Postingan

𝐈𝐧𝐭𝐞𝐫𝐧𝐚𝐥𝐢𝐬𝐚𝐬𝐢, 𝐇𝐢𝐞𝐫𝐚𝐫𝐤𝐢, 𝐝𝐚𝐧 𝐏𝐞𝐧𝐠𝐞𝐥𝐨𝐥𝐚𝐚𝐧 𝐊𝐨𝐧𝐟𝐥𝐢𝐤 𝐝𝐚𝐥𝐚𝐦 𝐊𝐞𝐥𝐮𝐚𝐫𝐠𝐚 𝐉𝐚𝐰𝐚

Gambar
𝑲𝒂𝒕𝒂𝒏𝒚𝒂 , 𝒐𝒓𝒂𝒏𝒈 𝑱𝒂𝒘𝒂 𝒃𝒂𝒏𝒚𝒂𝒌 𝒎𝒆𝒏𝒚𝒊𝒎𝒑𝒂𝒏 𝒍𝒖𝒌𝒂 . 𝑨𝒑𝒂 𝒊𝒚𝒂𝒂𝒂 ? Pembentukan kepribadian dalam keluarga Jawa dapat dipahami sebagai proses sosial melalui internalisasi nilai, norma, dan pola hubungan sejak masa kanak-kanak. Nilai 𝑤𝑒𝑑𝑖 , 𝑖𝑠𝑖𝑛 , sungkan, hormat, dan rukun tidak hanya menjadi pedoman etika, tetapi juga mengatur cara individu menempatkan diri dalam hubungan sosial. Anak dibiasakan memahami kapan harus takut, malu, menahan diri, menghormati orang lain, serta menghindari pertentangan terbuka. Dengan demikian, keluarga menjadi ruang awal bagi individu untuk mempelajari dan mengalami tata hubungan sosial. Proses tersebut bekerja sebagai mekanisme kontrol sosial melalui pembiasaan sopan santun, kepatuhan, arahan, koreksi, dan teguran. Pada awalnya kontrol bersifat eksternal karena orang tua mengarahkan perilaku anak. Seiring waktu kontrol tersebut terinternalisasi, sehingga anak mulai mengawasi perilakunya sendiri berdasarkan pe...

𝐌𝐞𝐦𝐛𝐚𝐜𝐚 𝐎𝐭𝐨𝐫𝐢𝐭𝐚𝐬 𝐊𝐞𝐚𝐠𝐚𝐦𝐚𝐚𝐧: 𝐑𝐞𝐥𝐚𝐬𝐢 𝐊𝐮𝐚𝐬𝐚 𝐝𝐚𝐧 𝐊𝐞𝐫𝐞𝐧𝐭𝐚𝐧𝐚𝐧

Gambar
Gelar, jabatan, dan peran sosial tertentu dapat membuat seseorang dipercaya, dihormati, dan dipandang memiliki kualitas moral. Namun, semua itu tidak selalu mencerminkan siapa seseorang sebenarnya. Kebesaran yang tampak dari luar dapat membentuk citra tentang kehormatan dan kebaikan, tetapi citra tersebut belum tentu bertahan ketika seseorang berhadapan dengan orang lain dalam relasi yang lebih dekat dan setara. Hal ini menjadi penting dalam memahami kasus seorang pemuka agama yang menggunakan status dan otoritas keagamaannya untuk memanipulasi. Persoalannya bukan hanya terletak pada kegagalan menjalankan peran, melainkan menyangkut penyalahgunaan kepercayaan dan ketimpangan kuasa yang memungkinkan kedudukan tersebut digunakan untuk kepentingan pribadi. Pemuka agama memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh orang biasa, yakni otoritas moral yang melekat pada posisi sosialnya. Ia tidak hanya hadir sebagai individu, tetapi juga sebagai sosok yang dipercaya memiliki pengetahuan agama, keb...

Memaknai 'Kartini' dalam Kesederhanaan

Kalau ditanya bagaimana aku memaknai Hari Kartini (meski sebenarnya tidak ada yang bertanya) jawabanku sederhana. Sesederhana caraku merayakannya dalam keseharian. Bagiku, ini bukan tentang kebaya atau seremoni, melainkan tentang menghadirkan nilai-nilai Kartini secara konsisten dan apa adanya dalam cara hidupku. Semua itu hadir melalui pilihan-pilihan kecil yang sering dianggap sepele, padahal bermakna bagiku. Memang tidak mudah, tetapi yang utama adalah terus belajar tanpa merasa cukup. Aku membaca berbagai buku untuk mengisi kekosongan, mendengarkan kisah orang lain tanpa menyela, berdiskusi tentang hal-hal yang kusukai, dan menuangkan kegelisahan dari proses itu ke dalam tulisan. Inilah bentuk belajarku, bukan untuk mengejar gelar, melainkan untuk memahami hidup dengan lebih tenang. Aku tidak merasa harus menjadi hebat, tidak perlu menunggu posisi atau kekuasaan untuk berbuat baik, berani berpikir terbuka meski tumbuh di lingkungan yang kolot, dan berusaha selalu menghargai prose...

