Ruang 'Antara'
Di kejauhan, cahaya matahari pudar di
balik langit abu-abu. Lampu-lampu jalan mulai memancarkan cahaya temaram. Angin
semakin liar menyentuh wajahku yang berjerawat, membawa singgah debu jalanan ke
sela pori-pori.
Kayuhan mulai terasa berat, tapi roda masih harus berputar lirih, bersentuhan dengan aspal yang masih basah bekas hujan siang tadi. Waktu agaknya berjalan lambat, mencipta ruang untuk pikiran yang tak bisa diam, lebih berisik dari detak jantung dan deru napas menuju malam.
Aku sampai di tujuan. Seseorang yang ingin kutemui menjemput di gerbang, masih dengan senyum khasnya yang ramah, meski kami bertemu di sela waktu yang jarang ramah. Ya, sore hari, jam pulang kantor, ketika energi sudah tercurah habis, hanya menyisakan sedikit harapan untuk segera kembali ke rumah.
Ia mendampingiku ke tempat parkir untuk menaruh sepeda. Kusandarkan sepeda di tiang lalu menguncinya. Kami langsung menuju kantin, yang ternyata sudah tutup. Sepi, hanya ada barisan meja dan kursi yang tersusun rapi, dan beberapa kipas angin gantung yang masih menyala.
"Di sini saja gak papa, ya?"
"Gak papa, Pak."
Kami
menarik kursi masing-masing, duduk berhadapan. Seperti biasa, karena aku
pendiam, ia yang mulai membuka diskusi. Aku mendengar dengan seksama setiap
kata-kata yang mengalir dari pikirannya. Ia berbicara bukan untuk meninggi,
tapi untuk membuka dan membentangkan logika. Aku belajar tanpa merasa
diperkecil, didengar tanpa keterpaksaan, dan dihargai tanpa harus meminta.
Kupikir, seperti itulah kecerdasan, ia hadir tenang tanpa banyak riak.
Diskusi selesai, kami tutup dengan makan malam bersama di warung tenda di seberang gedung. Ia memesan semangkuk gulai lengkap dengan nasi, aku pilih seporsi sate ayam dengan lontong. Lagi-lagi, aku ditraktir. Hehehe. Selesai makan, kami kembali ke tempat parkir untuk mengambil sepeda.
"Nanti
kamu belok kiri, lalu menyeberang di JPO," ia mengarahkan jalan pulang yang
lebih dekat.
"Iya, terima kasih, Pak."
Kami bersalaman, diiringi kalimat motivasi darinya. Separuh rasa tidak percaya diriku runtuh. Rasa tidak berharga yang selama ini membayangiku perlahan hilang. Malam ini kami berpisah dengan saling melempar senyum. Kemudian kutuntun sepeda meninggalkan gedung megah ini.
Di telinga, Norwegian Wood mengalun syahdu dari earphone, denting gitar akustik mengalir indah seiring dengan langkahku menapaki anak tangga JPO. Nada-nadanya menyelinap di antara tarikan napas yang teratur.
Di tengah jembatan aku melambat. Dari atas sini, lampu-lampu jalan, kendaraan dan gedung-gedung tinggi terlihat seperti gugusan bintang. Kuhentikan langkah sejenak, untuk membingkai gemerlap cahaya kota ini.
Denyut kehidupan semakin bertambah kencang, seiring kerasnya raungan mesin kendaraan dan derap langkah manusia, yang membawaku tiba di ’ruang antara’ ketenangan dan kebisingan. Aku meraba-raba langkah di ruang yang tak memiliki pintu dan jendela. Ada rasa penasaran, tapi juga takut terjebak. Sepanjang ruang ini sepi, tapi ramai dengan bisik, siul dan tatap.
Udara mendadak pekat, kesendirianku menjadi undangan yang disalahpahami, mendatangkan lebih banyak sosok dengan senyum dan suara manis namun beracun. Mereka mendekat, berusaha menodai dengan kata dan sikap yang menindas dalam balutan canda. Demi membuat susana interaksi terasa lebih hidup, mereka mengerdilkan martabatku, menjadikanku sebagai objek mati yang tidak boleh merasa terluka.
Tubuhku membeku, menelan rasa tidak nyaman, menyimpan keberatan dalam dada. Oh, buruk! Mereka bisa merasakannya. Tak ada empati. Kini, kami benar-benar timpang. Aku kecil, mereka besar. Aku tak berdaya, mereka memiliki kuasa. Ini mempertegas posisi, siapa yang harus menahan luka dan siapa yang boleh tertawa. Canda menjijikan itu semakin brutal mereka lontarkan, mengalir seperti doa-doa yang tak pernah sampai.
Tawa mereka semakin keras, menggaungkan kekuasaan yang menekan. Aku semakin tak berdaya di bawah kuasa yang menganga, tak lagi memiliki ruang dan suara. Apakah aku akan terus terperangkap dalam sunyi dan membiarkan gaung ketidakadilan tetap hidup, sehingga canda seksis ini berkembang tanpa kritik dan perlawanan, mendapatkan ruang di keseharian, menyelinap di balik keramahtamahan, dan diwariskan dari tawa ke tawa?
Tidak, aku harus mengalahkan situasi ini. Canda seksis bukan tanpa makna, tapi bentuk pelecehan seksual yang sengaja disamarkan. Tak hanya dalam bentuk sentuhan, tapi juga dalam bentuk non-fisik yang sering diremehkan; ucapan, siulan dan tatapan yang melampaui batas. Ini kekerasan, yang jika dibiarkan bisa mengikis martabatku dan meninggalkan luka, bahkan trauma.
"Kata-kata yang keluar dari mulut kalian itu sampah. Siulan kalian adalah suara kentut. Tatapan kalian seperti makhluk yang sedang sekarat," aku terkekeh.
Mereka murka, aroma peperangan segera terendus. Sepertinya kekerasan non-fisik, akan berubah menjadi kekerasan fisik. Aku memilih mundur, bukan karena takut, tapi untuk mempersiapkan senjata.
"Aku pasti kembali," ucapku tersenyum sambil menutup 'ruang antara'.
Di sela napas yang berirama, ada hening yang menyambut ramah. Dengan percaya diri kuturuni tangga di sisi seberang, seolah setiap pijakan mampu menguraikan pikiran yang kusut menjadi cahaya. Anak tangga ini banyak menyimpan serpih cerita, yang mengantarkanku untuk tiba dan melepaskan kalimat dari kepala; bahwa kecerdasan selalu beriringan dengan ketenangan, dan kebodohan selalu lekat dengan kebisingan.
Terlalu muluk, tapi..., "Semoga perjalanan yang tak (mungkin) mudah ini bisa melahirkan gema panjang sebagai bentuk perlawanan," batinku.
---------
30
Desember 2025
Dari JPO Widya Candra,
Trisna Ari Ayumika
