Disiplin dan Keselarasan Hidup
"Mbak, rajin banget
olahraganya, kerjanya apa?"
Saya sangat sering mendapatkan
pertanyaan seperti itu. Lantas, kenapa orang sering mengaitkan kebiasaan kita
dengan pekerjaan? Saya pikir, karena selama ini kedisiplinan hanya dianggap
sebagai bagian dari rutinitas saja, bukan keselarasan hidup.
Kebanyakan dari kita
menghabiskan waktu 8 jam sehari untuk melakukan pekerjaan teratur, yang
tentunya memerlukan kedisiplinan. Faktanya, di luar itu kita memilih untuk
tidak menerapkan disiplin diri seperti yang dilakukan ketika kita bekerja.
Saat sedang libur, kita menjadi
lamban dan bermalas-malasan, karena merasa telah menghabiskan banyak waktu
untuk bekerja, sehingga harus melakukan "pemberontakan" dalam bentuk
pemanjaan diri (yang kekanak-kanakan).
Pun ketika berpuasa, kita bisa
disiplin mengikuti aturan-aturan yang berlaku, termasuk melakukan kontrol diri.
Namun ketika tiba waktunya berbuka puasa, kita lupa soal disiplin diri. Konsep
menahan hawa nafsu yang sejatinya menambah nilai positif pada diri, ternyata
hanya sebatas keterpaksaan untuk menjalankan ritual, maka
"pemberontakan" adalah hasilnya.
Hal itu tercermin pada perilaku
'serakah' dalam kegiatan konsumsi. Sayangnya, kita tidak menyadarinya. Atau
mungkin sadar, tapi kita menormalisasi hal tersebut, dengan alasan berjam-jam
menahan lapar dan haus, maka setelahnya harus dirayakan sebagai kemenangan;
memanjakan diri dengan perilaku konsumtif.
Kebanyakan kita memiliki
kecenderungan untuk berprasangka pada segala bentuk kedisiplinan, lalu
menjadikan tindakan 'memanjakan diri' sebagai penyetara dan penyeimbang
rutinitas hidup yang dipaksakan. Sehingga, sulit rasanya untuk melihat
kedisiplinan sebagai kesenangan dan sesuatu yang dirindukan ketika kita
berhenti melakukannya.
Tetap bergerak, jaga semangat!
Trisna Ari
Ayumika
