Postingan

Dari Subordinasi ke Internalitas: Cara Patriarki Bertahan dalam Kesadaran Perempuan

Ketika ketidaksetaraan dalam relasi gender dianggap biasa, objektifikasi seksual pun menjadi sesuatu yang lazim. Perempuan yang tersubordinat dan mengalami tekanan struktural tidak memiliki banyak pilihan untuk bertahan hidup, sehingga masuk ke dalam industri seks (pelacuran dan pornografi) menjadi konsekuensi yang logis. Lebih jauh, industri seks menormalisasi relasi kuasa yang timpang, menempatkan perempuan sebagai objek konsumsi, memperkuat pandangan bahwa tubuh perempuan dapat dieksploitasi demi kepuasan pihak lain. Mirisnya, eksploitasi seksual ini kembali memperkuat ketimpangan yang ada. Di sisi lain, pertumbuhan pesat masyarakat konsumen dan semakin berkembangnya kebebasan individu membuka celah bagi perempuan untuk mengklaim pengalaman seksualnya sendiri. Mereka mulai menegosiasikan ulang tubuh, hasrat, dan identitasnya, tidak lagi sepenuhnya menerima peran pasif yang merupakan hasil dari struktur patriarkal. Kini, perempuan dapat menikmati seks sebagai aktivitas rekreasional...

Disiplin dan Keselarasan Hidup

Gambar
  "Mbak, rajin banget olahraganya, kerjanya apa?" Saya sangat sering mendapatkan pertanyaan seperti itu. Lantas, kenapa orang sering mengaitkan kebiasaan kita dengan pekerjaan? Saya pikir, karena selama ini kedisiplinan hanya dianggap sebagai bagian dari rutinitas saja, bukan keselarasan hidup. Kebanyakan dari kita menghabiskan waktu 8 jam sehari untuk melakukan pekerjaan teratur, yang tentunya memerlukan kedisiplinan. Faktanya, di luar itu kita memilih untuk tidak menerapkan disiplin diri seperti yang dilakukan ketika kita bekerja. Saat sedang libur, kita menjadi lamban dan bermalas-malasan, karena merasa telah menghabiskan banyak waktu untuk bekerja, sehingga harus melakukan "pemberontakan" dalam bentuk pemanjaan diri (yang kekanak-kanakan). Pun ketika berpuasa, kita bisa disiplin mengikuti aturan-aturan yang berlaku, termasuk melakukan kontrol diri. Namun ketika tiba waktunya berbuka puasa, kita lupa soal disiplin diri. Konsep menahan hawa nafsu yang seja...

Perjumpaan Terakhir di Kelas Bermain Kecapi

Gambar
Setelah hampir seminggu menghilang, aku kembali menginjakkan kaki di hutan kota ini, untuk terakhir kalinya. Langkah meraba tanah yang menyimpan kenangan, mata menangkap sepi di setiap sudut. Tak ada anak-anak yang berkejaran, juga tawa renyah, atau bisik-bisik rahasia yang biasa mereka sembunyikan. Daun-daun kering berserakan, angin menggerakkannya perlahan, mencipta bunyi gesekan yang melengkapi sepi. Buah-buah kecapi jatuh dari dahannya, menggelinding lalu tergeletak begitu saja, perlahan membusuk dalam pelukan bumi. Aku mematung, membiarkan diriku menjadi saksi terakhir dari sebuah tempat yang pernah hidup, sebelum akhirnya kutinggalkan bersama segala yang tak bisa kubawa pulang. Hembusan angin membawa aroma buah busuk memecah lamunan, mengantarku bergegas merapikan ruangan yang selama ini menyimpan seluruh barang kegiatan literasi. Ruang yang diam-diam telah menampung begitu banyak cerita, tawa, dan harapan. Meja kerja yang biasanya penuh dengan buku kini harus kosong kembali....

