Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2010

PPL: Berani Beda

Sudah beberapa minggu saya PPL di sebuah sekolah swasta yang cukup ternama di Jakarta. Banyak teman yang mengatakan jika PPL di sekolah ini sangat menyeramkan dan sulit, tapi saya tidak menghiraukan apa omongan orang. Bukannya saya belagu, tapi saya berpikir ini tantangan, tantangan yang tidak mudah. Kalau saya bisa melewati ini berarti saya bisa menghadapi tantangan yang mudah. Lagi pula, sudah sekitar setahun saya mengajar di sekolah ini, walaupun hanya menjadi pelatih ekstrakurikuler jurnalistik. Setiap saya datang saya pasti mengamati anak-anak yang bersekolah di sini. Dan, sejauh penglihatan saya, siswa-siswa di sekolah ini masih dapat dikategorikan baik ketimbang sekolah-sekolah yang pernah saya kunjungi. Hari demi hari saya lalui. Mengajar dan piket -di sebuah sekolah yang tentunya memiliki aturan- menjadi rutinitas mendadak. Membosankan? Pasti. Tapi ketika saya sedang dilanda kebosanan selalu ada angin segar yang lumayan bisa mengukir senyum di wajah saya. Tuhan menitipkan a...

Komersialisasi Pendidikan

  Pendidikan sebagai alat untuk mencerdaskan manusia sehingga mampu membebaskan dirinya dari segala bntuk penindasan, itulah hakikat pendidikan yang sesungguhnya. Sungguh mulia. Namun, mengapa pendidikan saat ini sulit dijamah mereka yang termiskinkan oleh sistem kapitalisme yang bertopeng neoliberalisme?! Pendidikan yang katanya merupakan hak setiap warganegara, seharusnya dapat dijamah oleh semua lapisan. Lantas, mengapa pemerintah justru mempersulit akses untuk memperoleh pendidikan bagi kaum menengah ke bawah ya?! Uuuhhhh…, TRAGISSS!!! Ide privatisasi kemudian muncul sebagai jalan untuk menuntaskan permasalahan pendidikan di Indonesia. Ide ini merupakan agenda besar pemerintah. Sebenarnya, privatisasi pendidikan hanyalah sebuah alasan pemerintah untuk melepaskan negara dari tanggung jawab guna memenuhi kebutuhan dasar warga negaranya akan pendidikan. Biaya pendidikan yang semakin mahal adalah salah satu dampak nyata dari privatisasi pendidik...

Feminisme: Masih Pentingkah?

Siapa yang berani mengakui secara terbuka bahwa dirinya adalah seorang penganut feminisme? Pasti tidak banyak yang berani mangakuinya. Pasalnya, feminisme cenderung dipandang negatif, dan para feminis dianggap membenci laki-laki, kebarat-baratan, individualistis, bahkan tak jarang yang menganggap feminis itu anti agama. Apa sih sesungguhnya feminisme? Mengapa para feminis digambarkan sebagai tokoh yang demikian negatif? Feminisme muncul karena adanya kesadaran akan ketidakadilan terhadap perempuan yang sudah lama terjadi. Sebenarnya, kaum perempuan sudah lama melakukan perjuangan untuk membebaskan diri dari ketidakadilan tersebut, tetapi pada waktu itu belum ada feminisme. Istilah itu mulai disosialisasikan oleh majalah Century pada tahun 1914, meski sejak tahun 1910-an kata feminisme (yang berakar dari bahasa Prancis) sudah kerap dipergunakan. Kata feminisme yang berasal dari bahasa Prancis ini, di negaranya pertama kali digunakan pada tahun 1880-an. Feminisme masih banyak disalah...

