Ibu, Hobi, dan Kehendak Bebas

April 2025, Bersepeda 170 KM, PP Jakarta-Purwakarta


"Kok bisa tega sih meninggalkan anak seharian demi hobi?"

Setelah menjadi ibu, perempuan cenderung lebih sulit memiliki hobi. Bukan karena tidak mau, tidak ada waktu atau tidak memiliki ketertarikan. Tapi, karena kebanyakan ibu terbebani oleh labelisasi masyarakat terhadap perannya.

Ibu kerap dituntut berperilaku seperti yang masyarakat harapkan, di mana ia harus memenuhi kriteria keibuannya. Ini membuat ibu tidak bebas mengekspresikan diri karena takut dianggap ibu yang menyimpang. Masyarakat cenderung menganggap 'ibu yang melakukan hobinya' sebagai ibu yang tidak sepenuhnya mengabdikan diri untuk keluarga. Tapi, sepertinya anggapan tersebut tidak berlaku bagi ibu yang memilih hobi sesuai dengan citra keibuannya, seperti memasak, berkebun, menjahit, dan hobi lainnya yang masih berkaitan dengan pekerjaan rumah tangga dan bisa dilakukan tanpa harus meninggalkan anak.

Jika seorang ibu mempresentasikan diri sebagai sosok perempuan yang memiliki "kehendak bebas," ia akan dianggap tidak sesuai dengan citra keibuan, melalaikan tugas sebagai ibu yang memiliki tanggung jawab merawat anak dan mengurus pekerjaan rumah. Pada akhirnya, ibu merasa terisolasi dari kehidupan sosial, terabaikan dan inferior. Membuat ia terperangkap pada mitos-mitos keibuan yang dikonstruksi masyarakat. Sehingga untuk menghibur diri dan memvalidasi bahwa hidupnya "baik-baik" saja, ia meyakini mitos-mitos tersebut sebagai kebenaran. Penghiburan diri yang semu itu akan membuat ibu kehilangan cara hidupnya dan identitas diri, secara sosial dan psikologis.

Yang perlu digarisbawahi adalah, seorang ibu tidak bisa direduksi pada peranannya hanya semata-mata sebagai ibu. Pada hakikatnya ibu adalah individu berpikir, berhasrat dan berkemauan. Ibu adalah manusia yang tetap seutuhnya "ibu" walau tidak selalu di rumah dan tidak membersamai anak-anaknya selama 7x24 jam. Ibu tetaplah "ibu" selama ia bahagia tanpa mengabaikan perannya.

Tercatat dalam sejarah, banyak ibu yang lantang menyuarakan pikirannya, menjadi berbeda, dan berani melawan belenggu mitos, meski harus berhadapan dengan kekuasaan dan senjata.


Trisna Ari Ayumika

 


Postingan populer dari blog ini

Sekolah, Ruang Pembentukan Identitas