang cinta harus diawali dengan teori tentang manusia dan eksistensinya yang tak lepas dari 'penyatuan' dan 'keterpisahan'. Cinta menjadi kekuatan aktif dalam diri yang meruntuhkan tembok pemisah manusia dengan sesamanya, kekuatan yang menyatukan manusia dengan manusia lain, sehingga cinta membuatnya mampu mengatasi rasa terasing dan terpisah. Cinta membiarkan manusia menjadi diri sendiri, dan mempertahankan keutuhan dirinya, sehingga dalam cinta terjadi paradoks; dua insan bisa menjadi satu tapi tetap dua. Menurut Erich Fromm, cinta bukan semata-mata hubungan dengan seseorang, melainkan suatu sikap; karakter yang menentukan keterkaitan seseorang dengan dunia secara keseluruhan, bukan pada satu objek cinta. Tapi bukan berarti tidak ada perbedaan jenis-jenis cinta. Keragaman jenis cinta didasarkan pada objek yang dicintai. Nah, di sini aku ingin membahas salah satu jenis cinta, yakni cinta keibuan. Cinta keibuan adalah afirmasi tanpa syarat atas hidup sang a...

Makhluk yang Lahir dari Rasa Takut

Aku lupa kapan terakhir kali bercerita pada kalian tentang petualanganku bersama para peri. Padahal akhir-akhir ini aku mengunjungi banyak tempat, dan bertemu dengan banyak makhluk baru yang sangat unik. Tunggu sebentar, sebelum melanjutkan bercerita aku ingin memarkirkan sepeda. Iya, saat ini aku sedang bersepeda, tanpa teman, tanpa tujuan. Sekadar berkeliling sambil mematik inspirasi untuk menulis. Ah, baiklah, sepeda sudah diparkir di tempat yang aman, sekarang aku akan mencari tempat duduk. Oh iya, saat ini aku berada di taman yang sangat sepi. Hanya ada dua lansia di sini, mereka sedang mengobrol, sesekali tertawa bersama. Mungkin sedang bercerita tentang cucunya, atau kenangan di masa muda. Kemewahan yang tidak dimiliki semua orang. Dan mungkin aku juga tidak akan memilikinya. Hahaha. Baiklah, lupakan soal itu. Akhirnya, aku mendapatkan tempat duduk yang nyaman, di bawah pohon rindang. Aahhh..., rasanya sejuk sekali. Baiklah, aku akan mulai bercerita tentang petualanganku ber...

Hidup Tanpa Diri

Semakin besar kebebasan dan individualitas, semakin besar juga rasa keterasingan. Ketika manusia bebas (secara liar) menentukan sendiri hidupnya, seiring itu pula mereka merasa terputus dari manusia lainnya. Kemudian mereka mulai mencari cara untuk saling terhubung dengan sesuatu yang lebih kuat dari dirinya, sebab mereka tidak tahan dengan keterasingan. Manusia akan merasa aman jika menjadi bagian dari sesuatu yang ‘lebih’, walau harus mengorbankan jati diri. Ini seperti ‘otoritarianisme’ yaitu kecenderungan ‘menyerahkan diri’ pada seseorang atau sesuatu di luar dirinya, untuk memperoleh rasa aman, kekuatan dan identitas yang dirasa tidak dimilikinya. Erich Fromm menyebut ini sebagai bentuk keterhubungan yang bersifat simbiotik, hubungan antara ‘yang dominan’ dan ‘yang tunduk’. Akhirnya, hubungan antar manusia satu dengan lainnya seperti hubungan robot-robot terasing. Mereka menjadi mekanis, mereaksi sesuatu persis seperti yang direncanakan, menuruti kemauan pihak lain, dan saling...

Keyakinan, Rasionalitas, dan Keteguhan Diri

Aku sering berpikir, untuk alasan apa kita hidup, kenapa kita diciptakan sebagai diri kita yang sekarang, dan apa maksud Sang Pencipta mempertemukan kita pada sesuatu, yang bahkan sebenarnya tidak ingin kita temui. Ketika aku mempertanyakan hal itu pada beberapa teman, alih-alih menjawab, mereka justru menganggap pikiranku aneh karena mempertanyakan apa yang sudah menjadi ketetapan. Padahal, apa yang sekarang dianggap sebagai ketetapan adalah sesuatu yang awalnya tidak atau belum tetap. Lantas, kenapa mempertanyakan ‘prosesnya’ dianggap tidak biasa? Apakah ‘bertanya’ sudah menjadi hal yang tabu? Mungkinkah karena selama ini kita hanya diajarkan untuk menerima dan melaksanakan, kemudian menarasikan apa yang sudah terjadi sebagai kehendak Sang Pencipta sehingga tidak perlu dipertanyakan, cukup diyakini dan dijalani? Aku tidak bisa menerima sesuatu sebagai kebenaran hanya karena mayoritas mengatakan demikian, seperti aku percaya pada Sang Pencipta hanya karena banyak orang yang meyaki...

