Postingan

Kuasa Makhluk Jahat

Aku berjalan menembus hari-hari dengan sedikit senyum yang tersisa. Berkali-kali angin mencoba mematahkan langkah dan menghantam wajah, seolah memaksa untuk kembali pulang. Napasku tersengal, teringat kehidupan yang pernah menjanjikan pelukan hangat, tapi yang kudapat justru jerat panjang tanpa ujung, melilit di kaki, leher dan lidah. Kini, aku berusaha berdiri tanpa penyangga. Hatiku yang patah mencari tempat bersandar dalam reruntuhan harapan, di tengah kuburan empati manusia. Kaki mulai gemetar, rasanya tak sanggup lagi menuruti jarak. Kuhentikan langkah, menyandarkan kepala pada dinding senja, sunyi lekas menggenggam tanganku. Aku merasakan jeda, waktu pun ikut menarik napas panjang bersama. Dunia sedikit melunak, mata melepas pandang kosong namun penuh, sedang hatiku mulai mengeluh, ”Aku lelah.” Masa berjalan lambat, tapi pikiranku melesat cepat, jauh, menyusuri hari-hari yang telat lewat. Sunyi dan senja terdiam, seolah mengerti jika hanya tempat bersandar yang kubutuh saat i...

Seksualitas, Moralitas, dan Ketimpangan Gender

Seks tidak pernah berdiri sendiri sebagai urusan tubuh dan dorongan biologis semata. Tersembunyi di balik bahasa, makna, dan kuasa, sehingga masyarakat, agama, dan budaya mengatur seks untuk memberi bentuk dan batas pada sesuatu yang dianggap begitu kuat sekaligus rentan. Masyarakat meyakini bahwa seks merupakan peristiwa penting yang harus diatur dengan tata tertib dan tanggung jawab sosial. Agama memperkuatnya dengan memasukkan dimensi moral dan transendental, mengikat seks dengan hukum tuhan; batasan (halal-haram), etika (suci-najis), dan ibadah (pahala-dosa). Melalui identitas dan norma-norma, budaya mengatur tentang tubuh, dan bagaimana manusia memandang hasrat seksual. Apa yang boleh ditampilkan di ruang publik dan apa yang harus disembunyikan di ruang privat, adalah parameter yang telah dinegosiasikan dan harus dijaga sebagai warisan turun-temurun. Seiring dengan perkembangan masyarakat, institusi sosial turut mengambil alih fungsi-fungsi tersebut. Ilmu pengetahuan menggolongkan...

Pertemuan dengan Cahaya

Di sepanjang sisi sungai aku berlari dengan langkah terukur, menyusuri jalan basah yang masih menyimpan sisa hujan semalam. Udara lembap melumuri kulitku, aroma tanah menyertai irama napas yang kian teratur. Rambutku bergerak lincah mengikuti denyut di dada yang mulai menemukan tempo. Setelah melalui sepuluh kilometer jarak, langkahku menyerah pada diam. Keringat mengalir di pelipis dan leher, berbaur dengan napas yang mulai terengah. Dadaku naik turun seperti ombak kecil yang sudah lelah menjemput pantai. Kulempar pandang kepada sungai yang tenang. Airnya bergerak pelan, memancarkan cahaya matahari yang pecah menjadi kilauan. Di sini, di pinggir sungai ini, aku berdiri diam, merasakan denyut jantung yang menyatu dengan irama kontras, antara sungai yang tenang, dan segala perasaan tak bernama yang kembali mengoyak. Kemurungan segera datang tanpa mengetuk, seperti gerimis yang tiba-tiba jatuh ketika matahari sedang panas-panasnya. Aku menunduk, air mata terasa mengambang, menunggu...

Si Cerdas

“Manusia tidak dilahirkan dan tidak pula mati. Setelah mewujudkan eksistensinya, dia tidak akan sirna begitu saja, sebab dia abadi dan tidak lekang.” ~ Paulo Coelho   Hari ini aku memutuskan untuk keluar dari cangkang, mencoba lepas dari kenyamanan. Aku menyusuri jalan dengan bertelanjang. Seluruh mata memandang, mengamati  Id  yang selama ini kusembunyikan, bahwa aku adalah sesosok yang liar.  Aku adalah si Berani, aku adalah si Pengecut. Aku terlalu mengandalkan kecerdasan, sampai aku sadar bahwa itu membuatku meremehkan kekuatan lawan. Aku terlalu berstrategi, sampai itu berubah menjadi tragedi yang memuakan. Namun, karena aku cerdas, aku menyadari bahwa strategi tak akan mampu mengalahkan kekuatan. Pada saat sulit dan melelahkan, aku memilih menghadapi berbagai tantangan dengan kepasrahan dan keberanian. Aku tak mundur dalam medan perang. Aku lebih suka menghadapi kekalahan dengan luka dan darah yang bercucuran, kemudian mengobatinya di depan si Lawan....

