Postingan

Memaknai 'Kartini' dalam Kesederhanaan

Kalau ditanya bagaimana aku memaknai Hari Kartini (meski sebenarnya tidak ada yang bertanya) jawabanku sederhana. Sesederhana caraku merayakannya dalam keseharian. Bagiku, ini bukan tentang kebaya atau seremoni, melainkan tentang menghadirkan nilai-nilai Kartini secara konsisten dan apa adanya dalam cara hidupku. Semua itu hadir melalui pilihan-pilihan kecil yang sering dianggap sepele, padahal bermakna bagiku. Memang tidak mudah, tetapi yang utama adalah terus belajar tanpa merasa cukup. Aku membaca berbagai buku untuk mengisi kekosongan, mendengarkan kisah orang lain tanpa menyela, berdiskusi tentang hal-hal yang kusukai, dan menuangkan kegelisahan dari proses itu ke dalam tulisan. Inilah bentuk belajarku, bukan untuk mengejar gelar, melainkan untuk memahami hidup dengan lebih tenang. Aku tidak merasa harus menjadi hebat, tidak perlu menunggu posisi atau kekuasaan untuk berbuat baik, berani berpikir terbuka meski tumbuh di lingkungan yang kolot, dan berusaha selalu menghargai prose...

Harmoni yang Mengekang: Catatan tentang Ketimpangan Peran dalam Rumah Tangga

Sejak menikah dengan Rinto, Geni belajar bahwa ada banyak hal yang dianggap tidak perlu diperdebatkan. Di rumah mereka, Rinto memutuskan, Geni mengikuti. Aturan itu tidak tertulis dan tidak pernah terucap, tetapi semua tahu bagaimana cara kerjanya.  Di awal, Geni tidak merasa keberatan karena mencintai Rinto. Ia percaya bahwa mencintai berarti menyesuaikan diri, dan menjaga harmoni lebih penting daripada membuktikan benar atau salah. Lagi pula, Rinto tidak pernah membentak, tidak memukul, dan tidak berselingkuh. Rinto hanya suka mengatur. Ya, bagi banyak orang, itu sudah cukup untuk disebut "baik".  Ketika Geni ingin bekerja kembali setelah anak mereka mulai bersekolah, Rinto tidak langsung melarang. Ia hanya berkata sinis, "Buat apa? Uangku cukup." Kalimat itu terdengar seperti bentuk tanggung jawab. Namun di telinga Geni, terdengar seperti tembok yang tinggi.  "Bukan soal uang, Mas," kata Geni waktu itu. "Aku ingin punya sesuatu untuk diriku sendiri...

Aku Berhenti Menunggu

Aku selalu tahu bagaimana rasanya menunggu. Bukan menunggu yang manis seperti dalam novel percintaan remaja, yang dipenuhi pesan-pesan singkat penuh rindu atau suara hangat dari panggilan telepon menjelang tidur. Menungguku adalah jenis yang lain. Sunyi, panjang, dan seringkali membuat bertanya apakah aku sedang menunggu sesuatu yang memang akan datang. Atau, sesuatu yang sejak awal tidak pernah benar-benar ada. Padahal, dulu tidak seperti ini.  Di awal kami berhubungan, ia adalah seseorang yang begitu hadir. Ponselku hampir tak pernah benar-benar sepi karena namanya selalu muncul di layar. Ia rutin mengirim pesan hanya untuk menanyakan hal-hal sederhana.  Jika aku terlambat membalas, ia akan mengirim pesan lagi, dan lagi. Bahkan langsung menelepon. Jika aku tidak mengangkat, ia akan mencoba beberapa kali, seolah memastikan aku benar-benar tidak dalam masalah.  Saat itu, aku tidak pernah merasa sendirian. Tidak pernah merasa harus menunggu. Karena sebelum aku sempat merin...

