Hidup Tanpa Diri

Semakin besar kebebasan dan individualitas, semakin besar juga rasa keterasingan. Ketika manusia bebas (secara liar) menentukan sendiri hidupnya, seiring itu pula mereka merasa terputus dari manusia lainnya. Kemudian mereka mulai mencari cara untuk saling terhubung dengan sesuatu yang lebih kuat dari dirinya, sebab mereka tidak tahan dengan keterasingan.

Manusia akan merasa aman jika menjadi bagian dari sesuatu yang ‘lebih’, walau harus mengorbankan jati diri. Ini seperti ‘otoritarianisme’ yaitu kecenderungan ‘menyerahkan diri’ pada seseorang atau sesuatu di luar dirinya, untuk memperoleh rasa aman, kekuatan dan identitas yang dirasa tidak dimilikinya. Erich Fromm menyebut ini sebagai bentuk keterhubungan yang bersifat simbiotik, hubungan antara ‘yang dominan’ dan ‘yang tunduk’.

Akhirnya, hubungan antar manusia satu dengan lainnya seperti hubungan robot-robot terasing. Mereka menjadi mekanis, mereaksi sesuatu persis seperti yang direncanakan, menuruti kemauan pihak lain, dan saling menyandarkan rasa aman dalam kawanan yang memiliki kesamaan perasaan, pemikiran dan perilaku. Meskipun mereka tampak saling dekat, sebenarnya mereka tetap sendirian dan “sakit”; sepanjang hidup selalu diselimuti rasa tidak aman, kecemasan dan takut akan perpisahan.

Kemudian manusia mulai mencari cara untuk mengalihkan rasa "sakit" itu. Mula-mula mereka mengatasinya dengan rutinitas kerja dan ibadah supaya tetap sadar, sekaligus memenuhi hasrat yang paling dasar; kerinduan transendensi. Namun, lagi-lagi itu membuat mereka teralienasi dan menciptakan cara baru yang dianggap lebih "manusiawi", yaitu konsumsi.

Kini, kebahagiaan manusia modern hanya terjadi dalam kepuasan mengonsumsi. Hidup hanya sebatas untuk kenyang, berpenampilan baik menurut standar masyarakat, puas secara seksual, namun mereka ‘tanpa diri’, dan hanya melakukan kontak penuh kepalsuan dengan sesamanya. Karakter mereka disesuaikan dengan pertukaran dan penerimaan, baik spiritual maupun material.

Sebenarnya manusia adalah individu yang mandiri, namun mereka terlanjur meyakini bahwa dirinya tidak bisa menerima kesendirian, dan menggantungkan kebahagiaannya terhadap pihak lain. Sehingga mereka kehilangan cara bersikap produktif untuk memenuhi kebutuhan manusiawi mereka akan eksistensi dan kebebasan yang memiliki kebermanfaatan.

Trisna Ari Ayumika

Postingan populer dari blog ini

Sekolah, Ruang Pembentukan Identitas