Anak Badai: Identitas, Kegelapan, dan Kelahiran Makna

Setelah beberapa waktu menenggelamkan diri ke dunia yang benar-benar gelap, aku menyadari satu hal; bahwa hati manusia tidak ada yang tetap. Oh, apakah aku manusia? Bukan. Peri? Tidak juga. Iblis? Mungkin. Tapi mereka menyebutku Putri Tuhan. Entah aku ini apa, yang pasti aku memiliki sisi baik dan buruk semua makhluk. Termasuk Tuhan? Hmm, apakah Tuhan itu makhluk? Atau, hanya sebuah konsep? Bahkan, jika disebut sebagai Putri Tuhan, aku tidak tahu apa pun tentang orangtuaku, bagaimana aku lahir, dan kapan aku dilahirkan. Mereka, iya, mereka, para peri, hanya menjelaskannya melalui situasi. Pagi itu angin berhembus menyusup lirih, daun-daun bergetar dan beterbangan menari di ruang hampa. Langit tampak muram, seperti wajah seorang kekasih yang patah hati. Suasana menjadi gelap, bak rahasia yang enggan diungkap. Awan berarak perlahan bagai pasukan yang bergerak senyap dan siap menabuh genderang perang. Akhirnya suara itu datang, gemuruh dari atas sana. Membuat degup jantung semakin c...

Cerita Tentang Anugerah, Komitmen, dan Kebebasan Diri

Aku duduk di batang pohon kecapi, bernyanyi sambil mengayunkan kaki. Memandang ke sekeliling hutan. Menyaksikan para peri hutan bergiat pagi untuk menjaga kesimbangan dan keindahan tempat ini. Bagaimana aku bisa naik ke pohon ini? Tentu saja dengan bantuan Tinkerbell. Bukan dengan serbuk peri. Sebagai peri pencipta, ia benar-benar tidak menyia-nyiakan bakatnya. ia membuatkan tangga supaya aku bisa naik kapan pun. Uniknya, tangga ini bukan terbuat dari kayu, besi atau batu. Ini terbuat dari “anugrah peri”. Kalian pernah mendengarnya? Setiap kelahiran Putri Tuhan, para peri akan berkumpul untuk meniupkan anugerahnya pada sang bayi. Misalnya peri perburuan, Arthemis, menganugerahkan kebebasan. Lalu Athena, peri kebijaksanaan, menganugerahkan ketangguhan. Kelimpahan diberikan padaku oleh Demeter, peri pemurah. Keabadian yang kumiliki merupakan anugerah dari Aphrodite, sang peri cinta. Hestia, peri kebatinan, menganugerahkan kekuatan spiritual. Oleh Hera, peri kesetiaan, aku dianugerahi...

Perempuan yang Mendahului Zaman

Padahal hari Minggu, tapi bus ini penuh sekali. Selama lebih dari satu jam aku di sini, berjejal seperti ikan sarden di dalam kaleng. Aku sudah tidak tahan, dan akhirnya memutuskan turun di halte terdekat. Sebenarnya aku mau ke mana? Entah, hanya ingin berjalan-jalan, barangkali menemukan inspirasi untuk menulis. Aku keluar dari bus dengan bersusah payah, terhimpit, terdesak, terjungkal, terinjak-injak, ternodai. Tidak, kejadian sebenarnya tidak seperti itu, aku hanya mendramatisir. Tentu saja aku keluar dengan mudah, karena berdiri di dekat pintu. Tak berbeda dengan bus, halte pun penuh sesak, karena banyak orang yang memilih berteduh di sini. Iya, sama seperti hari sebelumnya, pagi sampai siang terik, sorenya hujan lebat. Aku tak membawa payung atau jas hujan, tapi aku tak mau berdesakkan di sini. Aku memilih keluar dari halte, berteduh di bawah JPO. Aku melanjutkan perjalanan, melangkah di trotoar yang konturnya tidak rata, banyak lubang dan licin. Kubayangkan, bagaimana jik...

