Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2010

Komersialisasi Pendidikan

  Pendidikan sebagai alat untuk mencerdaskan manusia sehingga mampu membebaskan dirinya dari segala bntuk penindasan, itulah hakikat pendidikan yang sesungguhnya. Sungguh mulia. Namun, mengapa pendidikan saat ini sulit dijamah mereka yang termiskinkan oleh sistem kapitalisme yang bertopeng neoliberalisme?! Pendidikan yang katanya merupakan hak setiap warganegara, seharusnya dapat dijamah oleh semua lapisan. Lantas, mengapa pemerintah justru mempersulit akses untuk memperoleh pendidikan bagi kaum menengah ke bawah ya?! Uuuhhhh…, TRAGISSS!!! Ide privatisasi kemudian muncul sebagai jalan untuk menuntaskan permasalahan pendidikan di Indonesia. Ide ini merupakan agenda besar pemerintah. Sebenarnya, privatisasi pendidikan hanyalah sebuah alasan pemerintah untuk melepaskan negara dari tanggung jawab guna memenuhi kebutuhan dasar warga negaranya akan pendidikan. Biaya pendidikan yang semakin mahal adalah salah satu dampak nyata dari privatisasi pendidik...

Feminisme dan Mereka yang Masih Terpasung

Siapa yang berani mengakui secara terbuka bahwa dirinya adalah seorang penganut feminisme? Pasti tidak banyak yang berani mangakuinya. Pasalnya, feminisme cenderung dipandang negatif, dan para feminis dianggap membenci laki-laki, kebarat-baratan, individualistis, bahkan tak jarang yang menganggap feminis itu anti agama. Apa sih sesungguhnya feminisme? Mengapa para feminis digambarkan sebagai tokoh yang demikian negatif? Feminisme muncul dari kesadaran akan ketidakadilan terhadap perempuan yang telah berlangsung lama. Sesungguhnya, perempuan telah melakukan berbagai bentuk perjuangan untuk membebaskan diri dari ketidakadilan tersebut jauh sebelum istilah feminisme dikenal. Istilah ini mulai disosialisasikan oleh majalah Century pada tahun 1914, meskipun sejak dekade 1910-an kata feminisme—yang berakar dari bahasa Prancis—telah kerap digunakan. Di Prancis sendiri, istilah feminisme pertama kali dipakai pada tahun 1880-an. Hingga kini, feminisme masih kerap disalahartikan dan dipanda...

Reduksi Makna Ruang Publik: Studi Kasus Taman Monas

Taman Monumen Nasional (Monas) merupakan salah satu hutan kota yang dirancang sebagai taman dengan tata lanskap yang menarik dan dilengkapi beragam fasilitas pendukung. Sebagai ruang terbuka hijau (RTH), Taman Monas dapat dikatakan sebagai yang paling dikenal dan ramai dikunjungi. Tingginya jumlah pengunjung tidak terlepas dari keberadaan Monas sebagai ikon Kota Jakarta sekaligus daya tarik taman yang indah dan luas. Oleh karena itu, kawasan ini kerap menjadi tujuan rekreasi utama bagi wisatawan dari luar Jakarta. Taman Monas dapat diakses menggunakan kendaraan pribadi maupun transportasi umum. Salah satu moda transportasi yang tersedia adalah TransJakarta. Pengunjung dapat berangkat dari Halte Harmoni dengan bus jurusan Blok M dan membayar tarif Rp3.500. Penumpang kemudian turun di Halte Monumen Nasional, yang merupakan halte pertama setelah Harmoni. Dari halte tersebut, Tugu Monas sudah tampak jelas. Di sekitar halte, biasanya tersedia delman yang menawarkan jasa antar menuju pin...

Fiksi, Mimpi, dan Perjuangan Hidup dalam Sang Pemimpi

Gambar
Fiksi dapat dipahami sebagai fenomena sosial yang memiliki kebenarannya sendiri. Kebenaran tersebut tidak terletak pada fakta peristiwa, melainkan pada gagasan yang lahir dari pengalaman dan perenungan pengarang terhadap realitas. Dengan demikian, karya fiksi merupakan representasi sosial yang mengandung nilai kebenaran tersendiri. Hal ini sejalan dengan novel Sang Pemimpi, yang hadir ketika persoalan pendidikan menjadi kegelisahan serius dalam kehidupan bangsa. Melalui novel ini, Andrea Hirata mengajak pembaca meninjau kembali makna sejati pendidikan lewat kisah masa kecil yang sarat refleksi. Novel tersebut mengisahkan perjuangan hidup yang harus dijalani dalam kondisi penuh keterbatasan. Kehidupan Ikal, Arai, dan Jimbron jauh dari kata sejahtera. Seperti peribahasa sudah jatuh tertimpa tangga , penderitaan seolah terus menyertai langkah mereka. Pada usia yang masih belia, Arai dan Jimbron harus kehilangan orang tua, sementara Ikal memikul beban batin melihat sepupu jauhnya, Arai, ...

