Perempuan dan Tabu
Di
bawah payung langit kelabu aku melangkah dengan hati-hati menyusuri hutan,
berjalan di antara semak liar yang tingginya melebihi tubuhku. Sesekali angin
menerpa wajah, membawa bau dedaunan dan tanah yang lembab. Pohon-pohon tua
dengan batangnya yang bengkok menjulang menembus hamparan kabut, akar-akarnya
yang besar seolah sedang mencengkram tanah. Hutan ini tampak sepi, namun hidup.
Semakin
jauh aku masuk ke dalamnya, semakin banyak hal aneh yang kurasakan. Suara
merintih dari bawah batu raksasa, suara langkah di antara serasah, dan suara
angin yang seolah membisikan mantra. Aku tetap melangkah dengan yakin, tak ada
keraguan, apalagi rasa takut. Sampai akhirnya sebuah pohon besar berdaun
keemasan menghentikan langkahku. Daun-daunnya yang berguguran berubah menjadi
peri. “Ya, peri!” seruku. Aku baru saja menyaksikan keajaiban, tubuhku
mematung. Ada rasa bahagia yang tak bisa kujelaskan.
“Apa yang kau lakukan di hutan
terlarang?” tanya Aphrodite kesal sambil menjewer telingaku.
Aku tercekat, sontak berteriak,
“Aw! Sakit! Lepaskan. Kumohon.”
Aphrodite sama sekali tidak
menghiraukan, ia terus menarik telingaku sambil berjalan keluar dari hutan,
“Berani-beraninya kau memanjat dinding pembatas hutan terlarang. Kau tahu
akibatnya jika sampai tertangkap Sang Penjaga? Kau akan dibuang!”
“Maafkan aku, aku berjanji
tidak akan mengulanginya. Tolong berhenti menjewerku,” aku merintih kesakitan.
“Tidak, sampai kita keluar dari
hutan ini. Aku tidak percaya pada gadis liar sepertimu.”
Aku menepis tangan Aphrodite
dari telingaku, “Kau menyebutku liar? Bagaimana dengan perempuan yang bercinta
dengan banyak laki-laki? Aku harus menyebutmu apa?”
Aphrodite terbahak, “Rupanya
kau tahu banyak tentangku. Ayo, kita harus segera keluar dari sini, sebentar
lagi gelap.”
Aphrodite berjalan dengan
sangat cepat sambil menjinjing gaun panjangnya yang terbuat dari untaian
kelopak anggrek kuntul putih dan serat tumbuhan. Rambut panjangnya yang hitam
dihiasi bunga air mata pengantin yang menjuntai hingga ujungnya. Sorot matanya
yang tajam namun lembut menyiratkan keberanian dan kehati-hatian. Meski
tergesa-gesa, ia masih tampak sangat anggun.
“Kita sudah keluar dari hutan
terlarang. Lantas sekarang apa?” tanyaku.
“Turun dari sana sekarang.
Jangan bertingkah liar,” perintah Aphrodite dengan raut kesal.
“Lagi-lagi kau menyebutku liar.
Aku hanya duduk di dinding pembatas hutan terlarang, apa masalahnya?” protesku.
Aphrodite mendelik, “Baiklah,
terserah kau saja, Gadis Liar! Aku peringatkan sekali lagi, jangan pernah masuk
ke hutan terlarang sendirian. Apalagi di hari kelahiran peri. Kau bisa celaka.”
“Kenapa? Menurutku, kelahiran
peri adalah proses yang sangat menakjubkan. Aku pikir seluruh makhluk harus
melihatnya. Lagi pula, kenapa perempuan tidak boleh menginjakan kaki di hutan
terlarang?”
“Karena kita istimewa, kita
dilindungi.”
“Kau percaya? Aku tidak. Itu
hanya omong kosong, tabu,” sanggahku.
Perempuan dianggap sebagai
simbol kesucian, diistimewakan dan dilindungi, tapi bersama dengan itu
terselubung dosa-dosa. Tidak boleh begini, tidak boleh begitu, sehingga
perempuan rentan terhadap dosa dan hukuman. Tabu lebih mengerikan dari
makhluk-makhluk yang ada di hutan terlarang. Ia tidak secara tiba-tiba
menyerang dan melenyapkanmu.
Tabu bergerak perlahan, lahir
dan bertumbuh di dalam lorong waktu yang begitu panjang. Menjalar diam-diam di
antara rasa gelisah, di sela-sela ketidakberdayaan dan keinginan untuk bebas.
Kemudian ia tampil di wajah ramah para nenek, kakek, ibu dan bapak, menjelma
menjadi tradisi yang dipelihara melalui satu mulut ke mulut lain, dari generasi
ke generasi.
Diselipkan dalam doa,
disampaikan dalam nasihat, dibalut dalam cinta, dibungkus dalam candaan, dan
ditancapkan ke dalam diri setiap perempuan. Tabu bukan hukum, namun perempuan
dihukum jika melanggar. Ia menjadi warisan purba yang meninggalkan jejak yang
begitu jelas.
“Sebenarnya, aku juga tidak
percaya,” jawab Aphrodite sambil melirikku, kemudian kami tertawa bersama.
“Kau sama liarnya denganku,”
celaku.
“Harusnya aku yang berkata
begitu, karena aku lebih tua darimu. Ya, kau liar sepertiku. Aku menyukainya.
Namun, kau masih belum bisa membedakan mana keliaran yang membawa kepuasan diri
dan mana yang membahayakan,” jelas Aphrodite.
“Masuk hutan terlarang
membahayakan? Aku baik-baik saja sebelum kau datang dan menjewer telingaku.”
