Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2026

Memaknai 'Kartini' dalam Kesederhanaan

Kalau ditanya bagaimana aku memaknai Hari Kartini (meski sebenarnya tidak ada yang bertanya) jawabanku sederhana. Sesederhana caraku merayakannya dalam keseharian. Bagiku, ini bukan tentang kebaya atau seremoni, melainkan tentang menghadirkan nilai-nilai Kartini secara konsisten dan apa adanya dalam cara hidupku. Semua itu hadir melalui pilihan-pilihan kecil yang sering dianggap sepele, padahal bermakna bagiku. Memang tidak mudah, tetapi yang utama adalah terus belajar tanpa merasa cukup. Aku membaca berbagai buku untuk mengisi kekosongan, mendengarkan kisah orang lain tanpa menyela, berdiskusi tentang hal-hal yang kusukai, dan menuangkan kegelisahan dari proses itu ke dalam tulisan. Inilah bentuk belajarku, bukan untuk mengejar gelar, melainkan untuk memahami hidup dengan lebih tenang. Aku tidak merasa harus menjadi hebat, tidak perlu menunggu posisi atau kekuasaan untuk berbuat baik, berani berpikir terbuka meski tumbuh di lingkungan yang kolot, dan berusaha selalu menghargai prose...

Harmoni yang Mengekang: Catatan tentang Ketimpangan Peran dalam Rumah Tangga

Sejak menikah dengan Rinto, Geni belajar bahwa ada banyak hal yang dianggap tidak perlu diperdebatkan. Di rumah mereka, Rinto memutuskan, Geni mengikuti. Aturan itu tidak tertulis dan tidak pernah terucap, tetapi semua tahu bagaimana cara kerjanya.  Di awal, Geni tidak merasa keberatan karena mencintai Rinto. Ia percaya bahwa mencintai berarti menyesuaikan diri, dan menjaga harmoni lebih penting daripada membuktikan benar atau salah. Lagi pula, Rinto tidak pernah membentak, tidak memukul, dan tidak berselingkuh. Rinto hanya suka mengatur. Ya, bagi banyak orang, itu sudah cukup untuk disebut "baik".  Ketika Geni ingin bekerja kembali setelah anak mereka mulai bersekolah, Rinto tidak langsung melarang. Ia hanya berkata sinis, "Buat apa? Uangku cukup." Kalimat itu terdengar seperti bentuk tanggung jawab. Namun di telinga Geni, terdengar seperti tembok yang tinggi.  "Bukan soal uang, Mas," kata Geni waktu itu. "Aku ingin punya sesuatu untuk diriku sendiri...

Aku Berhenti Menunggu

Aku selalu tahu bagaimana rasanya menunggu. Bukan menunggu yang manis seperti dalam novel percintaan remaja, yang dipenuhi pesan-pesan singkat penuh rindu atau suara hangat dari panggilan telepon menjelang tidur. Menungguku adalah jenis yang lain. Sunyi, panjang, dan seringkali membuat bertanya apakah aku sedang menunggu sesuatu yang memang akan datang. Atau, sesuatu yang sejak awal tidak pernah benar-benar ada. Padahal, dulu tidak seperti ini.  Di awal kami berhubungan, ia adalah seseorang yang begitu hadir. Ponselku hampir tak pernah benar-benar sepi karena namanya selalu muncul di layar. Ia rutin mengirim pesan hanya untuk menanyakan hal-hal sederhana.  Jika aku terlambat membalas, ia akan mengirim pesan lagi, dan lagi. Bahkan langsung menelepon. Jika aku tidak mengangkat, ia akan mencoba beberapa kali, seolah memastikan aku benar-benar tidak dalam masalah.  Saat itu, aku tidak pernah merasa sendirian. Tidak pernah merasa harus menunggu. Karena sebelum aku sempat merin...