Grey Man yang Retak: Kisah Eddy dan Ilusi Kejantanan (Analisis Model Perilaku Maskulinitas Hegemonik)

Cerita ini bertutur tentang Eddy.  Bukan Eddy Tansil tentu saja, tapi Eddy Burung.  Jangan bertanya dulu, kenapa ada embel-embel ’Burung’ di belakangnya. Baca sampai selesai, maka kalian akan mengerti. ---------- Di sebuah kota imajiner yang tidak terlalu besar tapi cukup penuh gosip, hidup seorang laki-laki bernama Eddy. Menurut pengakuannya sendiri, Eddy adalah “paket lengkap”: misterius, keren, dan berbahaya. Bahkan tanpa ragu, dia menyebut dirinya sebagai Grey Man. Eddy sudah menikah dengan seorang perempuan yang katanya sangat dia cintai. Namun, entah kenapa pernikahannya dilakukan secara diam-diam, mungkin dia merasa status “setengah rahasia” lebih fleksibel untuk hobi utamanya: mengejar banyak perempuan. Untungnya hubungan underground tersebut tidak berlangsung lama, sehingga perempuan yang tidak beruntung itu bisa lepas dari jeratan Eddy. Bagi Eddy, dunia ini seperti buffet. Ada gadis, janda, bahkan istri orang, semuanya dia dekati dengan percaya diri tingkat d...

Fenomena Identitas Perempuan di Sekitar Anak

Aku baru menyadari bahwa Rona sudah tumbuh besar ketika ia melontarkan beberapa pertanyaan yang, jujur saja, tidak pernah terlintas dalam pikiranku ketika aku seusianya. ----- Pertanyaan pertama, kenapa kebanyakan perempuan bergantung pada laki-laki? Aku menjelaskan dengan sederhana, "Di budaya kita, perempuan dan laki-laki dibiasakan punya tugas yang berbeda. Laki-laki bekerja di luar rumah untuk mencari uang, sementara perempuan lebih sering di rumah mengurus keluarga. Jadi, kelihatannya perempuan bergantung pada laki-laki. Gimana nggak bergantung, perempuan nggak boleh sekolah tinggi, nggak boleh bekerja, ya otomatis mereka lebih bergantung ke laki-laki secara ekonomi. Juga ada tekanan sosial kalau laki-laki harus menafkahi, sementara perempuan (boleh) bergantung. Anggapan bahwa perempuan lebih lemah dibanding laki-laki juga membentuk pandangan 'perempuan selalu bergantung pada laki-laki'. Padahal, kalau dikasih kesempatan yang sama, perempuan juga bisa mandiri se...

Perempuan, Seksualitas, dan Kuasa

Globalisasi tidak hanya mengubah tatanan ekonomi, tetapi juga mengguncang norma-norma lama tentang seksualitas. Hal-hal yang dulu dianggap urusan privat kini bergeser ke ruang publik, sehingga batas antara keduanya mulai kabur. Pilihan moral hingga seksualitas tidak lagi hanya persoalan personal, melainkan menjadi arena baru pertarungan nilai dalam kehidupan sosial dan politik sehari-hari. Struktur-struktur yang selama ini diyakini memberi rasa aman menjadi semakin rapuh, hingga melahirkan kecemasan sosial. Dalam situasi tersebut, masyarakat mulai mencari penjelasan (atau kambing hitam?), dan cenderung mudah dialihkan pada isu-isu emosional dan sensitif, seperti seksualitas. Sebab, masyarakat yang mengalami ketidakpastian, paling mudah mencari stabilitas melalui kontrol moral. Ironisnya, sejarah panjang pembentukan sistem sosial hampir selalu menempatkan laki-laki sebagai pusat otoritas. Kemudian, kelompok yang memiliki otoritas tersebut mendefinisikan seksualitas sebagai alat pengat...

Tubuh Perempuan dan Ketakutan Sosial

Tubuh perempuan kerap menjadi objek pengawasan; dinilai, dibandingkan, bahkan dikoreksi.  Seolah-olah mereka tidak pernah benar-benar berdaulat atas tubuhnya sendiri. Bahkan ketika perempuan menunjukkan kekuatan fisik, hal itu sering dipersepsikan sebagai ancaman terhadap tatanan yang mapan. Sejak kecil, sikap dan tubuh perempuan dibentuk oleh ekspektasi tentang bagaimana mereka "seharusnya" menjadi. Ada aturan tidak tertulis yang menentukan aktivitas mana yang dianggap pantas, mengatur bagaimana tubuh boleh ditampilkan, dan mempersempit ruang eksplorasi bahkan sebelum potensi itu berkembang. Perempuan diharapkan tidak terlihat kasar, tidak terlalu aktif, serta memiliki tubuh yang langsing atau kecil dengan lekuk lembut yang dinilai sesuai standar sosial. Akibatnya, banyak perempuan tumbuh tanpa pernah benar-benar diberi ruang untuk mencoba menjadi berbeda. Padangan bahwa tubuh perempuan secara kodrati lebih lemah dan tidak dirancang untuk aktivitas berat sering kali dite...