Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2012

KEPENTINGAN POLITIK DALAM PERDA BERBASIS SYARIAT ISLAM

Peraturan Daerah (Perda) berbasis syariat Islam, itulah yang menjadi perdebatan di kalangan masyarakat, ada yang mendukung, tapi tak sedikit yang menolak penerapan Perda tersebut. Maraknya penerapan Perda itu di tingkat pemerintah lokal, baik provinsi maupun kabupaten, tampaknya didorong oleh program desentralisasi atau otonomi daerah yang merupakan salah satu bagian dari proses demokratisasi pasca orde baru. Kondisi ini makin meningkat terutama sejak provinsi Aceh mendapatkan otonomi khusus melalui serangkaian peraturan perundang-undangan nasional untuk memberlakukan secara formal sejumlah ketentuan syariat Islam di wilayahnya. [1]  Apa yang terjadi di Aceh mewabah ke beberapa daerah yang memiliki tradisi dan kesejarahan Darul Islam yang cukup kuat, seperti Sulawesi Selatan dan Jawa Barat. Meski mendapat banyak penolakan, namun Perda berbasis syariat Islam tetap diterapkan. Bahkan pemerintah pusat pun cenderung ambigu dalam kasus ini, mereka menjadi  safety player  dal...

Siapakah manusia Indonesia?

Siapakah manusia Indonesia? Pertanyaan itulah yang mengawali esai karya Robertus Robet yang berjudul Gagasan Manusia Indonesia dan politik Kewargaan Indonesia Kontemporer. Dari pertanyaan tersebut lahir pembahasan lebih dalam tentang identitas manusia Indonesia. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, Muchtar Lubis mengemukakan ciri kultural manusia Indonesia. Menurutnya, manusia Indonesia enggan bertanggung jawab, berjiwa feodal, suka takhayul, artistik dan berwatak lemah. Menurut Robertus Robet, ciri yang disebutkan Muctar Lubis menyiratkan bahwa manusia Indonesia memiliki karakter psikologis dan antropologis yang lebih banyak buruknya daripada baiknya. Lebih jauh lagi, Robet mengemukakan bahwa kritik Moctar Lubis tentang manusia Indonesia merupakan kritik modernis terhadap realitas empirik dari konstruksi Manusia Pancasila Orde Baru.

Antara Politik Islam dan Politisasi Islam

Dewasa ini semakin banyak kajian ilmiah yang menyoroti masalah keagamaan, seperti kajian Stark dan Glock tentang dimensi-dimensi keberagamaan, Geertz yang meninjau agama sebagai sistem budaya, Alfort yang mengangkat tentang agama dan politik, Durkheim dan Weber yang memaparkan peran dan posisi agama dalam masyarakat dan masih banyak kajian lain terkait dengan kajian keagamaan dari berbagai perspektif yang berbeda-beda.

Keberadaan Pasar Tradisonal di Tengah Menjamurnya Ritel Modern

Oleh: Arghasa Rezaprasaga* Pasar Kayu Putih merupakan sarana berbelanja kebutuhan pokok utama bagi para penghuni wilayah Kayu Putih. Pasar kayu putih berada di tengah-tengah kompleks kayu putih, jadi hampir semua pelanggan pasar ini tinggal di wilayah Kayu Putih Selatan, Utara, Barat dan Timur. Kondisi pasar kayu putih tidak seperti pasar kaget, pasar ini memiliki jalan khusus konsumen. Padatnya jalan tersebut sangatlah tidak memungkinkan untuk mengendarai sepeda motor, apalagi mobil. Sebagian penjual membuat kios-kios untuk menaruh dagangannya, dan sebagian lagi menaruh tikar sebagai alas dagangannya. Kondisi Pasar Kayu Putih tidak berisik, namun seperti pasar lainnya, pasar ini menciptakan bau yang menusuk hidung. Meski demikian, pasar ini selalu ramai. Mayoritas pengunjung adalah pembantu dan ibu rumah tangga. Pengunjung pasar ini biasanya hanya membeli barang-barang yang diperlukan.

