Sekilas tentang Prom Night (1)
Pendidikan merupakan proses
budaya untuk meningkatkan harkat dan martabat manusia yang berlangsung
sepanjang hayat. Pendidikan selalu berkembang dan selalu dihadapkan pada
perubahan zaman. Untuk itu, mau tak mau pendidikan harus didesain mengikuti
irama perubahan tersebut supaya tidak tertinggal dengan lajunya perkembangan
zaman itu sendiri. Namun, usaha tersebut seringkali disalahartikan. Kini
kebanyakan sekolah mewujudkan usaha tersebut dengan cara mengikuti permintaan
siswa, seolah sekolah merupakan swalayan yang menyediakan apapun yang siswa
inginkan.
Model pendidikan seperti itu
akan menghasilkan manusia yang hanya siap memenuhi kebutuhan zaman, bukannya
bersikap kritis terhadap zaman. Manusia sebagai objek (yang adalah wujud dari
dehumanisasi) merupakan fenomena yang justru bertolak belakang dengan visi
humanisasi, menyebabkan manusia tercabut dari akar-akar budayanya. Seperti yang
terlihat saat ini, di mana para remaja mengagumi hal-hal yang berbau Barat.
Hal ini dapat dilihat dari
bagaimana para remaja terpesona oleh acara Prom Night yang
berasal dari Amerika. Melalui media mereka diperkenalkan oleh Prom
Night. Remaja yang dalam kesehariannya dekat dengan media, tidak dapat
menghindar dari pesona Prom Night yang ditawarkan olehnya. Melalui
media, remaja hendak dibentuk menjadi generasi yang tumpul, tidak produktif dan
dijauhkan dari semangat ilmiah. Mereka tidak lagi memikirkan bagaimana
membangun karakter pribadi yang produktif seperti berkarya, mencipta dan
berperan untuk melawan kontradiksi yang ada di dalam masyarakat. Mereka lebih
memilih tenggelam dalam pesona Barat yang dibawa oleh media.
Keterpesonaan tersebut mereka
bawa ke dalam institusi pendidikan yang bernama sekolah. Sekolah menjadi arena
di mana Prom Night direproduksi. Di sekolah Prom Night menjadi
ruang sosial, di mana para agen melakukan
strategi-strategi untuk mempertahankan kedudukan masing-masing. Proses
reproduksi tersebut tidak terlepas dari peran media yang masuk ke dalam wilayah
sasaran, yakni sekolah, dengan membawa produk-produknya. Produk-produk tersebut
memancing hasrat konsumsi. Pada level inilah terjadi adaptasi proses belajar
menuju aktivitas konsumsi atau pengembangan suatu gaya hidup.
Konsumsi merupakan pendukung
untuk mencapai kepentingan masing-masing agen. Konsumsi yang mereka lakukan
lebih kepada barang-barang simbolik. Konsumsi barang-barang simbolik
dalam Prom Night diasosiasikan dengan kemewahan, keindahan dan
romansa. Sehingga bukan pemandangan yang aneh jika Prom Night identik
dengan kemewahan.
~ Trisna Ari
Ayumika