Feminisme untuk Pemula: Membaca Sejarah Penindasan dan Perjuangan Perempuan

Kami adalah perempuan yang punya posisi istimewa. Jutaan perempuan lainnya telah berjuang mencintai dan mati. Semuanya turut memberikan andil bagi kerja besar yang tiada henti dalam sejarah kaum perempuan.(Sappho, penyair besar pada masa yunani kuno,650 SM).   Sebelum istilah feminisme diperkenalkan, berbagai bukti tentang gerakan, kebangkitan, dan bahkan kekuasaan perempuan telah lebih dahulu muncul dan sempat menguat di berbagai peradaban. Feminisme kemudian hadir sebagai bentuk perlawanan terhadap pembagian kerja dalam masyarakat yang menempatkan laki-laki sebagai pihak yang berkuasa di ranah publik—seperti pekerjaan, olahraga, perang, dan pemerintahan—sementara perempuan dibatasi pada ranah domestik sebagai pekerja tanpa upah yang memikul hampir seluruh beban kehidupan keluarga. Pada masanya, gerakan feminisme memang menjadi kebutuhan historis. Ada periode panjang dalam sejarah ketika kebebasan perempuan mengalami pemasungan sistematis. Sejarah dunia menunjukkan bahwa se...

MPA dan Kekerasan yang Dinormalisasi

Masa Pengenalan Akademik (MPA) merupakan kegiatan seremonial yang diselenggarakan pada awal masuknya mahasiswa baru sebelum menjalani aktivitas perkuliahan. Melalui MPA, mahasiswa baru diperkenalkan pada lingkungan akademik kampus yang sebelumnya asing bagi mereka. Jika ditinjau dari tujuan idealnya, kegiatan ini sejatinya memiliki nilai yang sangat penting dan bermanfaat. Namun, pertanyaannya: masih relevankah MPA ketika pelaksanaannya justru melenceng dari tujuan awal tersebut? Salah satu hal yang kerap menjadi sorotan dalam MPA adalah kewajiban penggunaan atribut tertentu oleh mahasiswa baru. Atribut tersebut—seperti tas, topi, name tag, dan perlengkapan lainnya—dibuat berbeda-beda di setiap jurusan dengan dalih kreativitas. Sayangnya, atribut itu sering kali jauh dari fungsi keseharian. Bentuknya dibuat serba unik, berbeda, bahkan terkesan aneh, sehingga tidak jarang mahasiswa baru justru menjadi bahan tertawaan para senior. Pembuatan atribut MPA juga menuntut biaya yang tidak ...

DILEMA PENDIDIKAN DAN PENGANGGURAN: PENGANGGURAN TERDIDIK TEREKSKLUSI

  Dalam dunia pendidikan, masalah terbesar di Indonesia yang harus menjadi prioritas penyelesaian adalah kualitas dan mutu. Artinya, kualitas sistem dan metode pendidikan, tenaga pendidik, kesejahteraan tenaga pendidik, metode mengajar, dan infrastrukturnya harus ditingkatkan. Namun, ada satu hal yang perlu dicermati, yakni peningkatan kualitas pendidikan adalah sebagai titik penentu yang mempertinggi kesempatan orang-orang terdidik memperoleh pekerjaan. Hal tersebut bertujuan supaya dapat mengurangi angka pengangguran terdidik di Indonesia dan menekan laju pertumbuhan masyarakat tereksklusi. Pengagguran  Pengangguran atau tuna karya adalah istilah untuk orang yang tidak bekerja, sedang mencari kerja, bekerja kurang dari dua hari selama seminggu, atau seseorang yang sedang berusaha mendapatkan pekerjaan yang layak. Pengangguran seringkali menjadi masalah dalam perekonomian karena dengan adanya pengangguran, produktivitas dan pendapatan  masyarakat  akan berkurang...

Ujian Nasional: Tolok Ukur atau Beban Pendidikan?

Ujian Nasional (UN) merupakan salah satu komponen dalam sistem pendidikan nasional yang memiliki dampak besar terhadap arah masa depan bangsa Indonesia. Kehadiran UN sebagai fenomena pendidikan menimbulkan beragam pertanyaan di tengah masyarakat. Apakah UN masih relevan untuk diterapkan? Apa sesungguhnya hasil yang ingin dicapai melalui UN? Sejauh mana UN berkaitan dengan prestasi peserta didik? Mampukah UN melahirkan generasi Indonesia yang cerdas, unggul, dan berkembang sesuai dengan potensi serta bakat masing-masing? Sebagai alat evaluasi akhir sekolah yang diberlakukan secara nasional, UN memunculkan respons yang beragam. Di satu sisi, UN dipandang sebagai capaian pemerintah dalam menetapkan standar penilaian pendidikan yang seragam dari tingkat sekolah dasar hingga sekolah menengah atas dan dilaksanakan secara bersamaan di seluruh Indonesia. Namun di sisi lain, UN juga memunculkan keprihatinan. Tujuan ideal yang dikemukakan pemerintah—bahwa UN menjadi tolok ukur keberhasilan pen...

