Grey Man yang Retak: Kisah Eddy dan Ilusi Kejantanan (Analisis Model Perilaku Maskulinitas Hegemonik)
Cerita ini bertutur tentang Eddy. Bukan Eddy Tansil tentu saja, tapi Eddy Burung. Jangan bertanya dulu, kenapa ada embel-embel ’Burung’ di belakangnya. Baca sampai selesai, maka kalian akan mengerti.
----------
Di sebuah kota imajiner yang tidak terlalu besar tapi cukup penuh gosip, hidup seorang laki-laki bernama Eddy. Menurut pengakuannya sendiri, Eddy adalah “paket lengkap”: misterius, keren, dan berbahaya. Bahkan tanpa ragu, dia menyebut dirinya sebagai Grey Man.
Eddy sudah menikah dengan seorang perempuan yang katanya sangat dia cintai. Namun, entah kenapa pernikahannya dilakukan secara diam-diam, mungkin dia merasa status “setengah rahasia” lebih fleksibel untuk hobi utamanya: mengejar banyak perempuan. Untungnya hubungan underground tersebut tidak berlangsung lama, sehingga perempuan yang tidak beruntung itu bisa lepas dari jeratan Eddy.
Bagi Eddy, dunia ini seperti buffet. Ada gadis, janda, bahkan istri orang, semuanya dia dekati dengan percaya diri tingkat dewa Zeus (anti rungkad). Metodenya pun khas, kirim pesan berisi curhatan dramatis, dilanjutkan rayuan yang dia anggap puitis, dan sesekali pesan ambigu yang membuat hidung penerimanya kembang kempis. Dalam melancarkan aksinya, Eddy punya strategi utama: menjual kesedihan.
“Aku belum menikah karena selalu bertemu dengan perempuan yang salah…” katanya ke satu perempuan.
“Aku pernah hampir menikah, tapi calonku kena penyakit ganas, lupus, kutil babi, kaki gajah…” celotehnya ke yang lain.
Lucunya, kalimat semacam itu dia kirim ke lima orang sekaligus. Pernah suatu hari, salah satu perempuan membalas, “Aku ngerti kok, Mas.” Di saat yang sama, empat perempuan lain juga membalas hal serupa. Eddy bingung harus balas yang mana dulu, akhirnya dia cuma kirim emoji sedih ke semuanya. Lebih efisien, pikirnya.
Eddy juga punya preferensi khusus: perempuan bertubuh atletis. Katanya, “lebih enak dilihat, sehat dan berenergi.” Padahal, yang tidak enak dilihat dan sering ngos-ngosan itu justru Eddy, wajar sih sudah golden age. Biasanya, di usia segitu orang sudah tidak sibuk mengejar pengakuan. Ya, benar juga sih. Eddy tidak mengejar pengakuan, tapi mengejar banyak perempuan (ujung-ujungnya juga untuk mendapat pengakuan kan?). Dia melihat perempuan bukan sebagai individu, tapi sebagai target dan koleksi untuk memenuhi fantasi seksualnya.
Soal uang, Eddy ini unik. Kadang royal, suka traktir makan dan belikan hadiah, seperti sport bra, kantjut, dan ikat rambut, untuk perempuan yang dia sukai. Cuma hadiah kecil sih, tapi kalau targetnya perempuan rentan, Eddy bisa menang banyak dengan usaha yang apa adanya itu. Tapi di lain sisi, Eddy juga punya bakat tersembunyi: memeras secara halus.
“Aku lagi ada masalah besar, tapi aku nggak enak minta bantuan…”
Kalimat itu biasanya diikuti dengan transferan dari korban yang merasa iba. Wah, double kill! Uang dapat, hasrat seksualnya juga terpenuhi. Lalu, apa sih pekerjaan Eddy, kok bisa memanipulasi banyak perempuan?
Kalau ditanya soal pekerjaan, Eddy selalu punya jawaban, “Aku intel.” Padahal, satu-satunya hal yang dia selidiki setiap hari adalah story perempuan incarannya. “Kerjaanku nggak bisa diceritakan,” katanya penuh misteri. Memang benar. Bukan karena rahasia negara, tapi karena tidak ada yang bisa diceritakan.
Di media sosial, melalui tulisan-tulisannya Eddy membangun citra sebagai individu yang agamis dan intelek. Bahkan, tanpa malu-malu dia sering menyebut almamaternya, meski tidak pernah lulus dari sana. Dia juga banyak bercerita bertemu dengan tokoh-tokoh hebat. Ini upaya Eddy untuk memvalidasi citranya.
Begitulah cara Eddy membingkai diri untuk mendapatkan perhatian dan kepercayaan dari perempuan-perempuan rentan.
