Antara Pelarian dan Kecintaan
Waktu bersepeda kemarin, aku
melihat seekor kupu-kupu terbang rendah, kemudian tertabrak motor hingga
terjatuh. Ketika mencoba terbang kembali, ia tertabrak lagi, dan tidak bisa
bangun. Aku berhenti, turun dari sepeda, mengambil si kupu-kupu cantik dari tengah
jalan. Makhluk kecil ini masih hidup tapi sudah lemah. Aku letakkan di telapak
tangan, ia masih bergerak, tapi tidak kuat terbang. Setelah beberapa menit
menunggu, tidak ada pergerakan yang berarti, akhirnya kuletakkan di tempat yang
aman, dan melanjutkan perjalanan.
Sekitar 15 menit berlalu untuk
mengurus seekor kupu-kupu yang sekarat. Ya, 15 menit. Bagi kebanyakan orang apa
yang kulakukan ini hanya membuang-buang waktu. Tapi tidak bagiku. Aku sering
melakukan hal-hal (yang menurut anakku) "random" ketika sedang
melakukan perjalanan, termasuk ketika bersepeda atau lari. Misalnya seperti
yang sudah kuceritakan di atas. Tidak hanya kupu-kupu, tapi juga hewan lain.
Aku pun sering tiba-tiba
berhenti untuk memungut bunga kamboja (kesukaanku) yang berguguran. Juga,
ketika melihat seorang nenek atau kakek (biasanya pengumpul barang rongsok) di
pinggir jalan, aku berhenti, duduk berjarak di samping mereka, membagi makanan
yang kupunya untuk dimakan bersama. Hanya duduk, makan, saling melempar senyum,
tanpa membicarakan apa pun. Setelah itu berpamitan untuk melanjutkan
perjalanan. Aku bukan orang yang suka berbasa-basi, cenderung jarang bicara,
lebih suka mendengar. Entah sejak kapan, padahal dulu aku ini cerewet. Xixixi.
Suatu hari, pernah teman
bapakku bertanya, "Serius sendirian, Mbak? Kok bisa ya ada orang yang
gowes sendirian jarak jauh? Perempuan lagi. Kalau saya gak bisa, saya harus ada
teman untuk ngobrol."
Mungkin sebagian orang
membutuhkan teman seperjalanan supaya tidak jenuh, tapi aku tidak (atau belum
butuh dan belum menemukan yang tepat). Bagiku ada banyak hal yang bisa
dinikmati untuk mengusir jenuh. Tidak melulu hal-hal yang berkaitan dengan
keindahan. Bahkan, ketika terjebak kemacetan, tersesat, kehujanan, kepanasan,
dan hal-hal lain yang seringkali dianggap buruk, aku menikmati semua itu.
Ketika terjebak kemacetan, ada
saja orang yang menyapa, memberi semangat. Misalnya dalam perjalanan kemarin,
di tengah kemacetan, ada 2 anak lelaki yang dibonceng bapaknya di bagian depan,
mereka berteriak, "Semangat ya, Kak!" Bapak dan ibunya (yang memangku
anak perempuan duduk di bagian belakang) melempar senyum. Satu motor, satu
keluarga, ada lima orang. Mereka bahagia, aku yang melihatnya juga ikut
bahagia, sontak menjawab, "Iya, hati-hati, ya!"
Cara lain menikmati kemacetan
adalah dengan berjalan kaki menuntun sepeda. Dalam setiap langkah dan putaran
roda, selalu muncul percikan-percikan ide di kepala, entah itu ide menulis, ide
berkegiatan dengan anak-anak, atau ide perjalanan berikutnya.
Cerita lainnya, ketika salah
ambil jalan, aku membuat video, tiba-tiba ada seorang kakek melintas,
melambaikan tangan ke kamera, berjoget-joget sambil tertawa. Reflek, aku ikut
tertawa. Kalau tidak salah jalan, aku tidak akan menemukan jalan lain untuk kembali
ke rute yang benar. Siapa sangka di jalan lain itu justru bertemu dengan kakek
lucu yang menghiburku.
Sebenarnya, masih banyak
pengalaman lain yang bisa aku uraikan, karena bukan baru sebulan-dua bulan,
atau setahun-dua tahun aku bersepeda atau lari. Dan, bukan hanya seminggu
sekali aku melakukannya. Kalau tidak latihan setiap hari, mana mungkin tiba-tiba
aku kuat bersepeda ratusan KM atau lari puluhan KM. Aku bukan tokoh fiksi
Wonder Woman, tapi aku ini Eurus, adik dari Sherlock Holmes, atau bisa juga aku
ini tokoh Morgan Gillory dalam serial High Potential. Hahaha.
-----
Pada intinya, ketika sudah
mencintai sesuatu, kita tidak hanya menerima bagian baiknya, tapi juga harus
menikmati bagian buruknya dengan melakukan toleransi dan adaptasi. Karena bisa
saja dari bagian yang dianggap buruk itu, justru membantu kita menemukan
kebaikan-kebaikan kecil dari sisi yang lain.
Sama halnya ketika mencintai
atau menikahi seseorang, kita tidak bisa hanya menerima sisi baiknya saja, tapi
harus mampu menerima kekurangannya juga.
Lain cerita kalau sekadar untuk
pelarian, ya! Tentu saja yang dicari hanya bagian enaknya saja. Ehem.
___
Jadi mari pikirkan kembali,
apakah kita melakukannya karena kecintaan atau hanya sekadar pelarian?
Trisna Ari
Ayumika
