Berdamai dengan Kesepian
Hari ini panas sekali, seolah
matahari bergerak selangkah lebih dekat, kemudian lidahnya menjilati permukaan
bumi. Keringat terus mengucur sebelum sempat kuseka. Kaki tak henti melangkah
mencari teduh. Berharap siang ini segera selesai, tapi apa boleh buat, terik
tanpa ampun membuat waktu berjalan lambat. “Andai setelah ini berganti
mendung,” harapku.
Angin berbisik-bisik, dedaunan
bergemerisik, perlahan riak awan bergerak, mengubah langit biru menjadi abu-abu
tenang. Udara membawa sejuk, seolah mengisyaratkan butir-butir hujan sedang
menunggu waktu yang tepat untuk jatuh ke tanah. Kurasa, waktu telah kembali
bergerak dengan ritmenya.
“Semesta mendengarku.”
Di bawah naungan mendung ini,
aku melakukan petualangan kecil yang menjanjikan rasa manis di ujung
perjalanan. Dengan langkah ringan aku bergegas, diiringi angin yang membawa
aroma ceria. Papan penuh warna cerah yang sedikit tertutup bayangan pepohonan itu
mulai terlihat. Kupercepat langkah, semakin dekat, semakin kurasa dingin yang
menyenangkan. Aku tersenyum lebar, membuka pintu, dan tentu saja memesan dua
porsi es krim, vanila dan matcha. Ya, aku selalu memesan dua, karena satu
terlalu ganjil, tidak cukup mencipta harmoni. Bukan karena ia kurang, tapi
karena ‘satu’ harus bisa menjadi awal. Lagi pula, bukankah semesta begitu luas
untuk ‘satu’ yang hanya berdiri sendiri?
Lalu kuambil tempat duduk di
luar, agar bisa merasakan bau perkawinan antara tanah dan hujan yang datang
dari kejauhan. Kunikmati dua es krim ini satu per satu. Setiap rasa membangun
dunia sendiri; sama-sama manis dan dingin, namun beda sensasi. Vanila memberi
kesan lembut dan gembira, sedangkan matcha menawarkan keteguhan dan kedamaian.
Keduanya bertemu di lidah, melahirkan kehangatan dalam dinginnya. Waktu pun
berhenti sejenak untuk merayakan pertemuan yang padu ini.
Tiba-tiba….
Petualangan rasa ini pecah
ketika Kesepian menyapa dengan tatapan halus yang menusuk dada. Ia adalah
keheningan panjang, duduk di sisiku tanpa suara, memenuhi “ruang” sempit ini
dengan perasaan yang sulit kujelaskan. Tapi, entah sejak kapan aku mulai menyukainya,
ia seperti teman lama yang datang tanpa diundang, paling tahu kapan harus
duduk, diam dan bicara.
“Sedang apa kau di sini?”
“Menemanimu,” jawabnya dengan
tenang.
Aku terkejut, ini kali pertama
ia berdialog dengan kata, selama ini hanya berbicara melalui suara angin, detak
jam di dinding, langkah kaki, atau getaran dari gesekan antara roda kereta
dengan rel yang ada di seberang toko es krim.
“Maukah berbagi es krim
denganku?” sambungnya.
Aku mengernyitkan dahi, “Kenapa
aku harus berbagi denganmu?”
“Aku menginginkan semua hal
yang tak bisa kudapatkan sewaktu kecil, salah satunya itu.” Ia menunjuk es krim
milikku.
Aku terdiam sesaat, kembali
menengok ke dalam ruang ingatan, meneriakkan luka yang tak pernah terkatakan,
menggemakan isi pikiran yang selama ini kusembunyikan.
“Ambil sebanyak yang kau mau,
jika kurang aku akan membeli lagi untuk kita,” sahutku.
“Andai aku bisa sepertimu,
membeli es krim sebanyak yang kumau. Tapi, jangankan es krim untuk makan saja
aku sering berutang beras, telur atau mie instan di warung. Orang-orang di
sekitar tahu kebiasaan itu, dan mereka terus mengolok-olok. Padahal aku hanya
berutang, bukan mencuri,” ucapnya pilu.
Begitulah faktanya, berutang
demi “sesuap nasi” dipandang lebih hina seolah dosa yang tak bisa diampuni.
