Makhluk yang Lahir dari Rasa Takut
Aku lupa kapan terakhir kali
bercerita pada kalian tentang petualanganku bersama para peri. Padahal
akhir-akhir ini aku mengunjungi banyak tempat, dan bertemu dengan banyak
makhluk baru yang sangat unik. Tunggu sebentar, sebelum melanjutkan bercerita
aku ingin memarkirkan sepeda. Iya, saat ini aku sedang bersepeda, tanpa teman,
tanpa tujuan. Sekadar berkeliling sambil mematik inspirasi untuk menulis. Ah,
baiklah, sepeda sudah diparkir di tempat yang aman, sekarang aku akan mencari
tempat duduk.
Oh iya, saat ini aku berada di
taman yang sangat sepi. Hanya ada dua lansia di sini, mereka sedang mengobrol,
sesekali tertawa bersama. Mungkin sedang bercerita tentang cucunya, atau
kenangan di masa muda. Kemewahan yang tidak dimiliki semua orang. Dan mungkin
aku juga tidak akan memilikinya. Hahaha. Baiklah, lupakan soal itu.
Akhirnya, aku mendapatkan
tempat duduk yang nyaman, di bawah pohon rindang. Aahhh..., rasanya sejuk
sekali. Baiklah, aku akan mulai bercerita tentang petualanganku bersama
Persephone, Peri Dunia Bawah, yang memberiku anugrah imajinasi. Tapi..., aku
bingung ingin memulai cerita ini dari mana.
Ah, dari sini saja.
Aku melangkah diiringi cahaya
terbatas dari rembulan. Jejakku perlahan meninggalkan berisiknya gemuruh
kehidupan menuju keheningan yang tak bisa dibahasakan. Setiap liku jalan yang
kulalui menguak banyak luka yang dibebat bayang-bayang penderitaan. Waktu
seolah membeku, membungkam harapan yang perlahan mulai pudar.
Persephone melirikku, senyumnya
yang tersimpul seperti siap mencekik siapa pun yang melihatnya, “Kenapa? Kau
takut?”
Aku menggeleng. Tak ada yang
kurasakan. Hampa. Di tempat ini aku melihat jiwa-jiwa yang tersesat, atau
mungkin memang tidak pernah memiliki tujuan. Pohon Taru Menyan berbaris di
sepanjang jalan, menyebarkan aroma haru dan air mata.
“Kau tahu, pohon ini bisa
menetralisir bau mayat,” ucap Persephone.
“Tentu saja. Pohon ini
mengingatkanku pada sebuah desa di dunia manusia,” sahutku.
“Desa Trunyan, di Bali. Manusia
yang mati dalam kondisi tertentu akan dibaringkan dan dibiarkan terurai secara
alami,” jelas Persephone.
Aku mengangguk, “Di sana itu
adalah tradisi, sedangkan di sini aku mencium bau tragedi.”
Persephone terbahak, “Kau
berlebihan. Ini bagian dari kehidupan. Tak ada kehidupan tanpa tragedi.”
Ya, benar juga apa yang
dikatakan Persephone. Bahkan kehidupan di Bumi diawali dengan tragedi. Juga
kehidupan makhluk mengerikan penghuni Taru Menyan ini.
"Namanya Aaseters,"
bisik Persephone seolah tahu isi kepalaku.
Aku bergumam, "Ya, aku
pernah mendengarnya dari Tinkerbell."
Aaseters sangat mengerikan.
Hidung mereka seperti babi, mata menyala bak kobaran api, moncongnya dipenuhi
gigi yang konon kekuatan gigitannya setara dengan buaya air asin, sehingga bisa
mengoyak apa pun. Aaseters tidak pernah berhenti berburu, mereka selalu
bergerak mencari manusia yang mati. Bahkan sebelum kematian itu datang,
Aaseters sudah bisa mengendusnya. Tak kenal siang atau malam, naluri berpesta
di atas bangkai selalu menggebu.
Kabut
mulai turun, udara semakin dingin. Suara langkah kaki di antara
serasah daun dan gesekan ranting seolah memberi pertanda kedatangan Aaseters.
Sesekali aku mendapati mereka mengintip dari balik batang besar Taru Menyan.
Konon, Aaseters takut pada manusia hidup, bahkan ketika didekati mereka segera
menjauh.
"Kenapa Aaseters takut
pada manusia hidup?" tanyaku pada Persephone.
"Karena manusia hidup
berpikir, bergerak, bersuara. Aaseters hanya berani pada manusia tak berdaya,
bahkan yang masih bernyawa."
Aku menoleh pada Persephone,
"Manusia bernyawa tapi tak berdaya?"
"Ya, manusia-manusia putus
asa dan pengecut. Mereka akan lebih mudah dikendalikan. Tak ada bedanya dengan
yang mati, bahkan lebih menyedihkan. Hahaha," jelas Persephone. Tawa
perempuan ini terasa begitu getir, hatinya seperti menyimpan bara.
"Aku pernah mendengar
kalau makhluk-makhluk ini lahir dari rasa takut," ucapku lirih.
Rasa takut yang awalnya hanya
seperti bayangan samar di hati menjelma menjadi ragu, membuat telapak tangan
dan kaki membeku, napas tersengal dan keringat dingin mengalir deras. Rasa yang
selalu dipendam itu dibiarkan tumbuh di ruang yang gelap. Hingga doa mulai
berubah menjadi kutukan. Kutukan menjelma serupa bayangan diri, yang berjalan
di halaman rumah ketika tengah malam, atau berdiri di luar jendela kamar sambil
mengetuk-ngetuk. Akhirnya, rasa takut menjadi nyata dalam wujud yang
mengerikan, Aaseters. Mereka lahir dari rasa takut manusia, dan kini manusia
menjadi tawanan dari makhluk ciptaannya sendiri.
"Aku pikir kau sudah
mendapat banyak pelajaran dari perjalanan singkat hari ini. Jadi, kurasa
sekarang kau harus pulang." Persephone menghentikan langkahnya.
Langkahku ikut terhenti, aku
protes, "Tunggu, apa maksudmu? Secepat ini?"
"Belum waktunya untukmu
tahu terlalu banyak tentang Dunia Bawah. Lagi pula, bukankah hari ini kau juga
ada pertemuan dengan Aphrodite, si Peri Cinta? Ayo, aku akan membawamu
kembali."
"Baiklah."
Persephone mengusap kedua
mataku dengan telapak tangannya. Kami kembali ke dimensi lain.
Jadi, begitulah cerita
perjalanan singkat dengan Peri Dunia Bawah. Meski ia tidak menjelaskan apa yang
bisa kupelajari dari perjalanan kemarin, tapi aku mendapatkan kesimpulan
sendiri. Persephone ingin aku terus hidup. Bukan hanya sekadar hidup, tapi hidup
dengan berani dan berdaya. Karena aku terlalu banyak menghabiskan waktu di
dunia manusia, mungkin membuat Persephone khawatir aku akan menjadi seperti
kebanyakan manusia, yang bahkan untuk berimajinasi saja mereka takut.
Setelah kupikir-pikir, semua
peri yang pernah kuceritakan ingin menyampaikan hal yang sama padaku, hanya
saja mereka melakukannya dengan cara berbeda, supaya aku dapat melihat dari
banyak sudut pandang.
Baiklah, aku harus segera
pulang sebelum gelap, karena aku lupa memasang lampu di sepeda. Sampai jumpa di cerita
berikutnya.
Trisna Ari
Ayumika