Postingan

Perempuan dan Tabu

  Di bawah payung langit kelabu aku melangkah dengan hati-hati menyusuri hutan, berjalan di antara semak liar yang tingginya melebihi tubuhku. Sesekali angin menerpa wajah, membawa bau dedaunan dan tanah yang lembab. Pohon-pohon tua dengan batangnya yang bengkok menjulang menembus hamparan kabut, akar-akarnya yang besar seolah sedang mencengkram tanah. Hutan ini tampak sepi, namun hidup. Semakin jauh aku masuk ke dalamnya, semakin banyak hal aneh yang kurasakan. Suara merintih dari bawah batu raksasa, suara langkah di antara serasah, dan suara angin yang seolah membisikan mantra. Aku tetap melangkah dengan yakin, tak ada keraguan, apalagi rasa takut. Sampai akhirnya sebuah pohon besar berdaun keemasan menghentikan langkahku. Daun-daunnya yang berguguran berubah menjadi peri. “Ya, peri!” seruku. Aku baru saja menyaksikan keajaiban, tubuhku mematung. Ada rasa bahagia yang tak bisa kujelaskan. “Apa yang kau lakukan di hutan terlarang?” tanya Aphrodite kesal sambil menjewer telinga...

Berdamai dengan Kesepian

  Hari ini panas sekali, seolah matahari bergerak selangkah lebih dekat, kemudian lidahnya menjilati permukaan bumi. Keringat terus mengucur sebelum sempat kuseka. Kaki tak henti melangkah mencari teduh. Berharap siang ini segera selesai, tapi apa boleh buat, terik tanpa ampun membuat waktu berjalan lambat. “Andai setelah ini berganti mendung,” harapku. Angin berbisik-bisik, dedaunan bergemerisik, perlahan riak awan bergerak, mengubah langit biru menjadi abu-abu tenang. Udara membawa sejuk, seolah mengisyaratkan butir-butir hujan sedang menunggu waktu yang tepat untuk jatuh ke tanah. Kurasa, waktu telah kembali bergerak dengan ritmenya. “Semesta mendengarku.” Di bawah naungan mendung ini, aku melakukan petualangan kecil yang menjanjikan rasa manis di ujung perjalanan. Dengan langkah ringan aku bergegas, diiringi angin yang membawa aroma ceria. Papan penuh warna cerah yang sedikit tertutup bayangan pepohonan itu mulai terlihat. Kupercepat langkah, semakin dekat, semakin kurasa...

Ruang 'Antara'

Gambar
Di kejauhan, cahaya matahari pudar di balik langit abu-abu. Lampu-lampu jalan mulai memancarkan cahaya temaram. Angin semakin liar menyentuh wajahku yang berjerawat, membawa singgah debu jalanan ke sela pori-pori. Kayuhan mulai terasa berat, tapi roda masih harus berputar lirih, bersentuhan dengan aspal yang masih basah bekas hujan siang tadi. Waktu agaknya berjalan lambat, mencipta ruang untuk pikiran yang tak bisa diam, lebih berisik dari detak jantung dan deru napas menuju malam. Aku sampai di tujuan. Seseorang yang ingin kutemui menjemput di gerbang, masih dengan senyum khasnya yang ramah, meski kami bertemu di sela waktu yang jarang ramah. Ya, sore hari, jam pulang kantor, ketika energi sudah tercurah habis, hanya menyisakan sedikit harapan untuk segera kembali ke rumah. Ia mendampingiku ke tempat parkir untuk menaruh sepeda. Kusandarkan sepeda di tiang lalu menguncinya. Kami langsung menuju kantin, yang ternyata sudah tutup. Sepi, hanya ada barisan meja dan kursi yang tersu...