Sebab mengisi perut menjadi denyut paling dasar dalam hidup, sehingga berutang
untuk makan kerap dilabeli kegagalan, keputusasaan dan hilangnya kemandirian
hidup. Tapi, kenapa berutang untuk memoles citra diri dianggap lumrah? Pakaian
mewah, gawai terbaru, mobil mengilap, bahkan sebatang rokok yang tak pernah
memberi rasa kenyang, bisa lebih mudah didapat hanya dengan menukar harga diri.
Tak heran, di antara perut yang merintih dan gengsi yang tinggi, kemewahan
palsu lebih mudah diterima daripada kemiskinan yang jujur. Barangkali ada
semacam ‘kewajiban sosial tak tertulis’ yang memaksa manusia terlihat layak di
mata sesamanya.
“Mungkinkah mereka yang
mengolok-olok rasa lapar orang lain sebenarnya sedang melakukan mekanisme
pertahanan diri dari rasa takut berada di posisi yang sama?” tanyaku.
“Atau, sebenarnya mereka
menyadari situasi sulit yang kualami tapi tidak bisa membantu, sehingga
mengolok-olok menjadi bentuk pelarian dari rasa bersalah karena tidak bisa
berbuat apa-apa?” tambahnya.
Aku mengangguk, “Semua
mungkin.”
Hidup selalu berputar, hari ini
menanjak, mungkin esok tergelincir. Siapa pun bisa berenang di kubangan
kemiskinan. Mengolok-olok kemalangan menjadi cara paling rendah untuk menolak
empati, membuat orang yang kelaparan enggan mencari bantuan untuk bangkit,
terjerumus ke lubang kemiskinan yang lebih dalam, tersesat di jalan yang
mengaburkan nurani, atau membiarkan rasa lapar membunuhnya pelan-pelan.
“Melalui berbagai kesulitan
kita belajar bahwa dunia tidak dibuat untuk kita, betapa pun kita mendambakan.
Jadi, jangan fokus pada sesuatu yang tidak bisa kita kendalikan. Tinggalkan
masa lalu yang tidak bisa diubah, kau bisa fokus pada masa depan,” sambungku.
Kesepian menerawang jauh,
“Mengapa perasaan kita berbeda terhadap masa lalu dan masa depan? Aku bisa
memikirkan masa depan, membayangkan hal-hal bahagia yang akan terjadi, tapi aku
juga tak pernah bisa memaafkan masa lalu.”
“Karena ada ’harapan’ yang bisa
memengaruhi masa depan, tapi tidak masa lalu. Sebagian masa depan mungkin dalam
kendali kita, sedangkan masa lalu tetap tidak berubah. Tapi, di setiap masa
depan, suatu hari akan menjadi masa lalu juga. Apakah kau memilih terus seperti
ini hingga kau mati?”
Kesepian semakin menampakan
sisi lemahnya, “Aku masih marah jika mengingatnya.”
“Amarah itu seperti perbudakan,
memaksa diri kita untuk dipenuhi dengan pikiran jahat. Berdamailah.”
Kesepian mengambil salah satu
es krimku, “Aku tidak suka matcha, tapi aku akan mencobanya.”
“Pilihan yang bagus,” kataku
dengan semringah.
Beginilah Kesepian, seringkali
menampakkan rasa sesak, seperti percakapan sunyi antara aku dan perasaan yang
selama ini enggan didengarkan. Berdialog dengannya membuatku mampu untuk jujur
tentang kerapuhan diri. Dan meskipun berat, ada kalanya dari dialog sunyi
inilah aku menemukan cara untuk memahami, menerima, berdamai, dan memaknai.
Bahwa kebahagiaan tidak selalu ramai dan mendapatkan “tepuk tangan”, kadang
hanya cukup dengan ketenangan dan sepi yang tak lagi menakutkan.
Pada akhirnya, Kesepian bukan
sekadar ketiadaan, tapi keberanian yang tegas, keindahan yang dingin tanpa daya
tarik yang melemahkan, dan nalar murni yang tak mengenal kompromi. Ia bagai
bangunan megah dari hasrat yang penuh gairah akan kesempurnaan. Dan, aku harus
berterima kasih pada langkah-langkah kecilnya yang tak (perlu) dilihat orang
lain.
“Esok aku kembali,” bisik
Kesepian.
Aku mengangguk dan tersenyum,
sambil menjilati es krim yang semakin mencair. Berharap rasa dingin yang lembut
ini bisa membalut resah hati di penatnya hari.
_ _ _ _ _ _
4 Desember
2025
Dalam
keheningan hutan kota,
Trisna Ari Ayumika