Wina: Semua untuk Ibu

Sosoknya sama sekali jauh dari kesan mewah, setidaknya dalam pengertian cara ia berpenampilan. Hampir dalam setiap kegiatannya, ia terlihat sangat sederhana dengan kemeja lengan panjang tanpa corak, rok yang menjuntai sampai menutupi mata kaki dan jilbab yang selalu setia membungkus kepalanya sampai menutupi dada. Cara berbicara santun, serius, dan terkadang terselip canda yang tak berlebihan. Namun, di tengah itu semua, ia sering dianggap sebagai sosok yang misterius, karena ia jarang berbaur dengan lingkungan sekitar. Wina, begitu ia dipanggil. Perempuan berdarah Palembang ini bernama lengkap Wina Wananingsih. Perempuan yang lahir pada 10 Desember 1987 ini merupakan anak pertama dari tiga bersaudara. Tanpa Bapak Wina mengingat saat pertama kali ia datang ke Jakarta, saat itu ia berusia lima tahun. Ia menempati rumah yang disewa bapak dengan uang pesangon dari tempat kerja di Palembang. Seminggu di Jakarta bapak belum mendapat pekerjaan. Tidak lama setelah itu, seorang tetangga men...

Taman Monas: Ruang "Terbuka" Publik

Taman Monas merupakan sebuah hutan kota yang dirancang dengan taman yang indah. Taman ini dilengkapi dengan berbagai fasilitas. Taman Monas merupakan RTH yang paling eksis. Hal ini terlihat dari banyaknya jumlah pengunjung yang datang. Selain karena Monas sebagai salah satu ikon kota Jakarta, Monas juga memiliki taman yang indah. Maka, tak jarang Monas dijadikan salah satu tujuan utama bagi orang-orang dari luar Jakarta yang ingin berekreasi. Taman Monas dapat dijangkau dengan kendaraan pribadi maupun angkutan umum. Salah satu angkutan umum yang ada yaitu Trans Jakarta. Dari Halte Bus Trans Jakarta Harmoni naik bus jurusan Blok-M, harga tiket Rp 3.500,-. Lalu, turun di Halte Monumen Nasional, halte pemberhentian pertama dari Harmoni. Keluar dari halte, Tugu Monas sudah bisa terlihat dengan jelas. Biasanya, di depan halte sudah ada delman yang siap menawarkan jasa untuk mengantar ke pintu masuk area Monas, tapi harga yang ditawarkan lumayan mahal, yaitu Rp.20.000,- sekali antar. Jika ...

Mimpi Sang Pemimpi

Gambar
Fiksi merupakan fenomena sosial yang memperoleh kebenarannya sendiri. Kebenaran fiksi terletak pada ide yang berangkat dengan fenomena pengalaman dan refleksi, itulah yang kemudian disebut karya fiksi sebagai fenomena sosial. Sama halnya dengan novel Sang Pemimpi. Ketika pendidikan telah menjadi momok yang mencemaskan kehidupan bangsa, seorang penulis melahirkan sebuah novel yang mengajak kita untuk merenungkan kembali hakekat pendidikan sesungguhnya. Novel Sang Pemimpi karya Andrea Hirata mengajak kita berpetualang dalam kisah masa kecilnya. Novel ini bertutur tentang perjuangan hidup yang harus dimenangkan dalam berbagai keterbatasan. Kehidupan Ikal, Arai, dan Jimbron jauh dari kriteria berkecukupan. Ibarat pribahasa Sudah Jatuh Tertiban Tangga , kebahagiaan seakan berusaha menjauh dari mereka. Di usia yang terbilang masih sangat muda Arai dan Jimbon harus kehilangan orang tua, sedangkan Ikal terasa terbebani dan tersiksa melihat sepupu jauhnya –yang tidak lain adalah Arai- m...

Feminisme, Menentang…

Gambar
Nama buku: Feminisme untuk Pemula Penulis: Susan Alice Watkins, Marisa Rueda dan Marta Rodrigues Penerbit: Resist Book Tahun terbit: Desember 2007 Tebal halaman: 176 Hal. Kami adalah perempuan yang punya posisi istimewa. Jutaan perempuan lainnya telah berjuang mencintai dan mati. Semuanya turut memberikan andil bagi kerja besar yang tiada henti dalam sejarah kaum perempuan.(Sappho, penyair besar pada masa yunani kuno,650 SM). Sebelum istilah feminisme ditemukan, sudah lebih dulu ditemukan berbagai bukti tentang gerakan perempuan, kebangkitan perempuan dan kekuasan perempuan yang sempat membuming. Feminisme muncul sebagai gerakan perlawanaan terhadap pembagian kerja disuatu dunia yang menetapkan kaum laki-laki sebagai yamg berkuasa dalam ranah public, seperti dalam pekerjaan, olahraga, perang, pemerintahan. Sementara kaum perempuan hanya menjadi pekerja tanpa upah di rumah, dan memikul seluruh beban kehidupan keluarga. Pada awalnya gerakan feminisme ...

