Pertemuan dengan Cahaya

Di sepanjang sisi sungai aku berlari dengan langkah terukur, menyusuri jalan basah yang masih menyimpan sisa hujan semalam. Udara lembap melumuri kulitku, aroma tanah menyertai irama napas yang kian teratur. Rambutku bergerak lincah mengikuti denyut di dada yang mulai menemukan tempo.

Setelah melalui sepuluh kilometer jarak, langkahku menyerah pada diam. Keringat mengalir di pelipis dan leher, berbaur dengan napas yang mulai terengah. Dadaku naik turun seperti ombak kecil yang sudah lelah menjemput pantai. Kulempar pandang kepada sungai yang tenang. Airnya bergerak pelan, memancarkan cahaya matahari yang pecah menjadi kilauan.

Di sini, di pinggir sungai ini, aku berdiri diam, merasakan denyut jantung yang menyatu dengan irama kontras, antara sungai yang tenang, dan segala perasaan tak bernama yang kembali mengoyak. Kemurungan segera datang tanpa mengetuk, seperti gerimis yang tiba-tiba jatuh ketika matahari sedang panas-panasnya.

Aku menunduk, air mata terasa mengambang, menunggu saat yang tepat untuk jatuh. Sayangnya, dunia tak pernah menyediakan waktu untuk luka dan harapan-harapan yang patah tanpa penghakiman. Kutarik napas dalam-dalam, hingga air mata yang menggantung menguap menjadi luka baru, memupuk keinginan untuk mengakhiri hidup. Benar, aku memutuskan mati.

Belum selesai kusempurnakan keputusan besar ini, seorang gadis kecil menarik ujung bajuku, seolah ingin memberi tahu keberadaannya. Mataku dan matanya bertemu. Ia terluka, tapi masih bisa membagi senyumnya padaku. Ya, ada lebam kebiruan di sekitar mata kirinya. Aku mengulurkan tangan untuk disambut tangannya yang berkulit pucat.

”Siapa namamu?” tanyaku.

Dengan ceria ia menjawab, ”Aku Cahaya.”

”Aku Laras. Cahaya, kamu baik-baik saja?”

Ia mengangguk, ”Aku baik, cuma sedikit lebam.”

”Kamu boleh bercerita kalau kamu mau.”

”Semalam aku dipukul ayah,” ucapnya dengan suara bergetar.

Aku menggandeng tangannya, kuajak ia duduk di sebuah kedai yang baru saja dibuka. Kami melanjutkan berbincang sambil menikmati minuman cokelat panas.

”Ayah sering memukulku, adik dan ibu,” Cahaya berusaha menyambung ceritanya.

”Kalau nggak nyaman, kamu nggak perlu melanjutkan. Aku akan tetap di sini menemani sampai kamu merasa lebih baik.”

Cahaya mengaduk-aduk minumannya. ”Nggak papa, aku sudah terbiasa, Kak.”

Dinding-dinding menyimpan ingatan, suara detak jam menautkan tangisan, harapan berhamburan di sudut-sudut lantai. Rumah tak lagi bernama rumah, yang seharusnya memberi pelukan justru menyuguhkan badai. Ketika pukulan-pukulan mendarat di tubuhnya yang kurus, Cahaya hanya bisa menakar napas, bertahan dalam senyap, tanpa bertanya sebab kesalahan yang bahkan mungkin tak pernah ia lakukan.

Luka semakin terasa nyata. Namun, aku merasa ada yang tumbuh di antara kami, seperti harapan kecil yang minta untuk dinyalakan. Pikiranku berbelok, mungkin sekarang belum waktunya aku untuk mati.

”Kamu tunggu di sini sebentar, ada yang harus kubeli.”

Aku menuju ke sebuah toko untuk membeli buku tulis, kemudian segera kembali. Cahaya masih duduk di kursi yang sama, menatap secangkir cokelat miliknya yang mungkin sudah dingin. Buku yang kubeli kuberikan padanya, seolah sedang menitipkan cahaya kecil di tengah malam panjang yang sedang ia lalui.

