Cerita Tentang Anugerah, Komitmen, dan Kebebasan Diri
Aku duduk di batang pohon
kecapi, bernyanyi sambil mengayunkan kaki. Memandang ke sekeliling hutan.
Menyaksikan para peri hutan bergiat pagi untuk menjaga kesimbangan dan
keindahan tempat ini.
Bagaimana aku bisa naik ke
pohon ini? Tentu saja dengan bantuan Tinkerbell. Bukan dengan serbuk peri.
Sebagai peri pencipta, ia benar-benar tidak menyia-nyiakan bakatnya. ia
membuatkan tangga supaya aku bisa naik kapan pun. Uniknya, tangga ini bukan
terbuat dari kayu, besi atau batu. Ini terbuat dari “anugrah peri”. Kalian
pernah mendengarnya?
Setiap kelahiran Putri Tuhan,
para peri akan berkumpul untuk meniupkan anugerahnya pada sang bayi. Misalnya
peri perburuan, Arthemis, menganugerahkan kebebasan. Lalu Athena, peri
kebijaksanaan, menganugerahkan ketangguhan. Kelimpahan diberikan padaku oleh
Demeter, peri pemurah. Keabadian yang kumiliki merupakan anugerah dari
Aphrodite, sang peri cinta. Hestia, peri kebatinan, menganugerahkan kekuatan
spiritual. Oleh Hera, peri kesetiaan, aku dianugerahi komitmen. Dan,
Persephone, peri dunia bawah, memberiku imajinasi.
Jadi, setiap anak tangga ini
terbuat dari kebebasan, ketangguhan, kelimpahan, keabadian, spiritual,
komitmen, dan imajinasi. Oleh karena itu, tangga ini hanya bisa dilihat dan
dilalui olehku.
“Tink, aku senang berada di
atas sini. Kenapa baru sekarang, kenapa tidak dari dulu saja kau buatkan tangga
ini untukku?”
“Karena, kini kau telah
memiliki semua anugerah itu. Dulu itu memang diberikan untukmu, tapi tak akan
menjadi milikmu jika kau tidak bisa membawanya. Sekarang kau telah membuktikan,
bahwa kau mampu dan layak menerima anugerah peri.”
“Tapi..., Tink, aku merasa
tidak demikian.”
“Kenapa? Kau luar biasa. Itulah
kenapa para peri selalu bersamamu.”
“Tidak, Tink. Aku masih banyak
kekurangan, terutama soal komitmen. Aku tidak bisa memiliki sifat Hera,”
keluhku.
Hera begitu cantik, meski
angkuh. Tapi keangkuhan itulah yang membuatnya tampak megah. Hera mampu terikat
untuk loyal dan setia, bahkan dapat berkomitmen tanpa syarat. Ketabahannya
untuk bertahan dalam sebuah hubungan tidak diragukan. Perempuan-perempuan yang
memiliki sifat Hera akan merasa tidak lengkap tanpa pasangan. Dukanya tanpa
pasangan menjadi pengalaman batin yang amat dalam dan perih. Mereka mengadopsi
mentalitas ‘Bahtera Nuh’; manusia harus datang berpasangan, seperti sepatu atau
kaus kaki. Hal itu membuat perempuan yang tidak memiliki pasangan merasa
tertinggal bahtera.
“Ah, tidak juga. Komitmen itu
luas, tidak hanya sebatas tentang hubungan. Ketika aku memutuskan untuk tidak
bisa dimiliki siapa pun, itu juga komitmen, Tink. Aku sangat bertanggung jawab,
selalu menepati janji. Aku tak pernah sembarang mengucap janji, karena itu
bagian dari tanggung jawab. Ingatanku seperti gajah, aku tak akan melupakan
janjiku, juga janji siapa pun terhadapku. Itu komitmen. Hera memberiku anugerah
‘komitmen’, bukan ‘pernikahan atau hubungan yang bahagia’, karena komitmen
mencakup banyak hal. Hera ingin aku berdaya, membangun sendiri prinsipku dan
berkomitmen dengan itu,” sambungku.
“Itulah kenapa kau pantas
mendapatkannya,” sahut Tinkerbell.
“Tink, Hera pencemburu,
pendendam, pemarah, bahkan ia tak mampu meninggalkan hubungan yang destruktif.
Kenapa ia juga dijuluki peri pernikahan? Apakah pernikahan identik dengan
sifat-sifat seperti itu?”
“Kau harus tahu, kami juga
memiliki banyak kekurangan. Kenapa Hera dijuluki peri pernikahan? Karena
komitmen, ketabahan dan cintanya. Kami tidak pernah melihat dari sisi negatif
dirinya. Sama seperti bagaimana kami melihatmu. Kau susah diatur, keras kepala,
dan tidak anggun, tapi semua kebaikanmu menutupi hal-hal yang mungkin dianggap
buruk,” jelas Tinkerbell.
“Aku sempurna karena memiliki
kelebihan dan kekurangan, Tink.”
