Perempuan dan Tabu
Di bawah payung langit kelabu aku melangkah dengan hati-hati menyusuri hutan, berjalan di antara semak liar yang tingginya melebihi tubuhku. Sesekali angin menerpa wajah, membawa bau dedaunan dan tanah yang lembab. Pohon-pohon tua dengan batangnya yang bengkok menjulang menembus hamparan kabut, akar-akarnya yang besar seolah sedang mencengkram tanah. Hutan ini tampak sepi, namun hidup. Semakin jauh aku masuk ke dalamnya, semakin banyak hal aneh yang kurasakan. Suara merintih dari bawah batu raksasa, suara langkah di antara serasah, dan suara angin yang seolah membisikan mantra. Aku tetap melangkah dengan yakin, tak ada keraguan, apalagi rasa takut. Sampai akhirnya sebuah pohon besar berdaun keemasan menghentikan langkahku. Daun-daunnya yang berguguran berubah menjadi peri. “Ya, peri!” seruku. Aku baru saja menyaksikan keajaiban, tubuhku mematung. Ada rasa bahagia yang tak bisa kujelaskan. “Apa yang kau lakukan di hutan terlarang?” tanya Aphrodite kesal sambil menjewer telinga...