Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2026

Grey Man yang Retak: Kisah Eddy dan Ilusi Kejantanan (Analisis Model Perilaku Maskulinitas Hegemonik)

Cerita ini bertutur tentang Eddy.  Bukan Eddy Tansil tentu saja, tapi Eddy Burung.  Jangan bertanya dulu, kenapa ada embel-embel ’Burung’ di belakangnya. Baca sampai selesai, maka kalian akan mengerti. ---------- Di sebuah kota imajiner yang tidak terlalu besar tapi cukup penuh gosip, hidup seorang laki-laki bernama Eddy. Menurut pengakuannya sendiri, Eddy adalah “paket lengkap”: misterius, keren, dan berbahaya. Bahkan tanpa ragu, dia menyebut dirinya sebagai Grey Man. Eddy sudah menikah dengan seorang perempuan yang katanya sangat dia cintai. Namun, entah kenapa pernikahannya dilakukan secara diam-diam, mungkin dia merasa status “setengah rahasia” lebih fleksibel untuk hobi utamanya: mengejar banyak perempuan. Untungnya hubungan underground tersebut tidak berlangsung lama, sehingga perempuan yang tidak beruntung itu bisa lepas dari jeratan Eddy. Bagi Eddy, dunia ini seperti buffet. Ada gadis, janda, bahkan istri orang, semuanya dia dekati dengan percaya diri tingkat d...

Fenomena Identitas Perempuan di Sekitar Anak

Aku baru menyadari bahwa Rona sudah tumbuh besar ketika ia melontarkan beberapa pertanyaan yang, jujur saja, tidak pernah terlintas dalam pikiranku ketika aku seusianya. ----- Pertanyaan pertama, kenapa kebanyakan perempuan bergantung pada laki-laki? Aku menjelaskan dengan sederhana, "Di budaya kita, perempuan dan laki-laki dibiasakan punya tugas yang berbeda. Laki-laki bekerja di luar rumah untuk mencari uang, sementara perempuan lebih sering di rumah mengurus keluarga. Jadi, kelihatannya perempuan bergantung pada laki-laki. Gimana nggak bergantung, perempuan nggak boleh sekolah tinggi, nggak boleh bekerja, ya otomatis mereka lebih bergantung ke laki-laki secara ekonomi. Juga ada tekanan sosial kalau laki-laki harus menafkahi, sementara perempuan (boleh) bergantung. Anggapan bahwa perempuan lebih lemah dibanding laki-laki juga membentuk pandangan 'perempuan selalu bergantung pada laki-laki'. Padahal, kalau dikasih kesempatan yang sama, perempuan juga bisa mandiri se...

Perempuan, Seksualitas, dan Kuasa

Globalisasi tidak hanya mengubah tatanan ekonomi, tetapi juga mengguncang norma-norma lama tentang seksualitas. Hal-hal yang dulu dianggap urusan privat kini bergeser ke ruang publik, sehingga batas antara keduanya mulai kabur. Pilihan moral hingga seksualitas tidak lagi hanya persoalan personal, melainkan menjadi arena baru pertarungan nilai dalam kehidupan sosial dan politik sehari-hari. Struktur-struktur yang selama ini diyakini memberi rasa aman menjadi semakin rapuh, hingga melahirkan kecemasan sosial. Dalam situasi tersebut, masyarakat mulai mencari penjelasan (atau kambing hitam?), dan cenderung mudah dialihkan pada isu-isu emosional dan sensitif, seperti seksualitas. Sebab, masyarakat yang mengalami ketidakpastian, paling mudah mencari stabilitas melalui kontrol moral. Ironisnya, sejarah panjang pembentukan sistem sosial hampir selalu menempatkan laki-laki sebagai pusat otoritas. Kemudian, kelompok yang memiliki otoritas tersebut mendefinisikan seksualitas sebagai alat pengat...

Tubuh Perempuan dan Ketakutan Sosial

Tubuh perempuan kerap menjadi objek pengawasan; dinilai, dibandingkan, bahkan dikoreksi.  Seolah-olah mereka tidak pernah benar-benar berdaulat atas tubuhnya sendiri. Bahkan ketika perempuan menunjukkan kekuatan fisik, hal itu sering dipersepsikan sebagai ancaman terhadap tatanan yang mapan. Sejak kecil, sikap dan tubuh perempuan dibentuk oleh ekspektasi tentang bagaimana mereka "seharusnya" menjadi. Ada aturan tidak tertulis yang menentukan aktivitas mana yang dianggap pantas, mengatur bagaimana tubuh boleh ditampilkan, dan mempersempit ruang eksplorasi bahkan sebelum potensi itu berkembang. Perempuan diharapkan tidak terlihat kasar, tidak terlalu aktif, serta memiliki tubuh yang langsing atau kecil dengan lekuk lembut yang dinilai sesuai standar sosial. Akibatnya, banyak perempuan tumbuh tanpa pernah benar-benar diberi ruang untuk mencoba menjadi berbeda. Padangan bahwa tubuh perempuan secara kodrati lebih lemah dan tidak dirancang untuk aktivitas berat sering kali dite...

Dari Subordinasi ke Internalitas: Cara Patriarki Bertahan dalam Kesadaran Perempuan

Ketika ketidaksetaraan dalam relasi gender dianggap biasa, objektifikasi seksual pun menjadi sesuatu yang lazim. Perempuan yang tersubordinat dan mengalami tekanan struktural tidak memiliki banyak pilihan untuk bertahan hidup, sehingga masuk ke dalam industri seks (pelacuran dan pornografi) menjadi konsekuensi yang logis. Lebih jauh, industri seks menormalisasi relasi kuasa yang timpang, menempatkan perempuan sebagai objek konsumsi, memperkuat pandangan bahwa tubuh perempuan dapat dieksploitasi demi kepuasan pihak lain. Mirisnya, eksploitasi seksual ini kembali memperkuat ketimpangan yang ada. Di sisi lain, pertumbuhan pesat masyarakat konsumen dan semakin berkembangnya kebebasan individu membuka celah bagi perempuan untuk mengklaim pengalaman seksualnya sendiri. Mereka mulai menegosiasikan ulang tubuh, hasrat, dan identitasnya, tidak lagi sepenuhnya menerima peran pasif yang merupakan hasil dari struktur patriarkal. Kini, perempuan dapat menikmati seks sebagai aktivitas rekreasional...