Paradoks Cinta Keibuan: Penyatuan, Keterpisahan, dan Risiko Dominasi

Teori tentang cinta harus diawali dengan teori tentang manusia dan eksistensinya yang tak lepas dari 'penyatuan' dan 'keterpisahan'. Cinta menjadi kekuatan aktif dalam diri yang meruntuhkan tembok pemisah manusia dengan sesamanya, kekuatan yang menyatukan manusia dengan manusia lain, sehingga cinta membuatnya mampu mengatasi rasa terasing dan terpisah. Cinta membiarkan manusia menjadi diri sendiri, dan mempertahankan keutuhan dirinya, sehingga dalam cinta terjadi paradoks; dua insan bisa menjadi satu tapi tetap dua.

Menurut Erich Fromm, cinta bukan semata-mata hubungan dengan seseorang, melainkan suatu sikap; karakter yang menentukan keterkaitan seseorang dengan dunia secara keseluruhan, bukan pada satu objek cinta. Tapi bukan berarti tidak ada perbedaan jenis-jenis cinta. Keragaman jenis cinta didasarkan pada objek yang dicintai. Nah, di sini aku ingin membahas salah satu jenis cinta, yakni cinta keibuan.

Cinta keibuan adalah afirmasi tanpa syarat atas hidup sang anak dan kebutuhannya. Yang artinya, seorang ibu harus bisa mendukung anak sepenuhnya, tanpa bergantung pada kondisi anak. Meski pada dasarnya hubungan antara ibu dan anak tidak setara, di mana yang satu membutuhkan semua dukungan, dan yang lain memberikannya, namun karena itulah cinta ibu dianggap sebagai cinta tertinggi dan sakral di antara semua ikatan emosional. Sayangnya, dalam cinta yang seperti itu sangat berpotensi melahirkan elemen narsistik.

Ibu selalu menganggap anak adalah bagian dari dirinya, cinta dan hasratnya menjadi kepuasan atas narsismenya. Ini juga mendorong Ibu merasa memiliki kekuasaan dan penguasaan, sehingga anak hanya menjadi objek pemuasan sasaran kehendak ibu. Di sinilah cinta ibu menjadi tugas yang sulit, karena harus berusaha menjauhkan diri dari keegoisan, mampu memberi segalanya dan tidak mengharap apa-apa selain kebahagiaan orang yang dicintainya.

Banyak ibu yang "gagal" dengan tugas cinta keibuan mereka. Ibu narsistik, dominan dan posesif berhasil menjadi sosok penyayang selama anaknya masih kecil, namun tak mampu menjadi ibu yang penuh cinta, yang bersedia menanggung perpisahan, bahkan tetap mencintai setelah perpisahan itu. Karena dalam cinta keibuan, dua orang yang bersatu, memisah. Jadi, ibu tidak hanya harus menerima, tapi juga harus menginginkan dan mendukung keterpisahan dengan anaknya.

Bagaimana bentuk 'keterpisahan dengan anak' yang bisa membuat seorang ibu "gagal" dengan tugas cinta keibuan?

Misalnya, ketika anak sudah mampu menyiapkan makan sendiri, namun ibu masih menyiapkan makan untuk si anak. Atau, ketika anak bisa mencuci pakaian sendiri, ibu masih mencucikan pakaian si anak. Ibu seperti ini merasa sangat bahagia melayani anaknya, ia akan bangga ketika sang anak tidak bisa jauh dan selalu membutuhkan dirinya, lalu mengartikan itu sebagai balasan untuk cinta tulus yang selama ini ibu berikan kepada si anak.

Dalam konteks ini, ibu tidak melihat anak sebagai individu, melainkan sebagai perpanjangan dari dirinya sendiri. Sehingga ‘keterpisahan’ menjadi beban bagi ibu narsistik, sebab ia akan kehilangan “ruang” untuk melakukan kontrol dan dominasi. Padahal, apa yang dilakukan ibu narsistik ini membuat anak tidak bisa mengeksplorasi dan mengekspresikan individualitasnya, kehilangan rasa percaya diri dan kemandirian untuk melakukan banyak hal, termasuk dalam mengambil keputusan sederhana. Cinta keibuan sejatinya melihat proses kemandirian sebagai perkembangan alamiah anak, bukan memandang transformasi tersebut sebagai suatu ancaman.

Trisna Ari Ayumika

Postingan populer dari blog ini

Sekolah, Ruang Pembentukan Identitas