𝐒TOP THE WEDDING
𝐒𝐭𝐨𝐩 𝐭𝐡𝐞 𝐰𝐞𝐝𝐝𝐢𝐧𝐠... Bukti bahwa perempuan bisa dan berani mengambil keputusan untuk dirinya sendiri. Tren ini membuat perempuan menjadi lebih kritis dalam mempertanyakan kelayakan pasangan. Apakah pasanganku mampu menghargaiku? Apakah hubungan ini aman secara emosional? Apakah pekerjaan domestik akan dibagi secara adil? Apakah aku tetap memiliki kebebasan setelah menikah? Apakah pernikahan ini akan membuat hidupku lebih baik atau justru membatasiku? Pertanyaan-pertanyaan tersebut menggeser posisi perempuan dari sekadar pihak 'yang dipilih' menjadi pihak 'yang berhak menentukan'. Namun, mengapa tren "stop the wedding" dirasa mengganggu bagi sebagian laki-laki? Ini berkaitan dengan konstruksi sosial tentang relasi gender. Laki-laki sering ditempatkan sebagai pihak yang mengambil keputusan. Sementara itu, perempuan diharapkan menjadi pihak yang mengikuti. Ketika perempuan mulai mengambil kendali atas keputusan hidupnya, konstruksi tersebut terusik...