“Itulah maksudku. Dirimu tidak
akan menjadi dirimu, tanpa kekurangan atau kelebihan itu. Hera tidak akan
menjadi Hera tanpa amarahnya, dendamnya, setianya, komitmennya, dan cintanya.”
“Kau betul, Tink, kita bisa
menilai sesuatu lebih baik, karena ada hal buruk. Kita bisa menganggap apa yang
kita lakukan menyenangkan, karena banyak hal-hal yang tidak menyenangkan.”
Aku turun dari pohon kecapi.
Berjalan bertelanjang kaki di rumput yang basah berembun. Tinkerbell hinggap di
bahuku. Ia terus berceloteh tentang perjalanan migrasi peri di musim gugur. Aku
tidak mendengarkannya, karena pikiranku berkelana sendiri.
“Tink, entah kenapa setiap
bertemu Aphrodite aku merasa ia seperti dementor.”
“Apa itu dementor? Apakah itu
sebuah mesin?” Tinkerbell penasaran.
“Hahaha. Kau ini lucu, Tink.
Dementor itu makhluk fiksi dalam serial Harry Potter. Kau tahu?”
“Fiksi? Seperti kita?”
“Ya. Tidak. Hmm..., entahlah.
Dementor bisa menghisap kebahagiaan dan harapan, hingga yang tersisa hanya rasa
putus asa, ketakutan dan kesedihan.”
“Mengerikan sekali. Kenapa kau
merasa Aphrodite seperti itu?”
“Dengan pesonanya ia menarik
siapa pun, tapi dengan itu pula ia bisa menghancurkan.”
Aphrodite mampu membidik apa
pun, dekat atau jauh, bisa mengukur secara akurat targetnya, ia layak disebut
pemburu. Kulit yang halus, mata berkilau, rambut keemasan dan dada yang indah
menjadikannya peri tercantik. Cara berinteraksi yang penuh kehangatan,
perhatian dan menyenangkan sering disalahpahami laki-laki, mengira bahwa
Aphrodite berminat secara seksual pada mereka. Lalu, saat Aphrodite menolak,
dan mulai menjaga jarak dalam sikap, ia dianggap pemberi harapan palsu atau
perempuan penggoda yang memperdaya laki-laki, dan menodai maskulinitas mereka.
Tapi, Aphrodite tidak peduli pada opini yang mengecilkannya hanya karena ia
perempuan.
“Kau benar. Banyak laki-laki
yang terpesona padanya, tanpa bermaksud menghancurkan mereka, sebenarnya ia
cukup cerdas untuk tidak terlibat dalam hubungan yang dangkal. Maksudku, ia
memilih. Tidak ada yang salah dengan itu,” Tinkerbell mulai serius.
“Aku tidak mengatakan itu
salah, Tink. Hanya saja, itulah yang kurasakan setiap bertemu dengannya.
Mungkin karena aku terlalu banyak mendengar kisah liar tentangnya,” kataku.
Meski sudah menikah, Aphrodite
menjalin hubungan dengan Ares. Mereka sama-sama memiliki sifat “hidup untuk
hari ini”, sama-sama reaktif daripada reflektif. Pasangan itu adalah kombinasi
yang mudah terbakar. Setiap bersama, percikan erotis dan watak berapi memicu
kobaran, seperti sedang bercinta dan berperang.
Meski begitu, Aphrodite tidak
suka terikat karena hubungan seks. Baginya seks adalah olahraga rekreasi atau
pengalaman fisik saja, bukan ekspresi fisik kedekatan emosional dan komitmen.
Ia hanya ingin menikmati apa pun yang ditawarkan kehidupan, ia memilih bebas,
tanpa harus memenuhi ekspektasi laki-laki terhadap perempuan.
“Tapi, bukankah itu terlalu
tidak biasa? Maksudku, Aphrodite pasti menyadari kelebihan yang dimilikinya,
seharusnya ia membatasi jarak dengan laki-laki, atau jangan seolah-olah memberi
harapan,” sambungku.
“Bagaimana respon pihak lain
terhadap sikap kita, itu sepenuhnya kendali mereka, bukan tanggung jawab kita.
Jadi, Aphrodite tidak bertanggung jawab atas hasrat laki-laki terhadapnya,”
Tinkerbell menyanggah pendapatku dengan tegas.
“Kau benar, Tink. Tapi apakah
perlu seserius itu? Kau
jadi mirip Aphrodite,” candaku.
“Tak apa, artinya aku cantik
dan sensual. Aku selalu siap untuk menghisap kebahagiaanmu. Hahaha,” balas
Tinkerbell sambil menirukan gaya angkuh Aphrodite. Kami terbahak bersama.
Bagaimana pun, Aphrodite telah
menganugerahkan keabadian padaku. Bukan hidup yang abadi, melainkan kecantikan
yang tak lekang oleh waktu, keyakinan yang tak pernah pudar dan pemikiran yang
tak bisa dibunuh.
Trisna Ari
Ayumika