Perjumpaan Terakhir di Kelas Bermain Kecapi

Gambar
Setelah hampir seminggu menghilang, aku kembali menginjakkan kaki di hutan kota ini, untuk terakhir kalinya. Langkah meraba tanah yang menyimpan kenangan, mata menangkap sepi di setiap sudut. Tak ada anak-anak yang berkejaran, juga tawa renyah, atau bisik-bisik rahasia yang biasa mereka sembunyikan. Daun-daun kering berserakan, angin menggerakkannya perlahan, mencipta bunyi gesekan yang melengkapi sepi. Buah-buah kecapi jatuh dari dahannya, menggelinding lalu tergeletak begitu saja, perlahan membusuk dalam pelukan bumi. Aku mematung, membiarkan diriku menjadi saksi terakhir dari sebuah tempat yang pernah hidup, sebelum akhirnya kutinggalkan bersama segala yang tak bisa kubawa pulang. Hembusan angin membawa aroma buah busuk memecah lamunan, mengantarku bergegas merapikan ruangan yang selama ini menyimpan seluruh barang kegiatan literasi. Ruang yang diam-diam telah menampung begitu banyak cerita, tawa, dan harapan. Meja kerja yang biasanya penuh dengan buku kini harus kosong kembali....

Kuasa Makhluk Jahat

Aku berjalan menembus hari-hari dengan sedikit senyum yang tersisa. Berkali-kali angin mencoba mematahkan langkah dan menghantam wajah, seolah memaksa untuk kembali pulang. Napasku tersengal, teringat kehidupan yang pernah menjanjikan pelukan hangat, tapi yang kudapat justru jerat panjang tanpa ujung, melilit di kaki, leher dan lidah. Kini, aku berusaha berdiri tanpa penyangga. Hatiku yang patah mencari tempat bersandar dalam reruntuhan harapan, di tengah kuburan empati manusia. Kaki mulai gemetar, rasanya tak sanggup lagi menuruti jarak. Kuhentikan langkah, menyandarkan kepala pada dinding senja, sunyi lekas menggenggam tanganku. Aku merasakan jeda, waktu pun ikut menarik napas panjang bersama. Dunia sedikit melunak, mata melepas pandang kosong namun penuh, sedang hatiku mulai mengeluh, ”Aku lelah.” Masa berjalan lambat, tapi pikiranku melesat cepat, jauh, menyusuri hari-hari yang telat lewat. Sunyi dan senja terdiam, seolah mengerti jika hanya tempat bersandar yang kubutuh saat i...

Seksualitas, Moralitas, dan Ketimpangan Gender

Seks tidak pernah berdiri sendiri sebagai urusan tubuh dan dorongan biologis semata. Tersembunyi di balik bahasa, makna, dan kuasa, sehingga masyarakat, agama, dan budaya mengatur seks untuk memberi bentuk dan batas pada sesuatu yang dianggap begitu kuat sekaligus rentan. Masyarakat meyakini bahwa seks merupakan peristiwa penting yang harus diatur dengan tata tertib dan tanggung jawab sosial. Agama memperkuatnya dengan memasukkan dimensi moral dan transendental, mengikat seks dengan hukum tuhan; batasan (halal-haram), etika (suci-najis), dan ibadah (pahala-dosa). Melalui identitas dan norma-norma, budaya mengatur tentang tubuh, dan bagaimana manusia memandang hasrat seksual. Apa yang boleh ditampilkan di ruang publik dan apa yang harus disembunyikan di ruang privat, adalah parameter yang telah dinegosiasikan dan harus dijaga sebagai warisan turun-temurun. Seiring dengan perkembangan masyarakat, institusi sosial turut mengambil alih fungsi-fungsi tersebut. Ilmu pengetahuan menggolongkan...

Pertemuan dengan Cahaya

Di sepanjang sisi sungai aku berlari dengan langkah terukur, menyusuri jalan basah yang masih menyimpan sisa hujan semalam. Udara lembap melumuri kulitku, aroma tanah menyertai irama napas yang kian teratur. Rambutku bergerak lincah mengikuti denyut di dada yang mulai menemukan tempo. Setelah melalui sepuluh kilometer jarak, langkahku menyerah pada diam. Keringat mengalir di pelipis dan leher, berbaur dengan napas yang mulai terengah. Dadaku naik turun seperti ombak kecil yang sudah lelah menjemput pantai. Kulempar pandang kepada sungai yang tenang. Airnya bergerak pelan, memancarkan cahaya matahari yang pecah menjadi kilauan. Di sini, di pinggir sungai ini, aku berdiri diam, merasakan denyut jantung yang menyatu dengan irama kontras, antara sungai yang tenang, dan segala perasaan tak bernama yang kembali mengoyak. Kemurungan segera datang tanpa mengetuk, seperti gerimis yang tiba-tiba jatuh ketika matahari sedang panas-panasnya. Aku menunduk, air mata terasa mengambang, menunggu...