Kuasa Makhluk Jahat
Aku berjalan menembus hari-hari dengan sedikit senyum yang tersisa. Berkali-kali angin mencoba mematahkan langkah dan menghantam wajah, seolah memaksa untuk kembali pulang. Napasku tersengal, teringat kehidupan yang pernah menjanjikan pelukan hangat, tapi yang kudapat justru jerat panjang tanpa ujung, melilit di kaki, leher dan lidah. Kini, aku berusaha berdiri tanpa penyangga. Hatiku yang patah mencari tempat bersandar dalam reruntuhan harapan, di tengah kuburan empati manusia.
Kaki mulai gemetar, rasanya tak sanggup lagi menuruti jarak. Kuhentikan langkah, menyandarkan kepala pada dinding senja, sunyi lekas menggenggam tanganku. Aku merasakan jeda, waktu pun ikut menarik napas panjang bersama. Dunia sedikit melunak, mata melepas pandang kosong namun penuh, sedang hatiku mulai mengeluh, ”Aku lelah.”
Masa berjalan lambat, tapi pikiranku melesat cepat, jauh, menyusuri hari-hari yang telat lewat. Sunyi dan senja terdiam, seolah mengerti jika hanya tempat bersandar yang kubutuh saat ini. Bukan karena aku lemah, melainkan karena aku berani mengakui lelah, dan ingin merasa aman tanpa dijaga. Ya, aku butuh rasa aman, di tempat asing ini, seperti titik sunyi di antara riuhnya dunia.
Barisan pohon berdiri seragam, seperti prajurit yang menunggu giliran turun ke medan perang. Daun-daunnya yang hijau mengilap berbisik-bisik, bukan sedang bercerita, melainkan menjaga rahasia. Batangnya yang besar berpelepah menyembunyikan bayang-bayang panjang persekongkolan. Sepi, tak ada nyanyian serangga atau kicauan burung. Hanya keheningan mengalir di sela-sela buah merah yang bergerombol dalam tandan.
Konon, di sini, di mana alam dan manusia saling berjarak,
bersemayam makhluk tak berjejak yang lahir dari kuasa dan kegelapan. Seperti
pagar tak terlihat, mereka menjadi penjaga sekaligus pembawa petaka. Memerkosa
tanah hingga tak bisa bernapas, meneguk habis butir-butir embun, menelan
matahari hingga semesta tampak pucat. Serakah, tak pernah kenyang, tak pernah
palum.
Langit merunduk, guratan luka di cakrawala yang begitu nyata, membuat energi makhluk-makhluk tak bernama itu semakin kuat, siap untuk menjerat jiwa-jiwa yang telanjang tanpa sandaran.
Oh, aku menangkap suara napas yang menderu, kurasa mereka sedang mengintai dari sela pelepah. Wujudnya tidak begitu jelas, tersamar dalam bayang senja yang mulai pudar. Kini, tanah yang kupijak bergetar, langkah mereka menuju ke arahku. Sunyi semakin kuat menggenggam, senja memeluk erat. Makhluk-makhluk itu mencoba mengatakan sesuatu tanpa memecah sepi. Mereka berbisik, merapal janji.
Janji-janji yang menyelusup di antara keputusasaan, menggoda untuk diraih. Namun siapa yang tahu, jika itu mungkin hanya jebakan yang menjerat langkah secara perlahan, labirin yang penuh ilusi dan harapan-harapan yang akan melukai?
Sungguh cerdik, tidak mengotori tangan untuk menjerat, tidak memaksa, tapi mereka memanggil dengan buaian janji. Seperti Mammon, makhluk mitologi, interpretasi dari orang-orang serakah. Menjerat kecerdasan dan nurani manusia hingga melahirkan keserakahan yang membenarkan segala cara, bahkan yang terkeji.
Bibirku tak bergerak, namun otak terus bergejolak, membaca sesuatu yang tak pernah tertulis di mana pun, dan berdialog dengan diri sendiri. Tentang rahasia yang sengaja dibiarkan menjadi cerita. Tentang cermin yang berani menampilkan fakta. Maka petaka datang sebagai gantinya. Dan, di antara kekacauan, kelak aku dapat melihat keserakahan yang memakan tuannya sendiri. Ya, makhluk-makhluk itu akan saling memangsa.
Angin berhembus kencang, aku tetap memilih diam, mengingat langkah-langkah kecil yang telah kulalui, mengumpulkan sisa keberanian di dada, sebelum kembali ke jalan. Tanpa negosiasi, aku memutuskan menjauh dari makhluk-makhluk itu. Bukan karena takut, tapi karena aku tak mau menjadi bagian dari petaka.
Aku berusaha bangkit, sunyi dan senja membantuku berdiri tegak. Kini tumbuh keyakinan kecil, bahwa aku tak pernah sendiri melalui hari. Ada sunyi yang meneguhkan, dan cahaya senja yang setia berpendar dalam remangnya perjalanan. Mereka menjadi sandaran yang memberi rasa aman, dan harapan; betapa pun jauh dan terjalnya jalan di depan, aku masih bisa melaluinya dengan menarik napas panjang sekali lagi.
Mungkin hati yang patah masih tertinggal di belakang, atau di perjalanan berikutnya sudah siap menghadang. Tapi akan selalu ada tempat bersandar, memberi jeda untuk sedikit merasa tenang. Ya, aku selalu membutuhkan sandaran, karena kuat memiliki batas, dan lelah pun membutuhkan ruang.
”Entah makhluk apa lagi yang akan kutemui nanti. Mungkin
Batara Kala, Taotie, atau Dokkaebi. Apa pun itu, selama ada tempat bersandar,
aku bisa menghadapinya, atau setidaknya bisa mengumpulkan tenaga untuk kabur,”
candaku sambil berlalu meninggalkan sunyi dan senja.
~ Trisna Ari Ayumika