Sold, Anak dalam Pelacuran di India

Hari itu hujan sangat deras, sawah keluargaku rusak, sehingga tak ada sumber pemasukan. Ayah tidak bisa berbuat apa-apa, karena ia cacat. Ketika menghadiri festival desa aku bertemu Bilma untuk pertama kalinya. Ia menceritakan kemegahan kota padaku, dan menawarkan pekerjaan sebagai pelayan di India. Aku ragu dan berusaha menjauh darinya. Tapi, diam-diam ayah berbicara dengan wanita itu, dan membuat kesepakatan dengannya. Ayah menerima uang dari Bilma lalu menyerahkan aku padanya. Singkat cerita, ayah telah menjualku, menjual anak kandungnya, Lakshmi. Aku dibawa Bilma hingga melewati perbatasan, kemudian ia mengajakku ke sebuah bangunan, yang ternyata adalah rumah bordil. Bilma menyerahkanku pada Mumtaz, awalnya kupikir ia baik karena memakaikan cincin di jari kakiku, belakangan aku baru tahu jika ternyata ia seorang germo. Kemudian Mumtaz meminta seorang pelacur mengajarkanku cara-cara menggoda laki-laki. Aku dipaksa untuk meniru, tapi tidak kulakukan. Setelah didandani, Mumtaz mengaj...

Parched, Perempuan di Lingkaran Tradisi India

Hari ini ada pertemuan warga, dipimpin oleh para tetua, yang semuanya laki-laki. Pertemuan ini untuk membahas Campha yang kabur dari rumah mertuanya. Di rumah itu dia tidak mendapat kebahagiaan, suami tidak peduli padanya, dia hanya dijadikan bulan-bulanan oleh mertua dan saudara iparnya, dilecehkan dan disiksa, bahkan dia pernah menggugurkan kandungan karena tidak tau siapa ayah dari janin itu. Tetua memutuskan Campha harus kembali ke rumah mertuanya untuk menjaga kehormatan desa dan menghindari pertikaian dua keluarga. Aku melihat Campha menangis, memohon pada ibunya, meminta pertolongan, tapi sia-sia. Inilah desaku, terletak di Rajasthan, India. Segala hal diputuskan oleh para tetua. Di sini laki-laki bebas melakukan apapun, tapi perempuan sangat terbatas. Apa yang ingin kami lakukan, apa yang ingin kami miliki, semua ditentukan oleh laki-laki. Mereka yang berhak memutuskan apa yang benar dan salah bagi kami. Turun-temurun hal itu dilakukan, sudah menjadi tradisi. Maka tak heran ke...

Perempuan vs Perempuan

Setelah menikah perempuan harus bekerja dan berpenghasilan sendiri? Menurutku TIDAK HARUS selama suami ada dan mampu mencukupi kebutuhan hidup kita sebagai perempuan, ibu dan isteri. Tapi sebagai perempuan kita HARUS memberdayakan diri, mencintai diri sendiri, belajar banyak hal, berpendidikan, intinya mau meng-upgrade diri. Itu wajib, bagi perempuan yang sudah menikah maupun yang belum. Jadi meski sudah menikah dan punya anak kita tetap berdaya. Ditinggal suami? Kita masih berdaya. Kamu mau teriak-teriak kalau ini eranya emansipasi, bahwa perempuan (isteri) harus bekerja supaya dihargai laki-laki (suami)? Agar dinilai "mahal" dan tidak akan ditinggalkan? Kalau kamu berpikir begitu, meski kamu bekerja dan punya penghasilan kamu bukan perempuan yang berdaya. Emansipasi bukan lagi soal persaingan laki-laki dan perempuan untuk menjadi yang dominan atau sama. Tapi soal mengubah sudut pandang. Misalnya soal pekerjaan, kita (baik laki-laki ataupun perempuan) harus mengubah pandan...