Anak Badai: Identitas, Kegelapan, dan Kelahiran Makna

Setelah beberapa waktu menenggelamkan diri ke dunia yang benar-benar gelap, aku menyadari satu hal; bahwa hati manusia tidak ada yang tetap. Oh, apakah aku manusia? Bukan. Peri? Tidak juga. Iblis? Mungkin. Tapi mereka menyebutku Putri Tuhan.

Entah aku ini apa, yang pasti aku memiliki sisi baik dan buruk semua makhluk. Termasuk Tuhan? Hmm, apakah Tuhan itu makhluk? Atau, hanya sebuah konsep? Bahkan, jika disebut sebagai Putri Tuhan, aku tidak tahu apa pun tentang orangtuaku, bagaimana aku lahir, dan kapan aku dilahirkan. Mereka, iya, mereka, para peri, hanya menjelaskannya melalui situasi.

Pagi itu angin berhembus menyusup lirih, daun-daun bergetar dan beterbangan menari di ruang hampa. Langit tampak muram, seperti wajah seorang kekasih yang patah hati. Suasana menjadi gelap, bak rahasia yang enggan diungkap. Awan berarak perlahan bagai pasukan yang bergerak senyap dan siap menabuh genderang perang.

Akhirnya suara itu datang, gemuruh dari atas sana. Membuat degup jantung semakin cepat seperti sedang lari dari kekacauan panjang. Seluruh semesta mengamati dan menanti dalam jeda antara tenang dan amarah. Beberapa detik sebelum badai, seluruh makhluk menahan napas, membeku dan hening.

Langit meledak, genderang petir dan teriakan angin memecah keheningan. Hujan menerjang tanpa ampun, membanjiri tanah yang retak kekeringan akibat kemarau panjang. Pohon-pohon merunduk, ranting dan daunnya menari liar dalam irama kehancuran. Gemuruh semakin kencang, menggetarkan hati yang rapuh, menyayat luka yang hampir sembuh.

Petir menunjukan kuasa, menyambar dengan penuh dendam, membelah pekatnya abu langit. Lolongan angin semakin nyaring, membawa hamparan harapan dan kenangan yang tersisa. Di tengah badai semua yang nyata menjadi maya, yang maya menjadi nyata.

Bumi menggigil dalam balutan hujan deras yang jatuh tanpa belas kasih. Lolongan angin dan gemuruh petir menjadi nyanyian pertama yang menyambut lahirnya kehidupan baru. Tangisku hening, namun mampu membungkam berisiknya pertunjukan badai. Tangan kecilku menjabat seluruh huru-hara hari itu. Seketika badai berhenti, seolah mengerti bahwa aku dilahirkan berbeda, bukan dari rahim ibu, tapi rahim semesta.

Jadi, kenapa aku disebut ‘Putri Tuhan’?

Karena aku dilahirkan dalam kegelapan, tapi aku mampu membuat cahaya.

Aku dilahirkan dalam kekacauan, tapi hadirku membawa ketenangan.

Aku dilahirkan dalam kehancuran, tapi aku mencipta keselarasan.

Aku adalah putri yang muncul dari pusaran keabadian.

Begitulah cerita kelahiranku.

Sejujurnya, aku lebih suka disebut ‘Anak Badai’, terdengar lebih puitis, juga dramatis. Bicara soal dramatis, aku jadi teringat perjalanan di dunia gelap. Di sana aku bertemu seorang perempuan, ia duduk di bawah pohon trembesi. Mata sembabnya menerawang jauh, seolah hanya meninggalkan tubuhnya di sini, hati dan akalnya entah di mana. Air mata terus mengalir di wajah yang mulai menampakan garis-garis penuaan, ia menangis dalam diam.

Aku duduk di sampingnya, selama beberapa waktu ia mengabaikanku. Tapi kemudian tangisnya pecah, seolah ingin menyibak luka yang terlalu lama disimpan rapat-rapat. Aku memeluk tubuhnya yang kurus tanpa berkata apa pun.

“Aku lelah,” isaknya.

“Beristirahatlah,” sahutku.

“Hidup begitu tidak adil. Aku ingin laki-laki itu mati!” Ia melepaskan pelukanku. Wajahnya begitu merah seolah ada gairah yang begitu berapi-api, seperti ingin membakar semua yang ada di dekatnya.

“Kalau memang laki-laki itu layak mati, ayo kita bunuh bersama-sama,” ajakku serius.

