Perempuan dalam Aksara
Di zaman yang bisa dikatakan
semakin kompleks ini, perempuan menghadapi beragam tantangan yang bukan sekadar
masalah biasa, melainkan berkaitan langsung dengan ketidaksetaraan gender.
Beban yang mereka tanggung sering kali lebih berat karena ketimpangan ini.
Namun, seiring waktu, gelombang emansipasi perempuan mulai menunjukkan
tanda-tanda kebangkitan. Salah satu wujud kebangkitan tersebut terlihat dalam
dunia tulis-menulis. Perempuan mulai menekuni dunia literasi dengan berbagai
alasan, seperti menyalurkan hobi, mengekspresikan pemikiran, mengabadikan
kisah, mencari penghasilan, atau sekadar melampiaskan rasa jenuh yang mereka
rasakan.
Seiring munculnya banyak
penulis perempuan, terlihat ragam karakter dan gaya dalam karya-karya mereka.
Tema gender menjadi salah satu pilihan yang cukup sering diangkat. Meski
demikian, masih sulit menemukan karya-karya yang benar-benar mengangkat tema penyadaran
perempuan atau menonjolkan sifat-sifat perjuangan perempuan dalam masyarakat,
yang secara jelas terkait dengan isu gender.
Sebagai contoh, Djenar Maesa
Ayu adalah salah satu penulis perempuan yang memperjuangkan kesetaraan gender.
Namun, dalam beberapa karyanya, termasuk novel Nayla, aspek perjuangan
perempuan tidak terlalu terlihat. Novel ini lebih banyak menyoroti isu
seksualitas, kekerasan, dan gaya hidup hedonis, serta menampilkan tokoh-tokoh
yang banyak mengalami penderitaan. Penulis lain, seperti Oka Rusmini, lebih
menekankan pada ketertindasan perempuan dari perspektif budaya. Dalam novelnya Tarian
Bumi, Oka menampilkan secara jelas bagaimana perempuan Bali mengalami
ketertindasan akibat adat istiadat dan standar kecantikan yang berlaku.
Sementara itu, Fira Basuki menampilkan perselingkuhan sebagai ciri khas
karya-karyanya, memandangnya sebagai salah satu bentuk permasalahan gender yang
nyata.
Pertanyaan yang muncul kemudian
adalah, mengapa penulis perempuan (khususnya penulis novel) cenderung lebih
banyak menulis tentang ketertindasan perempuan dibandingkan menyoroti
perjuangan dan keberhasilan mereka? Apakah ini disebabkan oleh tuntutan pasar?
Jika memang demikian, hal ini menunjukkan bahwa kesadaran untuk bangkit dari
ketertindasan masih sangat terbatas, dan masyarakat kita seringkali terlarut
dalam romantisme penderitaan, hingga lupa untuk mendorong perubahan dan
perlawanan.
Yang
menarik adalah, justru penulis laki-laki yang lebih konsisten mengangkat tema penyadaran
dan perjuangan perempuan. Salah satu contohnya adalah Pramoedya Ananta Toer,
yang hampir selalu menampilkan tokoh perempuan yang kuat dan berperan dominan
dalam pergerakan masyarakat. Dalam pandangan Pramoedya, peran perempuan bukan
sekadar soal emansipasi, melainkan juga sebagai pencerah masyarakat. Salah satu
tokohnya, Nyai Ontosoroh, digambarkan mampu membela diri dari tekanan penjajah
dan memainkan peran penting dalam pergerakan sosial.
Jika
dibandingkan dengan Pramoedya, penulis perempuan yang telah disebutkan
sebelumnya masih memiliki jarak yang cukup jauh dalam menampilkan perjuangan
perempuan secara nyata. Inilah titik penting di mana seharusnya semangat
perjuangan perempuan Indonesia dalam dunia penulisan dapat lebih ditonjolkan.
Lebih baik jika karya-karya mereka mengangkat tema-tema yang mencerahkan
masyarakat, sekaligus mendobrak pola pikir yang masih bias gender, sehingga
literasi perempuan tidak hanya menjadi medium ekspresi pribadi, tetapi juga
alat untuk perubahan sosial.
Trisna Ari
Ayumika