Keyakinan, Rasionalitas, dan Keteguhan Diri
Aku
sering berpikir, untuk alasan apa kita hidup, kenapa kita diciptakan sebagai
diri kita yang sekarang, dan apa maksud Sang Pencipta mempertemukan kita pada
sesuatu, yang bahkan sebenarnya tidak ingin kita temui. Ketika aku
mempertanyakan hal itu pada beberapa teman, alih-alih menjawab, mereka justru
menganggap pikiranku aneh karena mempertanyakan apa yang sudah menjadi
ketetapan.
Padahal,
apa yang sekarang dianggap sebagai ketetapan adalah sesuatu yang awalnya tidak
atau belum tetap. Lantas, kenapa mempertanyakan ‘prosesnya’ dianggap tidak
biasa? Apakah ‘bertanya’ sudah menjadi hal yang tabu? Mungkinkah karena selama
ini kita hanya diajarkan untuk menerima dan melaksanakan, kemudian menarasikan
apa yang sudah terjadi sebagai kehendak Sang Pencipta sehingga tidak perlu
dipertanyakan, cukup diyakini dan dijalani?
Aku tidak bisa menerima sesuatu
sebagai kebenaran hanya karena mayoritas mengatakan demikian, seperti aku
percaya pada Sang Pencipta hanya karena banyak orang yang meyakininya, atau aku
percaya pada agama hanya karena banyak penganutnya. Aku tidak bisa meyakini
sesuatu atas dasar ketundukan, kuasa, kekuatan atau otoritas. Karena, keyakinan
seperti itu memahami gagasan bukan berdasar pada hasil observasi, pemikiran dan
pengalamanku sendiri.
Itulah kenapa, menurutku, kita
harus bisa membedakan antara keyakinan rasional dan irasional. Jika keyakinan
irasional adalah penerimaan sesuatu sebagai kebenaran berdasarkan kesepakatan
massal, maka keyakinan rasional berakar dari aktivitas intelektual dan
emosional yang produktif. Dalam pandangan Weber, rasionalisasi bersifat
intelektual, yang mengacu secara khusus pada ide-ide eksistensi, teleologis,
dan normatif. Di dalamnya, rasionalisasi meletakkan sejumlah kewajiban pada
manusia terkait perilaku yang seharusnya dalam menjalani hidup. Selain itu,
rasionalisasi juga mengandung konsep komitmen motivasi, yang artinya kesiapan
untuk meletakkan kepentingan pribadi demi melayani ide-ide, hal ini dibutuhkan
untuk mengimplementasikan pola-pola sosial dan perilaku.
Selaras dengan itu, Nietzsche
menganggap keyakinan adalah satu dari syarat-syarat eksistensi manusia. Manusia
harus bertanggung jawab atas tindakannya, dan hidup sesuai dengan nilai-nilai
yang diciptakannya sendiri, termasuk dalam hal berjanji. Dalam konteks ini,
berjanji menjadi tindakan yang memiliki nilai mendalam, karena menyangkut
komitmen untuk melakukan sesuatu di masa mendatang. Jadi, keyakinan manusia
bisa ‘diukur’ dari kepastiannya untuk berjanji.
Pada ranah hubungan antar
manusia, keyakinan merupakan kualitas yang harus dijaga, baik dalam pertemanan
atau cinta. Hanya manusia yang memiliki keyakinan pada diri sendiri yang mampu
untuk memiliki keyakinan pada orang lain. Berkeyakinan pada orang lain artinya
memiliki keyakinan pada potensi orang tersebut.
Dalam cara yang sama kita juga
harus memiliki keyakinan pada diri sendiri. Sadar akan eksistensi diri dan inti
kepribadian, yang dapat bertahan sepanjang hidup apa pun situasinya, atau dapat
disebut sebagai keteguhan diri. Tanpa itu, identitas kita rentan terancam dan
cenderung bergantung pada persetujuan orang lain, atau kesepakatan massal.
Jadi, bukan sekadar meyakini
sesuatu, tapi harus ada kualitas kepastian dan keteguhan yang dimiliki dari apa
yang diyakini. Sebab, keyakinan adalah karakter yang meliputi seluruh
kepribadian, pengalaman pikiran dan perasaan.
Trisna Ari
Ayumika