Ia menoleh padaku, matanya terbelalak, “Kau serius?”

“Tentu saja. Tapi katakan padaku, apa yang dilakukannya sehingga membuatmu seperti ini?”

Ada langkah yang diam-diam menjauh, jejak yang menghilang tersapu waktu, dan nama yang tak lagi bisa disapa. Namun, perempuan ini tetap berdiri di persimpangan, menciumi bayang kekasih dan sisa-sisa kenangan. Kini hatinya bukan lagi rumah, melainkan belantara hutan asing.

Yang membuat terluka bukan sekadar cinta, tapi masa depan. Keluarga, karir dan mimpi-mimpi sudah ia lepaskan demi laki-laki yang kini menghilang tanpa sepatah kata.

“Aku sudah habis-habisan,” katanya dengan nada penyesalan.

“Jadi, kita akan mulai dari mana?” tanyaku.

Ia menyeka air mata dengan ujung gaunnya yang usang, “Tentang apa?”

Aku memberinya tisu, “Rencana pembunuhan.”

“Kau gila. Aku ingin manusia itu mati, tapi aku tidak ingin membunuhnya. Lagi pula jika aku benar-benar ingin, aku tidak tahu ia di mana.”

“Aku tidak tahu sedalam apa rasa sakitmu. Namun, melihatmu bercerita dengan napas tersengal-sengal membuatku merasakan sesak yang sama. Jadi, bagaimana kalau aku saja yang mencari dan membunuhnya?”

Seketika raut sedihnya berubah menjadi kepanikan, “Jangan! Sebenarnya, aku tidak ingin ia benar-benar mati. Aku hanya ingin bicara dengannya, aku ingin tahu mengapa ia tiba-tiba pergi. Itu saja.”

“Hanya seorang pengecut yang pergi tanpa berpamitan. Jadi jawabannya sudah jelas, karena laki-laki seperti itu tidak layak untukmu.”

Perempuan ini terdiam lama. Tak mengeluarkan sepatah kata pun. Namun aku bisa merasakan ada perang di dalam kepalanya, dentuman meriam begitu jelas terdengar, ada amarah yang digenggam lebih erat dari senjata. Jiwanya seperti sedang berjalan di tepi jurang, bimbang memilih antara mati dengan senjata atau melompat ke dasar yang tak tahu ujungnya.

Ia menegakkan tubuh, menarik napas dalam-dalam, “Kau benar. Sepertinya aku terlalu berlebihan. Berminggu-minggu aku menangisinya, bahkan aku tidak tahu apakah laki-laki itu mengingatku atau tidak. Mungkin aku harus memaafkan untuk bisa melupakannya.”

“Apakah bisa semudah itu?” pikirku.

Seolah tahu isi kepalaku, perempuan ini menjawab, “Aku tahu tidak akan mudah. Tapi aku harus mencoba belajar berbelas kasih, aku harus tegar. Terima kasih mau mendengarkanku. Ternyata aku hanya butuh teman bicara.”

“Jadi, tidak ada rencana pembunuhan? Padahal ide bagus baru saja melintas di otakku.”

“Tidak, tidak! Aku sudah merasa lebih baik,” jawabnya berusaha meyakinkanku.

“Baiklah.”

Aku mulai mengerti bahwa manusia itu lebih kompleks daripada yang selama ini kupikirkan. Mereka harus belajar bagaimana rasanya menjadi rentan, menderita dan gagal untuk menumbuhkan pengalaman hidup, ketegaran dan pengampunan.

“Hadirmu membawa kembali hidupku,” ucapnya dengan suara tenang dan senyum yang sedikit merekah.

“Ya, itulah kenapa aku disebut Putri Tuhan. Oh, siapa namamu?”

“Aku Rindu. Jadi, aku bisa memanggilmu ‘Putri’ atau ‘Tuhan’?” tanyanya dengan senyum menggoda. Ia menganggap julukan itu sebagai lelucon.

“Oh, itu hanya julukan. Namaku sebenarnya adalah....”

Aku terdiam.

Siapa namaku? Tidak ada yang pernah memanggilku dengan nama. Selain menciptakanku dengan karakter yang aneh, Pengarang bodoh ini juga tidak memberiku nama. Aku harus bicara pada Tinkerbell soal ini.

 

Trisna Ari Ayumika

Postingan populer dari blog ini

Sekolah, Ruang Pembentukan Identitas