Lorong Buku Batavia

Di sore yang mendung itu aku mengayuh sepedaku ke sebuah tempat, yang sebenarnya tidak jauh dari rumah, tapi belum pernah kudatangi, Lorong Buku Batavia.

Sesampainya di sana, tukang parkir menyambut dengan ramah. Berkali-kali ia mengingatkanku untuk mengunci sepeda. Ya, tentu saja, sepeda aku kunci, bahkan demi keamanan, aku membawa rantai dan gembok seberat 2 kg. Terniat.

Kemudian aku menyusuri lorong yang tidak terlalu panjang itu. Hanya ada beberapa toko buku yang buka, saling berdekatan. Suasananya agak sunyi, hanya ada suara beberapa orang yang sedang mengobrol di ujung lorong, dan tentu saja suara sepatuku yang berisik. Maklum ya, pakai sepatu cleat.

Tapi, kesunyian seperti itulah yang aku cari. Di mana hanya ada aku, buku dan sepotong sajak cinta. Eh, maksudnya, aku, buku dan berisiknya isi kepala.

Aku menjelajah di antara buku-buku tua yang bertumpuk dan berjejer di rak. Tidak ada target buku yang ingin kubeli, karena aku biasa membaca buku apa pun; novel, politik, filsafat, sosiologi, apa pun itu, selama penulisannya enak dibaca.

Meski begitu, aku berharap menemukan novel Agatha Christie atau buku-buku Bertrand Russell yang belum aku miliki. Sayangnya, aku tidak mendapatkan keduanya. Kabar baiknya adalah, aku mendapatkan 14 buku dengan kualitas bagus dan harga terjangkau.

Hari semakin sore. Perburuan selesai. Tapi rasa ingin tahuku bergejolak, dan mulai bertanya pada penjual (yang aku tidak tau namanya, lupa bertanya), tentang awal mula ia berjualan di sini. Dengan sangat ramah penjual buku itu menjelaskan, juga bercerita bagaimana Lorong Buku Batavia bisa terbentuk.

Bagian yang aku suka dari ceritanya adalah; penjual di Lorong Buku Batavia tidak hanya sekadar mengejar target penjualan, tetapi juga membangun komunitas yang memiliki cita-cita mulia, yakni menumbuhkan minat baca masyarakat. Jadi, mereka berupaya agar masyarakat mau datang langsung ke toko buku, melihat, menyentuh dan membaca buku-buku yang akan dibeli. Komunitas ini melakukan dengan beberapa cara, seperti menggelar acara diskusi dengan mendatangkan pembicara yang kompeten, menyediakan sudut baca, juga membuat konten-konten menarik di media sosial. Aku kagum sih, ternyata masih ada komunitas yang berupaya menumbuhkan minat baca di kalangan masyarakat.

Kalau dilihat, minat baca yang semakin menurun cukup mengkhawatirkan, ya. Di era sekarang, orang lebih suka mengonsumsi sesuatu yang instan, seperti konten-konten berdurasi singkat. Hal itu tentu saja menggerus kemampuan berpikir, karena orang mulai lupa menikmati proses. Membaca yang sejatinya berperan besar dalam membangun pola pikir kritis, memperkaya wawasan, dan meningkatkan kemampuan berbahasa, mulai kehilangan tempat. Kalah dengan budaya instan yang semakin dominan.

-------

Hari sudah gelap, waktunya pulang. Kumasukan semua buku ke dalam ransel. Berat? Ya, lumayanlah, apalagi ditambah berat rantai dan gembok sepeda. Untungnya, sebagai Kaum Menolak Jompo, aku rajin latihan beban, jadi tak ada tuh cerita bahu dan punggung pegal-pegal.

 

Trisna Ari Ayumika

Postingan populer dari blog ini

Sekolah, Ruang Pembentukan Identitas