Relasi Buruh-Majikan

Oleh: Ikhsan Abi Nubli* Dalam kehidupan sosial i nteraksi memang sangat dibutuhkan. Tak dapat dipungkiri, k ita p asti se ring melakukan interaksi. Mengobrol merupakan salah satu bentuk interaksi yang sering kita lakukan. dalam tulisan ini, saya menganalisis relasi antara buruh dan majikan. Buruh dan majikan dibedakan berdasarkan kelas sosialnya. Meski berasal dari kelas sosial yang berbeda, mereka saling berinteraksi, sehingga menciptakan relasi yang baik.

Menyorot Perilaku Konsumtif Remaja

Oleh: Yorriz Rheza Konsumtif sering diartikan sama dengan kata konsumerisme. Padahal, konsumerisme lebih mengacu pada segala sesuatu yang berhubungan dengan konsumen. Sedangkan konsumtif lebih khusus menjelaskan keinginan untuk mengkonsumsi barang-barang yang sebenarnya kurang diperlukan secara berlebihan untuk mencapai kepuasan yang maksimal. Memang belum ada definisi yang memuaskan tentang kata konsumtif ini. Namun, konsumtif biasanya digunakan untuk menunjuk pada perilaku konsumen yang memanfaatkan nilai uang lebih besar dari nilai produksinya untuk barang dan jasa yang bukan menjadi kebutuhan pokok.

Kemunculan Generasi Instan

Oleh: Keumala Safira Ramadhani* Saya prihatinan terhadap generasi penerus bangsa yang masih tergolong anak-anak, mereka menjadi konsumsi hiburan masyarakat. Bukannya duduk di bangku sekolah untuk menimba ilmu, di acara itu, anak-anak berumur 5-12 tahun justru berkompetisi untuk mendapatkan status pemenang, ketenaran, kontrak kerja, dan uang. Di saat melakukan pementasan, mereka berdandan layaknya orang dewasa. Audience dari acara itu merupakan anak seumuran mereka. Maka, banyak dari penonton -yang masih belum bisa menyaring informasi- meniru para kontestan acara tersebut.

Gelandangan Ibu Kota

Oleh: Charlie* Sudah menjadi rahasia umum, Jakarta tidak hanya dihuni oleh kalangan menengah atas, tetapi juga mereka yang berasal dari kelas bawah. Tidak hanya mendapat predikat sebagai masy a rakat dari kalangan bawah, sebagian dari mereka bahkan mendapat predikat gelandangan. Mereka adalah para pendatang yang mengadu nasib ke Jakarta tanpa dibekali dengan keterampilan dan kemampuan yang kompetitif sehingga tersingkirkan. Kebanyakan dari mereka datang dari desa. Gelandangan tidak terlepas dari permasalahan Jakarta sebagai kota besar. Munculnya gelandangan bukan tanpa sebab. Banyak faktor yang mendukung menjamurnya gelandangan di kota ini, di antaranya adalah faktor ekonomi, pendidikan dan politik . Di daerah pedesaan biadanya memiliki jenis pekerjaan yang homogen, seperti berkebun, bertani atau berdagang. Adapun kegiatan ekonomi yang terjadi di sini biasanya lebih berdasarkan faktor kedekatan atau kekeluargaan.

Sekelumit Kehidupan di Bontang

Oleh: Rizky Fathur Insan* Bontang merupakan sebuah kota di Provinsi Kalimantan Timur , Indonesia . Sebelumnya, Bontang hanya perkampungan yang terletak di daerah aliran sungai, kemudian mengalami perubahan status, sehingga menjadi sebuah kota. Ini merupakan tuntutan dari wilayah yang majemuk dan terus berkembang. Penulis pernah tinggal di Bontang dalam jangka waktu yang lama, sehingga penulis sangat kenal dengan lingkungan di sana. Bontang merupakan kota kecil yang memiliki udara bersih. Jadi, jika kita lari pagi kita tidak akan cepat lelah karena udaranya segar. Sangat jauh jika dibandingkan dengan Jakarta. Dari segi udara memang berbeda dari Jakarta, namun jika dilihat dari segi kriminalitas Bontang tak jauh berbeda dengan Jakarta. Pencurian dan kekerasan sering terjadi, geng-geng anak sekolah pun tumbuh subur di kota ini. Geng-geng tersebut tak segan melakukan tindak kejahatan. Jadi, menurut penulis kehidupan kota besar dan kecil itu hampir sama. Hal ini terja...

