Mitos Kecantikan dan Tekanan Sosial pada Perempuan
“Mirror-mirror on the wall… Who
is the fairest in the world?” (Snow White)
Siapa yang tidak mengenal
konsep kecantikan? Hampir semua perempuan mengetahuinya. Sejak zaman dahulu,
perempuan selalu dikaitkan dengan keindahan dan dianggap harus tampil cantik.
Meski identitas kecantikan banyak diarahkan pada perempuan, laki-laki juga
berperan dalam membentuk persepsi ini. Kecantikan sering dianggap sebagai
anugerah yang paling berharga bagi perempuan karena mampu menarik perhatian
banyak orang.
Sejarah dan mitologi
menggambarkan perempuan cantik sebagai sosok yang memiliki kekuatan besar
terhadap laki-laki. Banyak kisah klasik menunjukkan pengaruh perempuan cantik
yang mampu membuat laki-laki bersedia melakukan apa saja demi mereka, seperti
kisah Julius Cesar dan Cleopatra, Rama dan Shinta, perebutan wanita antara Qabil
dan Habil, serta perselisihan antara Epimetheus dan Prometheus demi Pandora.
Cerita-cerita ini telah menumbuhkan mitos bahwa kecantikan adalah nilai
universal dan objektif.
Akibat mitos ini, perempuan
merasa harus memiliki kecantikan, sementara laki-laki mengharapkan perempuan
yang cantik. Tekanan sosial ini membuat perempuan sering merasa sedih, malu,
atau iri, bahkan memunculkan persaingan antarperempuan. Fenomena ini mendorong
banyak perempuan untuk berusaha menampilkan diri secantik mungkin melalui
berbagai cara, seperti pergi ke salon, spa, pusat kebugaran, atau membeli
kosmetik, meski memerlukan biaya dan usaha yang tidak sedikit.
Kondisi ini dimanfaatkan oleh
sistem kapitalis. Perusahaan dan media memproduksi dan mempromosikan produk
kecantikan untuk memenuhi keinginan perempuan agar terlihat menarik. Media
berperan dalam mensosialisasikan bahwa tubuh perempuan adalah objek yang harus
diperhatikan dan “diperbaiki”.
Dampak dari mitos kecantikan
ini cukup berat bagi perempuan, baik secara fisik maupun psikologis. Waktu,
tenaga, dan uang dihabiskan untuk mengejar standar kecantikan yang selalu
berubah, sementara laki-laki tidak menghadapi tekanan serupa. Oleh karena itu,
penting bagi perempuan untuk menyadari bahwa setiap orang unik, dan
membandingkan diri dengan standar atau orang lain hanya akan merugikan diri
sendiri.
Trisna Ari
Ayumika