Mitos Kecantikan dan Tekanan Sosial pada Perempuan

“Mirror-mirror on the wall… Who is the fairest in the world?” (Snow White) Siapa yang tidak mengenal konsep kecantikan? Hampir semua perempuan mengetahuinya. Sejak zaman dahulu, perempuan selalu dikaitkan dengan keindahan dan dianggap harus tampil cantik. Meski identitas kecantikan banyak diarahkan pada perempuan, laki-laki juga berperan dalam membentuk persepsi ini. Kecantikan sering dianggap sebagai anugerah yang paling berharga bagi perempuan karena mampu menarik perhatian banyak orang. Sejarah dan mitologi menggambarkan perempuan cantik sebagai sosok yang memiliki kekuatan besar terhadap laki-laki. Banyak kisah klasik menunjukkan pengaruh perempuan cantik yang mampu membuat laki-laki bersedia melakukan apa saja demi mereka, seperti kisah Julius Cesar dan Cleopatra, Rama dan Shinta, perebutan wanita antara Qabil dan Habil, serta perselisihan antara Epimetheus dan Prometheus demi Pandora. Cerita-cerita ini telah menumbuhkan mitos bahwa kecantikan adalah nilai universal dan objekt...

Perempuan dalam Aksara

Di zaman yang bisa dikatakan semakin kompleks ini, perempuan menghadapi beragam tantangan yang bukan sekadar masalah biasa, melainkan berkaitan langsung dengan ketidaksetaraan gender. Beban yang mereka tanggung sering kali lebih berat karena ketimpangan ini. Namun, seiring waktu, gelombang emansipasi perempuan mulai menunjukkan tanda-tanda kebangkitan. Salah satu wujud kebangkitan tersebut terlihat dalam dunia tulis-menulis. Perempuan mulai menekuni dunia literasi dengan berbagai alasan, seperti menyalurkan hobi, mengekspresikan pemikiran, mengabadikan kisah, mencari penghasilan, atau sekadar melampiaskan rasa jenuh yang mereka rasakan. Seiring munculnya banyak penulis perempuan, terlihat ragam karakter dan gaya dalam karya-karya mereka. Tema gender menjadi salah satu pilihan yang cukup sering diangkat. Meski demikian, masih sulit menemukan karya-karya yang benar-benar mengangkat tema penyadaran perempuan atau menonjolkan sifat-sifat perjuangan perempuan dalam masyarakat, yang secara...

Budaya dan Perempuan: Konstruksi, Hambatan, dan Perubahan

Membicarakan budaya tidak pernah bisa lepas dari pembahasan tentang perempuan, karena dalam banyak kasus perempuanlah yang paling sering menghadapi batasan ketika ingin merdeka dalam menentukan hidupnya. Setiap kali seorang perempuan mencoba mengambil keputusan sendiri—apakah tentang pendidikan, karier, atau kehidupan pribadi—yang sering muncul bukanlah dukungan, melainkan benturan dengan norma budaya yang menetapkan bagaimana seharusnya perempuan bersikap, berpikir, dan bertindak. Budaya kerap menempatkan perempuan pada “kotak” tertentu: harus begini, harus begitu, tanpa memberi ruang untuk kebebasan pribadi. Padahal, jika kita menilik lebih jauh, budaya sejatinya adalah konstruksi sosial, bukan aturan mutlak yang tidak bisa diganggu gugat. Sebagai sesuatu yang dibentuk manusia, budaya seharusnya bisa berkembang dan berubah. Selama prinsip-prinsip dasar—yang menekankan kemerdekaan, kesejahteraan, dan kemanusiaan—tetap dijaga, perubahan bukanlah sesuatu yang salah. Namun, mengubah bu...

Gender dalam Dunia Pendidikan

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) begitu pesat. Namun sayangnya, perkembangan itu tidak diimbangi dengan perkembangan di sektor kebudayaan masyarakat. Teknologi pun yang semula diciptakan untuk melepaskan belenggu dalam manusia, tapi justru malah menjadi belenggu. Manusia telah diperbudak oleh teknologi. Bagaimana tidak, lihatlah betapa canggihnya teknologi mengalahkan dan menguasai manusia untuk menuruti keinginannya. Ini menyebabkan manusia hanya menjadi seonggok barang, karena harga kemanusiaaan mengalami pergeseran menuju titik terendah. Hal ini memunculkan pertanyaan dalam diri kita masing-masing. Bagaimana seharusnya manusia menyikapi perkembangan iptek? Bagaimana memposisikan peran manusia dalam proses perkembangan iptek tersebut? Perkembangan memunculkan berbagai perubahan, ini merupakan tugas manusia itu sendiri untuk memikirkan bagaimana supaya perubahan itu tidak mereduksi keadilan dan kesetaraan serta menjamin kedamaian. Bukan lagi perempuan atau laki-la...