Di buku itu ia bisa menangis tanpa dipaksa diam, takut tanpa direndahkan, marah tanpa diancam, dan tertawa tanpa dicurigai. Aku berharap, halaman-halaman sunyi itu bisa menjadi tempat beristirahat untuk hatinya yang ingin sembuh.

”Kamu bisa menulis apa pun. Sabtu depan kita bertemu lagi di sini, bawa buku itu untuk kubaca. Kalau kamu bersedia.”

Cahaya tersenyum lebar, matanya membulat penuh, seperti baru saja menemukan rumah baru sebagai tempatnya berlindung. ”Kita harus bertemu lagi. Terima kasih, Kak.”

”Ayo, lari bersamaku. Tanpa alas kaki lebih baik,” ajakku sambil melepas sepatu.

Cahaya segera menenteng sandalnya. ”Kejar aku kalau Kakak bisa!”

Kami melesat dengan cepat meninggalkan dua cangkir kosong di meja kedai yang mulai ramai. Kerikil-kerikil kecil berderak di bawah telapak kaki. Angin mengibarkan rambut cokelat Cahaya, dan lebam di matanya seakan memudar seiring dengan gerak dan tawa. Tawa yang rapuh di antara napas yang terengah namun tangguh.

Cahaya mulai melambatkan laju. ”Aku sering melihat Kakak lari di sini.”

”Tapi aku baru pertama kali melihatmu,” sahutku.

”Kakak suka berdiri tepi sungai dan selalu sendiri. Beberapa kali Kakak membeli air mineral dari ibuku,” jelas Cahaya.

”Ibumu berjualan di sini?”

”Kadang-kadang. Aku selalu menemaninya kalau libur sekolah.”

”Pantas kamu nggak canggung mendekatiku.”

Laju kami semakin melambat, mengatur napas, kembali menyetarakan langkah. Angin berbisik lirih, mengingatkan bahwa pertemuan ini bukan sebuah kebetulan. Kurasakan ada kehidupan lain yang memanggilku untuk tetap ada.

“Waktu lari,” ucap Cahaya lirih, “aku merasa pikiranku berbaris rapi. Nggak saling bertabrakan. Nggak saling berteriak.”

Dulu, aku juga merasa begitu. Saat kaki bersentuhan dengan tanah, pikiranku menemukan irama yang membuatnya menjadi terang. Tapi akhir-akhir ini, berlari saja tidak cukup untuk menuntun gelisah menemukan tempo yang tenang. Perasaan ambigu ini masih tetap tinggal, tak bisa kudeskripsikan bentuknya, dan tak bisa kujelaskan sebabnya.

”Sudah hampir siang, aku harus pulang. Kamu juga harus pulang.”

”Iya, Kak. Sabtu depan kita ketemu, ya?” Cahaya memastikan.

”Tentu. Semoga cuaca bersahabat.”

Cahaya bersemangat, ”Kalau hujan, kita main hujan-hujanan, Kak!”

”Ide bagus.”

Kami tertawa bersama, kemudian berpisah. Ia menyeberang jalan dengan hati-hati. Aku menyeberang jembatan dengan pikiran gelap untuk mati. Untungnya, masih ada jejak Cahaya menuntunku. Sebentar bersamanya udara terasa menjadi lebih lapang, seolah pikiranku diberi ruang untuk bernapas dengan selaras, sehingga akal tidak menjadi tiran, dan emosi tidak menjadi badai. Keselarasan akal dan emosi ini membimbingku menentukan cara terbaik untuk mati, agar kelak aku tidak berakhir di rumah sakit jiwa, seperti Veronica.

-----------------

Terispirasi dari kisah nyata.

14 Januari 2026

 


Postingan populer dari blog ini

Sekolah, Ruang Pembentukan Identitas