Beban Ganda Siswa

Oleh: Winona A.M.* Tugas sekolah merupakan pekerjaan yang diberikan guru pada siswanya untuk dikerjakan di rumah sebagai indikator pemahaman siswa terhadap pelajaran yang diberikan dan diambil nilainya untuk dimasukkan ke rapor. Sebagian siswa menganggap tugas sekolah sebagai lambang penyiksaan. Mereka beranggapan, guru tidak seharusnya memberikan tugas yang membebani, karena selama lima sampai enam hari, dari pagi sampai sore, siswa telah dijejali pelajaran. Belum lagi, sebagian siswa ada yang harus menghadiri les tambahan sepulang sekolah, bahkan ada yang sampai larut malam. Selain itu, masih ada ulangan-ulangan yang menuntut nilai bagus untuk bisa naik kelas atau masuk jurusan yang diinginkan, juga untuk lulus sekolah. Sebagian guru selalu berkata bahwa sekolah tidak “melulu” tentang nilai bagus dan kesuksesan akademik. Tapi nyatanya, nilai akademik tetaplah prioritas. SMA Labschool menerapkan sistem “ full-day school ”. Dalam sistem tersebut, siswa di...

Anak Jalanan, Anak Siapa?

Oleh: Putri Cantika Reviera*                                 Semakin banyaknya jumlah anak jalanan menunjukkan bukan hanya kegagalan keluarga dan masyarakat , tapi juga negara. Kehadiran anak jalanan tidak bisa dilepaskan dari keberadaan kota-kota besar. Anak jalanan merupakan fenomena kota besar di mana saja , tak terkecuali Jakarta. Kehidupan di Jakarta penuh dengan k eglamouran. Namun , di lain sisi masih ada kehidupan yang memprihatinkan , yakni k ehidupan a nak j alanan. Anak jalanan adalah seseorang yang masih belum dewasa (secara fisik dan p si kis) yang menghabiskan sebagian besar waktunya di jalanan dengan melakukan kegiatan-kegiatan untuk mendapatkan uang guna mempertahankan hidupnya yang terkadang mendapat tekanan fisik atau mental dari lingkunga n nya. Umumnya mereka berasal dari keluarga yang ekonominya le...

Antara Sudirman dan Tanah Abang

Oleh: Adinda Mulya Pertiwi*   Wilayah Sudirman dan Tanah Abang berada di kota Jakarta, tepatnya berada di kotamadya Jakarta Pusat. Kedua wilayah ini memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap perekonomian di Jakarta, maupun di Indonesia. Hal ini mengingat bahwa Jakarta merupakan pusat perekonomian dan politik di Indoensia. Walaupun wilayah ini sama-sama berpengaruh dalam bidang ekonomi, namun dua wilayah ini memiliki banyak perbedaan. Perbedaan tersebut dalam bidang kependudukan, ekonomi, moral dan sosial. Salah satu perbedaan yang sangat kental terlihat dalam bidang ekonomi. Perekonomian di Tanah Abang, didominasi oleh penjual pakaian. Sedangkan di Sudirman merupakan wilayah perkantoran. Sudirman menjadi lokasi yang strategis untuk perkantoran. Pusat perbelanjaannya pun berbeda, di Sudirman lebih banyak ritel modern dan pusat perbelanjaan modern yang bertaraf international, sedangkan di Tanah Abang lebih banyak pasar tradisional. Maka, tidak salah jika dua tempa...