“Konon, jika perempuan memasuki
hutan terlarang kesuciannya akan terenggut dan kehilangan martabatnya, sehingga
Sang Penjaga berhak ‘memiliki’ perempuan tersebut. Maka dari itu, seperti yang
tadi kukatakan, kita istimewa dan dilindung. Dan, benar katamu, itu hanya omong
kosong. Faktanya, kita adalah makhluk yang dianggap berbahaya karena lahir
dengan kekuatan magis, yang dapat mengganggu keseimbangan dunia laki-laki.
Namun hal itu dikaburkan, dibuat seolah mereka yang lebih kuat dan ingin
melindungi kita, menanamkan ke alam bawah sadar bahwa kita adalah makhluk yang
rentan. Padahal jelas karena mereka ingin kuasa,” jelas Aphrodite.
Di beberapa suku di dunia,
perempuan dipercaya memiliki kekuatan magis yang dapat mengancam keselamatan
laki-laki. Perempuan suku Arunta di Australia, dianggap mampu memengaruhi alat
kelamin laki-laki. Jika mereka bernyanyi pada sehelai rumput, kemudian mengarahkan
atau melemparkan rumput itu pada seorang laki-laki, maka laki-laki itu akan
sakit atau kehilangan seluruh alat kelaminnya.
Di sebuah suku di Afrika Timur,
suami-istri tidak tidur bersama, karena napas istri dipercayai bisa melemahkan
suami. Kemudian, di sebuah suku di Afrika Selatan, jika seorang perempuan
menaiki kaki laki-laki yang sedang tidur, laki-laki itu tidak akan bisa
berlari; dari sinilah muncul pantangan melakukan hubungan seksual 2-5 hari
sebelum memancing, berburu, dan berperang. Orang Miri di Bengal tidak
mengizinkan perempuan memakan daging harimau, agar tidak menjadi terlalu kuat.
Orang Watawela Afrika Timur
merahasiakan seni membuat api dari perempuan, agar jangan sampai perempuan
menjadi penguasa mereka. Masyarakat Indian di California menggelar upacara
untuk menjaga agar perempuan tetap tunduk; seorang laki-laki menyamar sebagai
iblis untuk mengintimidasi para perempuan. Bahkan, perempuan yang sedang
menstruasi diliputi banyak tabu; laki-laki yang menyentuh perempuan yang sedang
menstruasi akan mati. Oleh karena itu, di Asia Selatan, mereka diasingkan ke
sebuah gubuk darurat selama periode menstruasi karena dianggap membawa sial.
“Jadi larangan memasuki hutan
ini adalah salah satu upaya untuk melemahkan perempuan. Yang aku dengar, pohon
peri memiliki kekuatan magis. Sama halnya seperti ibu yang sedang melahirkan
bayi, ketika hari kelahiran peri, pohon itu akan mengeluarkan seluruh energinya
yang hanya dapat diserap oleh perempuan, dan dipercayai bisa membuat kita
semakin paripurna. Itulah yang tidak diinginkan laki-laki, sehingga mereka
menciptakan tabu. Tapi aku tidak akan bisa dikendalikan oleh hal semacam itu,
jadi jangan larang aku memasuki hutan terlarang,” sambungku.
Perempuan lahir membawa banyak
luka leluhur bagai api yang mereka simpan dalam genggamnya. Orang-orang
menyebut luka itu lahir dari tabu, yang menjadi pembatas jelas namun tak kasat
mata. Membelenggu kaki dan tangan, membuat kelu lidah, menutup mata, dan
menyumbat telinga perempuan. Dan, aku adalah salah satu perempuan itu.
Namun, aku telah merangkai
ulang serpihan luka, kembali menulis ulang takdirku, meski harus dengan darah
dan air mata. Aku berani menari-nari di antara garis batas (yang dianggap) baik
dan buruk. Di mataku, tabu tak lagi memiliki taring yang bisa menggigit dan
menghisap kehidupan perempuan. Aku berhasil (atau setidaknya sedang berusaha)
lepas dari cengkramannya.
“Yang kau lawan adalah tradisi.
Apa kau siap dibuang?”
“Tentu saja aku tahu
risikonya,” jawabku tegas.
“Ya, melawan tabu memang tidak
mudah. Tapi menjadi diri sendiri jauh lebih penting,” ujar Aphrodite.
“Sepertimu. Dunia mengakui
kemegahanmu, namun mereka tak henti menghakimi sisi liarmu hanya karena kau
perempuan. Kau peduli? Tidak. Aphrodite adalah Aphrodite meski seribu pedang
menancap di punggungmu.”
Kecantikan, ketangguhan dan
kecerdasan menjadi karakter yang membentuk satu citra dalam diri Aphrodite;
MEGAH. Ia bagai bunga liar yang tumbuh dan berkembang dengan bebas di hutan
belantara. Setiap kelopaknya mekar menebarkan aroma memikat, membuat siapa pun
akan datang hingga lupa jalan pulang.
“Perempuan harus menahan hasrat
agar tak dianggap menyimpang, juga menyembunyikan gairahnya agar tak disebut
liar. Aku tidak peduli, dan tetap menjalani hidup sesuai kehendakku," ucap
Aphrodite.
Aphrodite tak pernah membilang
berapa tangan yang pernah menjamahnya, karena setiap sentuhan memberi gairah,
petualangan dan pengalaman. Jiwanya seperti angin, berhembus ke mana pun ia
suka, membawa kesegaran tanpa mengenal ruang dan waktu. Dunia melihatnya sedang
tersesat, namun aku yakin ia sedang mencari, entah itu sesuatu atau seseorang. Dan untuk menemukannya, ia harus
melangkahi banyak tabu.
-----------
14/10/2025
Trisna Ari Ayumika