Harmoni yang Mengekang: Catatan tentang Ketimpangan Peran dalam Rumah Tangga

Sejak menikah dengan Rinto, Geni belajar bahwa ada banyak hal yang dianggap tidak perlu diperdebatkan. Di rumah mereka, Rinto memutuskan, Geni mengikuti. Aturan itu tidak tertulis dan tidak pernah terucap, tetapi semua tahu bagaimana cara kerjanya.  Di awal, Geni tidak merasa keberatan karena mencintai Rinto. Ia percaya bahwa mencintai berarti menyesuaikan diri, dan menjaga harmoni lebih penting daripada membuktikan benar atau salah. Lagi pula, Rinto tidak pernah membentak, tidak memukul, dan tidak berselingkuh. Rinto hanya suka mengatur. Ya, bagi banyak orang, itu sudah cukup untuk disebut "baik".  Ketika Geni ingin bekerja kembali setelah anak mereka mulai bersekolah, Rinto tidak langsung melarang. Ia hanya berkata sinis, "Buat apa? Uangku cukup." Kalimat itu terdengar seperti bentuk tanggung jawab. Namun di telinga Geni, terdengar seperti tembok yang tinggi.  "Bukan soal uang, Mas," kata Geni waktu itu. "Aku ingin punya sesuatu untuk diriku sendiri...

Aku Berhenti Menunggu

Aku selalu tahu bagaimana rasanya menunggu. Bukan menunggu yang manis seperti dalam novel percintaan remaja, yang dipenuhi pesan-pesan singkat penuh rindu atau suara hangat dari panggilan telepon menjelang tidur. Menungguku adalah jenis yang lain. Sunyi, panjang, dan seringkali membuat bertanya apakah aku sedang menunggu sesuatu yang memang akan datang. Atau, sesuatu yang sejak awal tidak pernah benar-benar ada. Padahal, dulu tidak seperti ini.  Di awal kami berhubungan, ia adalah seseorang yang begitu hadir. Ponselku hampir tak pernah benar-benar sepi karena namanya selalu muncul di layar. Ia rutin mengirim pesan hanya untuk menanyakan hal-hal sederhana.  Jika aku terlambat membalas, ia akan mengirim pesan lagi, dan lagi. Bahkan langsung menelepon. Jika aku tidak mengangkat, ia akan mencoba beberapa kali, seolah memastikan aku benar-benar tidak dalam masalah.  Saat itu, aku tidak pernah merasa sendirian. Tidak pernah merasa harus menunggu. Karena sebelum aku sempat merin...

Grey Man yang Retak: Kisah Eddy dan Ilusi Kejantanan (Analisis Model Perilaku Maskulinitas Hegemonik)

Cerita ini bertutur tentang Eddy.  Bukan Eddy Tansil tentu saja, tapi Eddy Burung.  Jangan bertanya dulu, kenapa ada embel-embel ’Burung’ di belakangnya. Baca sampai selesai, maka kalian akan mengerti. ---------- Di sebuah kota imajiner yang tidak terlalu besar tapi cukup penuh gosip, hidup seorang laki-laki bernama Eddy. Menurut pengakuannya sendiri, Eddy adalah “paket lengkap”: misterius, keren, dan berbahaya. Bahkan tanpa ragu, dia menyebut dirinya sebagai Grey Man. Eddy sudah menikah dengan seorang perempuan yang katanya sangat dia cintai. Namun, entah kenapa pernikahannya dilakukan secara diam-diam, mungkin dia merasa status “setengah rahasia” lebih fleksibel untuk hobi utamanya: mengejar banyak perempuan. Untungnya hubungan underground tersebut tidak berlangsung lama, sehingga perempuan yang tidak beruntung itu bisa lepas dari jeratan Eddy. Bagi Eddy, dunia ini seperti buffet. Ada gadis, janda, bahkan istri orang, semuanya dia dekati dengan percaya diri tingkat d...

Fenomena Identitas Perempuan di Sekitar Anak

Aku baru menyadari bahwa Rona sudah tumbuh besar ketika ia melontarkan beberapa pertanyaan yang, jujur saja, tidak pernah terlintas dalam pikiranku ketika aku seusianya. ----- Pertanyaan pertama, kenapa kebanyakan perempuan bergantung pada laki-laki? Aku menjelaskan dengan sederhana, "Di budaya kita, perempuan dan laki-laki dibiasakan punya tugas yang berbeda. Laki-laki bekerja di luar rumah untuk mencari uang, sementara perempuan lebih sering di rumah mengurus keluarga. Jadi, kelihatannya perempuan bergantung pada laki-laki. Gimana nggak bergantung, perempuan nggak boleh sekolah tinggi, nggak boleh bekerja, ya otomatis mereka lebih bergantung ke laki-laki secara ekonomi. Juga ada tekanan sosial kalau laki-laki harus menafkahi, sementara perempuan (boleh) bergantung. Anggapan bahwa perempuan lebih lemah dibanding laki-laki juga membentuk pandangan 'perempuan selalu bergantung pada laki-laki'. Padahal, kalau dikasih kesempatan yang sama, perempuan juga bisa mandiri se...