Perjumpaan Terakhir di Kelas Bermain Kecapi

Setelah hampir seminggu menghilang, aku kembali menginjakkan kaki di hutan kota ini, untuk terakhir kalinya. Langkah meraba tanah yang menyimpan kenangan, mata menangkap sepi di setiap sudut. Tak ada anak-anak yang berkejaran, juga tawa renyah, atau bisik-bisik rahasia yang biasa mereka sembunyikan.

Daun-daun kering berserakan, angin menggerakkannya perlahan, mencipta bunyi gesekan yang melengkapi sepi. Buah-buah kecapi jatuh dari dahannya, menggelinding lalu tergeletak begitu saja, perlahan membusuk dalam pelukan bumi. Aku mematung, membiarkan diriku menjadi saksi terakhir dari sebuah tempat yang pernah hidup, sebelum akhirnya kutinggalkan bersama segala yang tak bisa kubawa pulang.

Hembusan angin membawa aroma buah busuk memecah lamunan, mengantarku bergegas merapikan ruangan yang selama ini menyimpan seluruh barang kegiatan literasi. Ruang yang diam-diam telah menampung begitu banyak cerita, tawa, dan harapan. Meja kerja yang biasanya penuh dengan buku kini harus kosong kembali. Kotak pensil warna, kertas gambar, manik-manik, boneka, selusin gunting dan lem, botol-botol cat, mainan edukasi, dan bingkai kenangan yang dibuat dengan cinta, masing-masing membawa ingatan yang tak ringan.

Kupindahkan semua barang ke dalam mobil. Di sela kesibukan ini, aku terus mengingat wajah-wajah cerah yang menunggu giliran membaca, dan mata-mata yang berbinar menyimpan rasa ingin tahu. Aku berpikir di mana mereka sekarang.

Tak lama, satu per satu anak mulai berdatangan, memecah diam yang sejak tadi mengendap. Aku menyapa mereka, lalu memberi tahu akan ada kegiatan melukis. Senyum merekah, mereka saling berpandangan sejenak, anggukan kecil bermunculan.



Aku bertanya, apakah mereka mengetahui rumah Maryam atau Raisa. Salah satu dari mereka mengangkat tangan dengan yakin, ia berkata tahu rumah Raisa. Tanpa ragu, gadis kecil ini mengantarku. Langkah kami menyatu dalam irama yang tergesa. Gang-gang kecil sempit dan berkelok, dinding-dinding rumah yang berdiri rapat, jemuran pakaian menggantung rendah, dan aroma kehidupan sehari-hari yang menguar, menjadi saksi betapa dramatis perjumpaan terakhir ini. Hehehe.

Hingga akhirnya langkah kami melambat, dan berhenti. Di hadapan kami berdiri sebuah rumah sederhana, pintunya terbuka lebar. Aku diam sejenak, merasakan sebuah titik akhir dari perjalanan yang berliku. Rasanya seperti seorang guru di pedalaman yang menapaki hutan dan menyeberangi sungai demi menjemput harapan di depan pintu murid-muridnya. Hehehe.

"Assalamualaikum..., Raisa," kupanggil namanya dengan suara pelan agar tak terlalu mengejutkan.

Begitu suaraku menyentuh pendengarannya, Raisa menoleh ke pintu dan langsung terbelalak, seakan-akan bola matanya hendak meloncat keluar. Ia mematung dalam keterkejutan yang begitu murni. Detik itu, sepertinya bahasa kehilangan fungsi, tak ada kalimat yang sanggup menampung perasaan, tak ada suara yang mampu mewakili apa yang bergemuruh di dalam dirinya, selain kata, "Kak Mika!"

"Ayo, ke Kecapi, kita melukis. Ajak Maryam dan yang lain. Saya tunggu, ya!" ajakku.

Raisa dan adiknya berlari ke luar rumah. Tak lama Bintang muncul dari gang, ia sontak melompat-lompat begitu pandangannya bertaut denganku, tubuh kecilnya bergerak lincah tanpa kendali. Tawa cerah mengalir bebas dan riang, memenuhi udara di sekitar mereka yang tak sabar untuk menjemput Maryam.

Kami kembali ke hutan kota. Di tengah perjalanan aku bertemu dengan tiga anak lainnya. Kurentangkan tangan untuk menghadang. "Mau ikut melukis?" tanyaku. Tanpa pikir panjang mereka bersedia.

Tempat yang tadinya sepi, kini ramai dengan kehadiran mereka; anak-anak yang selama ini berpartisipasi dalam kegiatan literasi yang aku inisiasi dan kelola sendiri. Mereka duduk rapi, talenan kayu sebagai media lukis sudah siap menampung cerita. Kubiarkan tangan-tangan kecil itu belajar percaya pada imajinasinya sendiri.

Seolah semesta benar-benar merestui, kegiatan literasi terakhir ini berlangsung tanpa satu pun cela. Langit yang pada hari-hari sebelumnya selalu murung, saat ini menjadi ramah. Matahari menggantung tinggi tanpa digelayuti awan gelap. Burung-burung bernyanyi lebih lantang, tak mau kalah dengan suara canda.

Hari semakin siang, anak-anak silih berganti mencuci tangan yang berlumur cat, menandakan bahwa mereka sudah selesai dengan karyanya. Kemudian, aku memberikan pada masing-masing anak satu set spidol dan buku gambar yang kudesain sendiri, sebagai kenang-kenangan. Kegiatan ditutup dengan menikmati camilan donat dan berfoto bersama, lalu satu per satu pergi meninggalkan ruang terbuka hijau ini.

Aku segera merapikan perlengkapan mengecat dengan perasaan bahagia. Ya, kehadiran mereka membuatku bahagia, bukan sebaliknya. Itulah sebabnya, meski kegiatan ini kerap disepelekan, dianggap tak berguna, bahkan dituding menambah "kekacauan", aku tetap teguh melangkah.

Dalam riuhnya penilaian negatif, toh masih ada kebahagiaan yang lebih dari cukup untuk kembali menata buku, membuka kelas sains dan kreasi untuk anak-anak. Inisiatif ini datang bukan dengan "seragam kebesaran", melainkan dengan kerendahan hati dan keyakinan bahwa kebaikan bisa hidup di mana saja, bahkan di tempat kecil yang terabaikan. Dan, aku percaya, benih yang ditanam hari ini (sekecil apa pun), kelak akan menemukan caranya sendiri untuk tumbuh.

Hutan kota kembali sepi. Aku berdiri di depan ruangan yang nyaris telanjang ini, kututup pintu dan membiarkan kunci tetap menggantung di tempatnya. Jendela yang kutempeli foto-foto kegiatan menatap dengan bingung, seakan bertanya ke mana perginya tawa, sentuhan, dan hari-hari yang pernah berdenyut di sekitarnya. Majalah dinding pun menunduk lesu, seolah meratap ingin ikut bersamaku.

Aku tersenyum kecil, lalu berbisik perlahan, "Tetaplah tinggal, sampai waktu yang melepas kalian." Ruangan ini kembali diam, menjaga kenangan dalam sunyi. Akhirnya, kutinggalkan hutan kota, serta kursi dan meja kayu yang selalu setia menunggu sesuatu yang tak akan kembali.


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸

Sabtu, 31 Januari 2026

Dalam perjalanan menggunakan Hogwarts Express,

Trisna Ari Ayumika 🧙🏽‍♀️🪄

 

Postingan populer dari blog ini

Siapakah manusia Indonesia?

Gelandangan Ibu Kota

KEPENTINGAN POLITIK DALAM PERDA BERBASIS SYARIAT ISLAM