Hujan, Tupai, dan Waktu yang Harus Kembali
Kalian
kenal buah kecapi?
Kalau
tak kenal, kenalan dulu, ya. Mana tahu nanti nyaman, lalu berubah jadi sayang. Tapi
kalau sudah sayang, jangan berharap lebih, supaya tak kecewa. Kalau mau
berharap lebih, pastikan dia memiliki perasaan yang sama, jangan sampai kamu
excited sendiri. Tak kenal maka tak sayang, sudah kenal belum tentu bisa saling
sayang.
Lanjut ya....
Sekarang aku sedang berdiri di
bawah rindang pohonnya. Menikmati angin yang bertiup lembut membawa bau hujan.
Kuhirup dalam-dalam udara sejuk ini sambil membayangkan diriku menjadi
Tinkerbell. Hinggap dari satu pohon ke pohon lain, bersenandung riang, menebarkan
serbuk peri, hingga semua yang di sekitarku ikut menari bersamaku.
Khayalanku buyar ketika buah
kecapi mendarat di kepala. Aku reflek menengok ke atas. Ah, beberapa tupai!
Mataku dengan awas mengamati mereka. "Lucu sekali! Rasanya ingin bergabung
dengan kalian," kataku bersemangat.
Seolah mengerti apa yang
kuucapkan, seekor tupai melaju turun, lalu berhenti tepat di ujung sepatuku.
Mulut kecilnya bergerak-gerak seperti sedang mengatakan sesuatu. Ah, tidak,
tidak mungkin.
Tapi..., tunggu!
Aku berjongkok, mendekatkan
telingaku pada makhluk kecil ini. Ah, benar, dia bisa bicara. Aku mendengarnya,
sungguh! Walau tidak terlalu jelas.
"Kau mengatakan sesuatu?
Kau bilang apa?" tanyaku penuh rasa penasaran.
Aku mencoba menyentuhnya dengan
ujung telunjuk. Dia membaui jariku, kemudian naik menyusuri tangan hingga bahu,
mendekatkan tubuh kecilnya ke telingaku. Mungkinkah dia ingin membisikkan
sesuatu? Sepertinya begitu.
Tubuhku membeku. Aku khawatir
sedikit gerakan akan membuatnya lari, atau malah mencakar wajahku.
"Jadi, ini adegan lucu
atau berbahaya? Kenapa kau naik ke bahuku? Jangan buang air, ya!" kataku
sambil memejamkan mata.
"Jangan lari lagi, mendung
ini membawa hujan, tapi hujan akan segera selesai, waktunya kembali."
Aku mengernyitkan dahi lalu
menoleh ke arahnya. "Kau bilang apa? Kau bicara? Sungguh? Bisa kau
ulangi?" ucapku terbata-bata.
"Kau tuli?" jawabnya
sambil menarik telingaku.
"Aw! Hentikan, itu
menyakitiku! Aku hanya terkejut. Bagaimana mungkin hewan bisa berbicara bahasa
manusia?"
"Aku tidak berbicara
bahasa manusia," ucapnya sambil melompat ke tanah.
"Tapi aku mendengarmu! Aku
mengerti ucapanmu," teriakku bersemangat, kegirangan.
"Mungkin kau sudah
gila!"
Tupai itu segera pergi,
menghilang di antara serasah daun.
Aku masih berjongkok di tempat
yang sama. Memastikan bahwa apa yang baru saja terjadi bukan imajinasi.
Tentu saja ini bukan imajinasi.
Imajinasiku menjadi Tinkerbell, tinker fairy yang ahli menciptakan alat,
membangun dan memperbaiki. Bukan berbicara dengan seekor tupai! Aku tidak gila!
Aku berdiri, melemparkan
pandanganku ke beberapa pohon kecapi di hutan kota ini. Rintik hujan mendarat
di dahiku. Ah, aku harus segera kembali ke kantor.
Kantor? Iya, ini siang hari,
jam istirahat kantor. Tidak seperti kebanyakan orang yang melakukan santap
siang, aku lebih memilih memanfaatkan waktu yang singkat ini untuk lari atau
jogging, mengunjungi taman atau hutan kota yang tidak jauh dari jangkauan.
Aku kembali berlari. Hujan
semakin deras. Berteduh? Oh, tentu tidak. Aku sangat menikmati saat-saat
seperti ini, berlarian sambil main hujan-hujanan, seperti yang dilakukan
anak-anak.
Seorang teman pernah bilang,
lari sambil hujan-hujanan bisa membuat sakit, dan aku hanya menanggapinya
dengan tawa. Padahal yang membuat sakit bukan lari sambil hujan-hujanan, tapi
lari sambil berharap dikejar, ketika menoleh ke belakang ternyata tidak ada
yang mengejar.
Terlalu menikmati, aku tak
sadar sudah sampai di kantor dengan kondisi basah, sepatu bermandikan lumpur,
dan senyum merekah bersama selesainya hujan. Ah, tupai itu benar, aku harus kembali.
Trisna Ari
Ayumika