Hujan, Tupai, dan Waktu yang Harus Kembali

Kalian kenal buah kecapi? Kalau tak kenal, kenalan dulu, ya. Mana tahu nanti nyaman, lalu berubah jadi sayang. Tapi kalau sudah sayang, jangan berharap lebih, supaya tak kecewa. Kalau mau berharap lebih, pastikan dia memiliki perasaan yang sama, jangan sampai kamu excited sendiri. Tak kenal maka tak sayang, sudah kenal belum tentu bisa saling sayang. Lanjut ya.... Sekarang aku sedang berdiri di bawah rindang pohonnya. Menikmati angin yang bertiup lembut membawa bau hujan. Kuhirup dalam-dalam udara sejuk ini sambil membayangkan diriku menjadi Tinkerbell. Hinggap dari satu pohon ke pohon lain, bersenandung riang, menebarkan serbuk peri, hingga semua yang di sekitarku ikut menari bersamaku. Khayalanku buyar ketika buah kecapi mendarat di kepala. Aku reflek menengok ke atas. Ah, beberapa tupai! Mataku dengan awas mengamati mereka. "Lucu sekali! Rasanya ingin bergabung dengan kalian," kataku bersemangat. Seolah mengerti apa yang kuucapkan, seekor tupai melaju turun, lalu...

Ibu, Hobi, dan Kehendak Bebas

Gambar
April 2025, Bersepeda 170 KM, PP Jakarta-Purwakarta "Kok bisa tega sih meninggalkan anak seharian demi hobi?" Setelah menjadi ibu, perempuan cenderung lebih sulit memiliki hobi. Bukan karena tidak mau, tidak ada waktu atau tidak memiliki ketertarikan. Tapi, karena kebanyakan ibu terbebani oleh labelisasi masyarakat terhadap perannya. Ibu kerap dituntut berperilaku seperti yang masyarakat harapkan, di mana ia harus memenuhi kriteria keibuannya. Ini membuat ibu tidak bebas mengekspresikan diri karena takut dianggap ibu yang menyimpang. Masyarakat cenderung menganggap 'ibu yang melakukan hobinya' sebagai ibu yang tidak sepenuhnya mengabdikan diri untuk keluarga. Tapi, sepertinya anggapan tersebut tidak berlaku bagi ibu yang memilih hobi sesuai dengan citra keibuannya, seperti memasak, berkebun, menjahit, dan hobi lainnya yang masih berkaitan dengan pekerjaan rumah tangga dan bisa dilakukan tanpa harus meninggalkan anak. Jika seorang ibu mempresentasikan diri se...

Lorong Buku Batavia

Di sore yang mendung itu aku mengayuh sepedaku ke sebuah tempat, yang sebenarnya tidak jauh dari rumah, tapi belum pernah kudatangi, Lorong Buku Batavia. Sesampainya di sana, tukang parkir menyambut dengan ramah. Berkali-kali ia mengingatkanku untuk mengunci sepeda. Ya, tentu saja, sepeda aku kunci, bahkan demi keamanan, aku membawa rantai dan gembok seberat 2 kg. Terniat. Kemudian aku menyusuri lorong yang tidak terlalu panjang itu. Hanya ada beberapa toko buku yang buka, saling berdekatan. Suasananya agak sunyi, hanya ada suara beberapa orang yang sedang mengobrol di ujung lorong, dan tentu saja suara sepatuku yang berisik. Maklum ya, pakai sepatu cleat. Tapi, kesunyian seperti itulah yang aku cari. Di mana hanya ada aku, buku dan sepotong sajak cinta. Eh, maksudnya, aku, buku dan berisiknya isi kepala. Aku menjelajah di antara buku-buku tua yang bertumpuk dan berjejer di rak. Tidak ada target buku yang ingin kubeli, karena aku biasa membaca buku apa pun; novel, politik, fils...

Antara Pelarian dan Kecintaan

Gambar
Waktu bersepeda kemarin, aku melihat seekor kupu-kupu terbang rendah, kemudian tertabrak motor hingga terjatuh. Ketika mencoba terbang kembali, ia tertabrak lagi, dan tidak bisa bangun. Aku berhenti, turun dari sepeda, mengambil si kupu-kupu cantik dari tengah jalan. Makhluk kecil ini masih hidup tapi sudah lemah. Aku letakkan di telapak tangan, ia masih bergerak, tapi tidak kuat terbang. Setelah beberapa menit menunggu, tidak ada pergerakan yang berarti, akhirnya kuletakkan di tempat yang aman, dan melanjutkan perjalanan. Sekitar 15 menit berlalu untuk mengurus seekor kupu-kupu yang sekarat. Ya, 15 menit. Bagi kebanyakan orang apa yang kulakukan ini hanya membuang-buang waktu. Tapi tidak bagiku. Aku sering melakukan hal-hal (yang menurut anakku) "random" ketika sedang melakukan perjalanan, termasuk ketika bersepeda atau lari. Misalnya seperti yang sudah kuceritakan di atas. Tidak hanya kupu-kupu, tapi juga hewan lain. Aku pun sering tiba-tiba berhenti untuk memungut bung...