Ironisnya, Eddy merasa dirinya benar-benar keren. Dia sering bercermin sambil berkata, “Orang kayak gue jarang.” Betul juga sih, jarang ada orang yang se-PD itu tanpa alasan kuat. Bahkan Benedict Cumberbatch dalam perannya sebagai Sherlock Holmes, kalah telak dari Eddy soal kepercayaan diri tanpa dasar ini.
Yang lebih gong lagi, Eddy seperti punya kebutuhan validasi ektrem. Ini dibuktikan dengan kebiasaannya yang aneh: mengirim foto intim ke banyak perempuan. Suatu hari dia mengirim foto kemaluannya ke seorang perempuan yang baru dikenalnya beberapa minggu. Sesaat Eddy merasa puas, tapi kepuasannya segera hilang ketika dia membaca balasan dari perempuan itu:
“Penis sekecil botol Albothyl aja lo pamerin, sadar dong punya lo itu udah karatan. Gak usah sok keren. Mending gosokin tuh selangkangan lo yang warna abu-abu metalik motif loreng PP. Dasar mokondo!”
Eddy menatap layar ponselnya lama. Kata-kata itu seperti menampar bukan cuma wajahnya, tapi juga harga dirinya yang selama ini dia bangun dengan penuh kepalsuan. Jari-jarinya gemetar, bukan karena marah saja, tapi juga karena untuk pertama kalinya dia merasa benar-benar “terlihat”.
Selama ini, Eddy selalu merasa berada di atas angin. Dengan keberanian palsu di balik layar, dia mengira semua itu adalah bukti bahwa dirinya “diinginkan”. Tapi pesan yang barusan itu meruntuhkan ilusinya dalam sekejap.
Dia membuka ChatGPT, untuk curhat.
“Gue kayaknya kena karma,” ketiknya ragu. Beberapa detik terasa lama. Eddy menarik napas dalam, seolah sedang menunggu vonis. Dia melanjutkan:
“Selama ini gue suka mainin cewek. Tapi barusan gue dihina. Dan anehnya, gue gak cuma marah, gue juga malu. Kenapa ya?”
Eddy bersandar di kursinya. Dia tidak sedang berpura-pura jadi sosok yang keren. Tawa-tawa yang selama ini dikira kemenangan, sekarang terdengar kosong. Di titik ini, Eddy cuma seorang laki-laki yang sedang kebingungan menghadapi dirinya sendiri.
“Jangan-jangan…” gumamnya pelan, “…selama ini gue yang sebenarnya gak beres?”
Pertanyaan itu menguap. Eddy melupakan ChatGPT, lalu membuka Shopee, mencari obat pemutih selangkangan.
----------
Perilaku Eddy bisa dipahami melalui kajian gender yang disebut sebagai maskulinitas hegemonik, yakni gambaran tentang “laki-laki ideal” yang dianggap harus dominan, terutama secara seksual, punya kontrol atas perempuan, dan diakui dengan “penaklukan”. Tapi dalam kasus Eddy, maskulinitas ini sebenarnya tidak kuat. Justru rapuh. Dia sangat bergantung pada pengakuan dari luar, mudah merasa terancam saat ditolak, dan akhirnya berusaha “menutupinya” dengan cara berlebihan, misalnya mengejar banyak perempuan, bersikap hiperseksual, atau memamerkan diri. Jadi, perilaku Eddy bukan sekadar “nakal”, tapi lebih ke usaha terus-menerus untuk membuktikan bahwa dirinya “cukup laki-laki”.
Cara Eddy memperlakukan perempuan juga menunjukkan relasi yang tidak setara. Perempuan dilihat cuma sebagai target, sumber validasi, bahkan objek untuk memuaskan kebutuhan emosional dan seksualnya. Dalam pola ini, laki-laki jadi pihak yang aktif dan berkuasa, sementara perempuan diposisikan sebagai objek. Ini adalah bentuk objektifikasi yang sudah lama hidup dalam sistem patriarki.
Lebih jauh lagi, tindakan seperti manipulasi perasaan, memanfaatkan empati, sampai mengirim foto intim tanpa persetujuan, sebenarnya termasuk kekerasan berbasis gender, meskipun sering dianggap “biasa saja” atau tidak disadari. Memang, perilaku Eddy jelas salah. Tapi penting juga melihat bahwa ada sistem sosial yang ikut membentuk, yang mengajarkan bahwa jadi laki-laki itu harus dominan, yang menormalisasi objektifikasi perempuan, dan yang sering tidak memberi konsekuensi tegas pada perilaku manipulatif.
Selama ukuran “kejantanan” masih dilihat dari berapa banyak perempuan yang bisa “didapat”, bukan dari kemampuan membangun relasi yang sehat dan setara, maka akan selalu ada “Eddy-Eddy” lain. Pada akhirnya, Eddy bukan cuma soal satu orang, melainkan sebuah potret kecil dari pola yang lebih besar di masyarakat. Pola yang diam-diam sering kita biarkan, kita anggap wajar, dan jarang kita lawan secara serius.
Trisna Ari Ayumika