Krisis Aktivitas Bermakna

Kekurangan aktivitas menghancurkan kondisi baik manusia, itulah yang dikatakan Plato, dan saya sepakat.

Kenapa?

Dalam konteks sekarang, mampu mengisi waktu luang dengan baik adalah hal terbaru dalam peradaban, dan tidak banyak orang dapat mencapai tingkatan ini.

Kebanyakan orang ketika dibebaskan untuk mengisi waktu luang sesuai pilihan sendiri, mereka akan kesulitan, bingung. Berpikir 'apa kegiatan yang cukup menyenangkan untuk dilakukan'. Tapi, ketika berhasil memutuskan apa yang dapat dilakukan, mereka akan tetap terusik oleh pikiran 'pasti ada kegiatan lain yang lebih menyenangkan'.

Kenapa sulit?

Karena terbiasa melakukan kehidupan monoton, disodorkan hiburan pasif, seperti menonton TV atau bermain gadget. Tidak terbiasa keluar dan mengeksplorasi. Jadi yang dipahami, dunia itu hanya sebatas layar TV dan handphone, semua dapat dilihat dan diketahui dari situ. Padahal bagian terpentingnya bukan sekadar 'lihat' dan 'tahu', tapi bagaimana 'lihat' dan 'tahu' itu memberi/membentuk pengalaman bagi diri.

Kemudian, kehidupan monoton itu mengonstruksi pikiran, bahwa tidak ada hal-hal lain yang cukup menyenangkan untuk dilakukan. Sehingga lahirlah alasan-alasan untuk tidak melakukannya, dan cenderung melihat sisi negatif dari aktivitas menyenangkan yang dilakukan orang lain. Buruknya, intensitas pikiran negatif menjadi lebih menggairahkan, dan menjadi kesenangan baru. Namun, kesenangan baru semacam ini adalah jenis kesenangan yang lebih cepat membangkitkan rasa jenuh, membuat hidup menjadi "gerah" dan "kotor", jauh dari tentram, dan seperti yang dikatakan Plato, menghancurkan kondisi baik manusia.

Maka, jika Anda mampu mengisi waktu luang dengan aktivitas yang membangkitkan kegairahan positif, Anda adalah spesies langka. Berbanggalah.

Trisna Ari Ayumika

Postingan populer dari blog ini

Sekolah, Ruang Pembentukan Identitas