Fenomena Identitas Perempuan di Sekitar Anak

Aku baru menyadari bahwa Rona sudah tumbuh besar ketika ia melontarkan beberapa pertanyaan yang, jujur saja, tidak pernah terlintas dalam pikiranku ketika aku seusianya.

-----

Pertanyaan pertama, kenapa kebanyakan perempuan bergantung pada laki-laki?

Aku menjelaskan dengan sederhana, "Di budaya kita, perempuan dan laki-laki dibiasakan punya tugas yang berbeda. Laki-laki bekerja di luar rumah untuk mencari uang, sementara perempuan lebih sering di rumah mengurus keluarga. Jadi, kelihatannya perempuan bergantung pada laki-laki. Gimana nggak bergantung, perempuan nggak boleh sekolah tinggi, nggak boleh bekerja, ya otomatis mereka lebih bergantung ke laki-laki secara ekonomi. Juga ada tekanan sosial kalau laki-laki harus menafkahi, sementara perempuan (boleh) bergantung. Anggapan bahwa perempuan lebih lemah dibanding laki-laki juga membentuk pandangan 'perempuan selalu bergantung pada laki-laki'. Padahal, kalau dikasih kesempatan yang sama, perempuan juga bisa mandiri seperti laki-laki. Bisa sama-sama kuat, saling membantu, saling mendukung, bukan bergantung."

Pertanyaan kedua, kenapa kebanyakan anak laki-laki lebih bandel dari anak perempuan?

"Lagi-lagi, di budaya kita, sejak kecil anak laki-laki dan perempuan diperlakukan berbeda. Anak laki-laki boleh aktif, agresif, bahkan kalau bandel dinormalisasi 'namanya juga anak cowok'. Sedangkan anak perempuan dituntut harus kalem, lembut, dan nurut. Jadi, perilaku anak laki-laki terlihat lebih bandel karena memang dibentuk. Selain itu, anak perempuan biasanya lebih dipantau, jadi peluang bandelnya lebih kecil atau lebih tersembunyi. Intinya, anak laki-laki lebih dikasih ruang untuk berperilaku agresif, sedangkan anak perempuan nggak. Akibatnya, perilaku bandel lebih terlihat di anak laki-laki. Jadi itu bukan alamiah ya, Kak."

Pertanyaan ketiga, kenapa lebih banyak kasus anak membunuh ibunya daripada membunuh bapaknya?

"Memang iya?" tanyaku.

Rona menjawab dengan yakin, "Iya, Kakak lebih sering dengar berita ibu dibunuh anaknya."

"Begitu ya. Mungkin karena bapak jarang ada di rumah, sedangkan ibu lebih sering di rumah dan berinteraksi sama anaknya. Sehingga peluang terjadinya konflik antara ibu dan anak lebih besar. Misalnya, ibu sering kasih aturan atau nasihat. Ketika kondisi emosi anak lagi nggak baik, anak akan merespon negatif, ibunya dianggap banyak ikut campur dan cerewet, lalu terjadilah konflik yang bisa berujung kekerasan. Tapi ada faktor yang lebih penting sih, Kak. Bisa jadi karena si anak punya trauma, gangguan emosi, tekanan, atau faktor lingkungan yang nggak sehat. Bukan cuma karena anak pingin menyakiti ibunya."

-----

Kebiasaan membaca buku dan mengamati fenomena di sekitar, membuat Rona memiliki rasa ingin tahu yang tajam, sehingga muncul pertanyaan-pertanyaan yang sering kali orang dewasa lewatkan. Di sini, aku mengajak Rona untuk menyadari bahwa banyak hal yang selama ini dianggap "wajar" sebenarnya terbentuk dari pola asuh, kebiasaan, dan lingkungan sekitar. Tidak ada satu jawaban sederhana untuk semua itu, karena setiap fenomena memiliki lapisan yang saling terkait, seperti budaya, pengalaman hidup, hingga kondisi emosional seseorang. Dan, percakapan dengan anak berusia 10 tahun ini membuatku berpikir bahwa tugas kita sebagai orang tua bukan sekadar memberi jawaban, tetapi juga membantu anak memahami bahwa dunia tidak selalu hitam-putih, semua bisa berubah jika cara pandang dan kesempatan juga berubah.

  

Trisna Ari Ayumika

Postingan populer dari blog ini

Sekolah, Ruang Pembentukan Identitas