Sekolah, Ruang Pembentukan Identitas
Dalam sejarah umat manusia, hampir tidak ada individu yang tidak
memanfaatkan pendidikan sebagai sarana untuk meningkatkan kualitas hidup.
Pendidikan dibutuhkan untuk menunjang peran individu di masa mendatang. Upaya
pendidikan yang dilakukan oleh suatu bangsa memiliki hubungan yang signifikan
dengan tingkat kemajuan bangsa tersebut di masa depan.
Dengan demikian, pendidikan dapat dikatakan sebagai sarana strategis untuk
menciptakan generasi yang berkualitas. Demi mewujudkan pendidikan dan masa
depan yang diharapkan, banyak orang tua memilih memasukkan anak-anak mereka ke
dalam institusi pendidikan formal, yaitu sekolah. Sebagian besar masyarakat
memandang sekolah sebagai institusi yang paling tepat untuk meningkatkan
kualitas hidup.
Namun, anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Sekolah tidak dapat
memberikan jaminan mutlak terhadap kualitas hidup seseorang di masa mendatang.
Keberhasilan pendidikan sangat bergantung pada kemampuan sekolah dalam
mengelola dan mengembangkan karakteristik peserta didik agar tumbuh menjadi
individu yang berkualitas. Oleh karena itu, sekolah juga harus memiliki
karakteristik dan kualitas internal yang baik sebagai bekal dalam
menyelenggarakan pendidikan yang bermakna bagi para siswanya.
Setiap sekolah memiliki karakteristik tersendiri yang terbentuk dari
kebiasaan-kebiasaan yang dijalankan oleh warga sekolah. Tidak jarang, kebiasaan
tersebut lahir dari gaya hidup yang dibawa masing-masing individu ke dalam
lingkungan pendidikan. Dalam konteks ini, sekolah menjadi ruang pertemuan
berbagai individu dengan latar belakang dan gaya hidup yang beragam. Untuk
meminimalkan potensi perbedaan yang dapat memicu permasalahan, sekolah kemudian
menetapkan seperangkat aturan.
Namun demikian, aturan-aturan tersebut tidak serta-merta mampu
mengendalikan seluruh perbedaan dan dinamika perkembangan gaya hidup warga
sekolah. Sekolah, sebagai tempat berkumpulnya individu-individu yang berada
pada fase remaja, mau tidak mau harus menyediakan ruang baru bagi para
siswanya. Oleh karena itu, sekolah tidak hanya berfungsi sebagai ruang
pembelajaran semata, melainkan juga sebagai institusi yang menyediakan ruang
bagi siswa untuk mengekspresikan eksistensi diri mereka sebagai remaja.
Ruang baru tersebut menjadi wadah bagi siswa untuk menampilkan identitas
diri mereka, bukan sekadar sebagai pelajar, tetapi sebagai individu yang sedang
membangun jati diri. Di dalam ruang ini, gaya menjadi sesuatu yang diperebutkan
dan dimaknai secara sosial. Di lingkungan sekolah, gaya dianggap penting karena
dipandang merepresentasikan identitas sosial setiap individu. Dengan demikian,
sekolah tidak hanya berperan sebagai ruang pembelajaran akademik, tetapi juga
sebagai arena perjuangan sosial.
Pierre Bourdieu menjelaskan bahwa arena sosial merupakan ruang
perjuangan di mana individu dan kelompok saling berkompetisi untuk memperoleh
pengakuan, status, dan legitimasi sosial melalui berbagai bentuk modal,
termasuk modal simbolik. Dalam lingkungan sekolah, gaya berpakaian, cara
bergaul, hingga pilihan atribut tertentu menjadi simbol yang digunakan siswa
untuk menegaskan identitas dan posisi sosial mereka di antara sesama. Sementara
itu, Erving Goffman memandang kehidupan sosial sebagai sebuah panggung, tempat
individu menampilkan diri di hadapan orang lain. Sekolah, dalam hal ini,
berfungsi sebagai panggung sosial tempat siswa “memainkan peran” tertentu dan
mengelola kesan yang ingin mereka tampilkan. Gaya menjadi bagian dari strategi
presentasi diri tersebut, karena dipersepsikan mampu merepresentasikan siapa
mereka dan bagaimana mereka ingin dipandang. Dengan demikian, sekolah tidak hanya
dapat dipahami sebagai institusi pendidikan formal yang berfokus pada transfer
pengetahuan akademik, tetapi sekolah juga merupakan ruang sosial dan budaya
yang memungkinkan terjadinya proses negosiasi identitas, pertarungan simbolik,
serta pembentukan makna sosial di kalangan remaja.
~ Trisna Ari Ayumika