Ruang 'Antara'

Gambar
Di kejauhan, cahaya matahari pudar di balik langit abu-abu. Lampu-lampu jalan mulai memancarkan cahaya temaram. Angin semakin liar menyentuh wajahku yang berjerawat, membawa singgah debu jalanan ke sela pori-pori. Kayuhan mulai terasa berat, tapi roda masih harus berputar lirih, bersentuhan dengan aspal yang masih basah bekas hujan siang tadi. Waktu agaknya berjalan lambat, mencipta ruang untuk pikiran yang tak bisa diam, lebih berisik dari detak jantung dan deru napas menuju malam. Aku sampai di tujuan. Seseorang yang ingin kutemui menjemput di gerbang, masih dengan senyum khasnya yang ramah, meski kami bertemu di sela waktu yang jarang ramah. Ya, sore hari, jam pulang kantor, ketika energi sudah tercurah habis, hanya menyisakan sedikit harapan untuk segera kembali ke rumah. Ia mendampingiku ke tempat parkir untuk menaruh sepeda. Kusandarkan sepeda di tiang lalu menguncinya. Kami langsung menuju kantin, yang ternyata sudah tutup. Sepi, hanya ada barisan meja dan kursi yang tersu...

Kuasa Makhluk Jahat

Aku berjalan menembus hari-hari dengan sedikit senyum yang tersisa. Berkali-kali angin mencoba mematahkan langkah dan menghantam wajah, seolah memaksa untuk kembali pulang. Napasku tersengal, teringat kehidupan yang pernah menjanjikan pelukan hangat, tapi yang kudapat justru jerat panjang tanpa ujung, melilit di kaki, leher dan lidah. Kini, aku berusaha berdiri tanpa penyangga. Hatiku yang patah mencari tempat bersandar dalam reruntuhan harapan, di tengah kuburan empati manusia. Kaki mulai gemetar, rasanya tak sanggup lagi menuruti jarak. Kuhentikan langkah, menyandarkan kepala pada dinding senja, sunyi lekas menggenggam tanganku. Aku merasakan jeda, waktu pun ikut menarik napas panjang bersama. Dunia sedikit melunak, mata melepas pandang kosong namun penuh, sedang hatiku mulai mengeluh, ”Aku lelah.” Masa berjalan lambat, tapi pikiranku melesat cepat, jauh, menyusuri hari-hari yang telat lewat. Sunyi dan senja terdiam, seolah mengerti jika hanya tempat bersandar yang kubutuh saat i...

Krisis Aktivitas Bermakna

Kekurangan aktivitas menghancurkan kondisi baik manusia, itulah yang dikatakan Plato, dan saya sepakat. Kenapa? Dalam konteks sekarang, mampu mengisi waktu luang dengan baik adalah hal terbaru dalam peradaban, dan tidak banyak orang dapat mencapai tingkatan ini. Kebanyakan orang ketika dibebaskan untuk mengisi waktu luang sesuai pilihan sendiri, mereka akan kesulitan, bingung. Berpikir 'apa kegiatan yang cukup menyenangkan untuk dilakukan'. Tapi, ketika berhasil memutuskan apa yang dapat dilakukan, mereka akan tetap terusik oleh pikiran 'pasti ada kegiatan lain yang lebih menyenangkan'. Kenapa sulit? Karena terbiasa melakukan kehidupan monoton, disodorkan hiburan pasif, seperti menonton TV atau bermain gadget. Tidak terbiasa keluar dan mengeksplorasi. Jadi yang dipahami, dunia itu hanya sebatas layar TV dan handphone, semua dapat dilihat dan diketahui dari situ. Padahal bagian terpentingnya bukan sekadar 'lihat' dan 'tahu', tapi bagaimana '...

Seksualitas, Moralitas, dan Ketimpangan Gender

Seks tidak pernah berdiri sendiri sebagai urusan tubuh dan dorongan biologis semata. Tersembunyi di balik bahasa, makna, dan kuasa, sehingga masyarakat, agama, dan budaya mengatur seks untuk memberi bentuk dan batas pada sesuatu yang dianggap begitu kuat sekaligus rentan. Masyarakat meyakini bahwa seks merupakan peristiwa penting yang harus diatur dengan tata tertib dan tanggung jawab sosial. Agama memperkuatnya dengan memasukkan dimensi moral dan transendental, mengikat seks dengan hukum tuhan; batasan (halal-haram), etika (suci-najis), dan ibadah (pahala-dosa). Melalui identitas dan norma-norma, budaya mengatur tentang tubuh, dan bagaimana manusia memandang hasrat seksual. Apa yang boleh ditampilkan di ruang publik dan apa yang harus disembunyikan di ruang privat, adalah parameter yang telah dinegosiasikan dan harus dijaga sebagai warisan turun-temurun. Seiring dengan perkembangan masyarakat, institusi sosial turut mengambil alih fungsi-fungsi tersebut. Ilmu pengetahuan menggolongkan...