Perempuan yang Mendahului Zaman

Padahal hari Minggu, tapi bus ini penuh sekali. Selama lebih dari satu jam aku di sini, berjejal seperti ikan sarden di dalam kaleng. Aku sudah tidak tahan, dan akhirnya memutuskan turun di halte terdekat.

Sebenarnya aku mau ke mana? Entah, hanya ingin berjalan-jalan, barangkali menemukan inspirasi untuk menulis.

Aku keluar dari bus dengan bersusah payah, terhimpit, terdesak, terjungkal, terinjak-injak, ternodai. Tidak, kejadian sebenarnya tidak seperti itu, aku hanya mendramatisir. Tentu saja aku keluar dengan mudah, karena berdiri di dekat pintu.

Tak berbeda dengan bus, halte pun penuh sesak, karena banyak orang yang memilih berteduh di sini. Iya, sama seperti hari sebelumnya, pagi sampai siang terik, sorenya hujan lebat. Aku tak membawa payung atau jas hujan, tapi aku tak mau berdesakkan di sini. Aku memilih keluar dari halte, berteduh di bawah JPO.

Aku melanjutkan perjalanan, melangkah di trotoar yang konturnya tidak rata, banyak lubang dan licin. Kubayangkan, bagaimana jika aku terpeleset di sini, lalu kakiku tersangkut di lubang, apa yang akan kurasakan, sakit atau malu, ya? Aku tertawa kecil. Ah, ada saja isi kepala ini. Sudah pasti sakit. Malu? Semua orang sedang tergesa-gesa, sibuk dengan isi kepala masing-masing, tak ada yang peduli jika aku jatuh, bahkan melihat pun belum tentu.

Tapi hal sekonyol itu tidak akan terjadi padaku, karena aku selalu berjalan dengan fokus, percaya diri dan cepat, seolah sedang bergegas ke suatu tempat. Jika aku terlihat tanpa tujuan atau kosong pikiran, itu bisa mendatangkan masalah. Aku akan dianggap rentan, sehingga mendapatkan perlakuan yang tidak semestinya.

Begitulah, perempuan yang sedang sendirian di tempat umum sering dianggap boleh diperhatikan, dikomentari dan didekati oleh laki-laki. Apalagi jika bersikap ramah, itu akan mematik anggapan bahwa perempuan bersedia dijadikan objek. Faktanya demikian, laki-laki seringkali salah mengartikan keramahan dan penerimaan sebagai ‘kesediaan’ didekati dan bisa diajak.

Langkahku berhenti di sebuah kursi taman. Aku duduk, mengeluarkan ponsel dari tas. Ada pesan masuk. “Ah, dia lagi,” gumamku.

Siapa dia?

Dulu, dia begitu memabukkan, dia adalah kebutuhan, dia candu. Hidupku berputar-putar di sekitarnya, tapi dia memilih menjauh, dan itu membuatku semakin gila. Sampai akhirnya aku bertekad untuk menghentikan kecanduanku dan memutuskan untuk menjauh darinya.

Aku berpindah kota. Setahun sudah perasaan itu kukubur, selama itu pula hampir setiap hari dia mengirim pesan. Dia mempermainkanku, tak menginginkanku tapi tak ingin melepasku. Hanya sesekali aku membalas pesannya, sebagai sikap menghargai saja. Aku tak mau lagi segala hal tentangnya menjangkitiku.

Aku pernah terluka, lalu membuat jeda, hingga lahir sebuah komitmen untuk tidak ingin terikat dengan siapa pun. Aku mulai menata hidup kembali. Kini, aku memiliki diriku yang utuh. Identitas dan perasaanku dibangun pada apa yang kulakukan, bukan pada status kepemilikan. Aku utuh, berfungsi dan merdeka.

Meski pilihanku dianggap aneh, pemikiranku dituduh keliru, dan hidupku dinilai menyimpang, tapi keyakinan dan prinsipku sangat kuat. Aku tidak bisa menerima konsep yang dianggap ‘sudah dari sananya’. Termasuk soal pendamping hidup atau pernikahan.

Kumasukkan kembali ponsel ke dalam tas, lalu berjalan mengelilingi taman yang sepi dan sunyi, hanya ada aku. Kesendirian seperti inilah yang kuinginkan, walau sebenarnya aku tak pernah benar-benar sendiri. Setiap langkahku selalu ditemani banyak peri. Mereka para penghuni taman, hutan, gunung dan sungai.

Kami menjelajah bersama ke banyak tempat, bahkan yang paling liar. Memandang ke segala penjuru, menerjang ganasnya kegelapan, memeluk sengatan matahari, menghirup aroma khas kehidupan, dan merasakan kekuatan spiritual yang menyatu dengan alam. Kami tidak mau dibatasi gagasan tentang apa yang pantas dan tidak pantas dilakukan perempuan.

Tak jarang orang mencibir dan mengasihani kesendirianku, memberikan banyak petuah, bahkan sampai mencarikan pendamping untukku. Aku tidak pernah menolak, hanya berkenalan tidak akan sampai menggoyahkan prinsipku. Terlebih, dari banyaknya laki-laki yang kutemui tak ada satu pun yang menarik perhatianku, dan sepertinya mereka juga tidak menaruh minat padaku.

Aku menyukai laki-laki yang tertarik dengan tekad dan semangat kebebasanku, yang memandang perempuan itu sempurna karena sifat-sifat yang biasanya dianggap “tidak feminin”. Aku sama sekali tidak tertarik dengan laki-laki yang dominan dalam hubungan, aku menginginkan hubungan yang setara, sehingga membuatku merasa natural. Hubungan tanpa nama, tanpa ikatan. Dan, ketika aku mengungkapkannya, mereka langsung menentangku, mengatakan tidak akan ada hubungan yang seperti itu. Kemudian kami putus komunikasi begitu saja.

Seleksi alam, tak perlu bersusah payah menghindar, kalau tidak cocok mereka akan pergi dengan sendirinya.

Hujan kembali. Tidak ada tempat berteduh. Aku ingin bergegas meninggalkan tempat ini, tapi para peri menahanku, karena setelah hujan selesai mereka akan mencipta pelangi, dan ingin aku melihatnya. Baiklah, aku tetap di sini, bermandikan hujan dan serbuk peri.

Aku perempuan yang bebas, lahir mendahului zaman.

Trisna Ari Ayumika

Postingan populer dari blog ini

Sekolah, Ruang Pembentukan Identitas