Kekerasan yang Memeriahkan MPA

Gambar
Kamu tau tidak, MPA (Masa Pengenalan Akademik) selalu dimeriahkan oleh bintang tamu  yang bernama “kekerasan simbolik” dan “kekerasan verbal” lho… MPA, seremonial yang diselenggarakan pada awal masuknya maba (mahasiswa baru) sebelum menjalankan aktivitas perkuliahan. Dalam acara MPA maba akan diperkenalkan lingkungan akademik di dunia kampus yang asing bagi mereka. Jika dilihat tujuannya memang acara ini sangat bermanfaat. Namun, masih pentingkah kegiatan ini bila sudah melenceng dari tujuan awalnya? Atribut MPA merupakan salah satu komponen “penting” yang harus dipakai oleh maba pada saat mengikuti acara tersebut. Atribut yang digunakan maba berbeda-beda sebagai pembentukan kreativitas mereka di tiap-tiap jurusan. Tas, topi, nametag, dan atribut lainnya tentu  bukan seperti yang sering kita pakai dalam beraktivitas sehai-hari. Semua harus serba unik, berbeda dan aneh sehingga terlihat tampak lucu. Bukan tidak mungkin maba dengan  atributnya hanya menjadi baha...

Tandus*

Aku hanya seorang perempuan biasa saja. Tak pantas dibanggakan, karena tak ada yang bisa dibanggakan dari diriku. Maka aku tak berharap seseorang akan melakukan sesuatu yang lebih untuk mendapatkanku. Tapi… Kamu hadir dalam hidupku. Tanpa kumau. Tanpa kuundang. Dan tanpa kuduga sebelumnya. Rasanya masih seperti mimpi. Aku pernah melihatmu dalam khayalku. Kamu hadir membawa sejuta mimpi dan harap. Aku bertemu denganmu di dalam kesendirianku. Sosokmu yang berada di antara dunia imajinasi dan nyataku makin merajadi-jadi. Aku tak mampu menguasai pikiranku saat berada di hadapanmu, tapi sikapku selalu menolongku, menyeimbangkan situasi dalam diriku. Aku tak mau kamu tahu bahwa aku menyukaimu. Aku tak mau menjalin hubungan denganmu, karena aku tahu semua ini hanya mimpi yang sama sekali tak akan pernah bersentuhan dengan kenyataan. Sakit. Sudah pasti rasa itu kumiliki selama menyimpan rahasia ini.

DILEMA PENDIDIKAN DAN PENGANGGURAN: PENGANGGURAN TERDIDIK TEREKSKLUSI

  Dalam dunia pendidikan, masalah terbesar di Indonesia yang harus menjadi prioritas penyelesaian adalah kualitas dan mutu. Artinya, kualitas sistem dan metode pendidikan, tenaga pendidik, kesejahteraan tenaga pendidik, metode mengajar, dan infrastrukturnya harus ditingkatkan. Namun, ada satu hal yang perlu dicermati, yakni peningkatan kualitas pendidikan adalah sebagai titik penentu yang mempertinggi kesempatan orang-orang terdidik memperoleh pekerjaan. Hal tersebut bertujuan supaya dapat mengurangi angka pengangguran terdidik di Indonesia dan menekan laju pertumbuhan masyarakat tereksklusi. Pengagguran  Pengangguran atau tuna karya adalah istilah untuk orang yang tidak bekerja, sedang mencari kerja, bekerja kurang dari dua hari selama seminggu, atau seseorang yang sedang berusaha mendapatkan pekerjaan yang layak. Pengangguran seringkali menjadi masalah dalam perekonomian karena dengan adanya pengangguran, produktivitas dan pendapatan  masyarakat  akan berkurang...