Postingan

Antara Pelarian dan Kecintaan

Gambar
Waktu bersepeda kemarin, aku melihat seekor kupu-kupu terbang rendah, kemudian tertabrak motor hingga terjatuh. Ketika mencoba terbang kembali, ia tertabrak lagi, dan tidak bisa bangun. Aku berhenti, turun dari sepeda, mengambil si kupu-kupu cantik dari tengah jalan. Makhluk kecil ini masih hidup tapi sudah lemah. Aku letakkan di telapak tangan, ia masih bergerak, tapi tidak kuat terbang. Setelah beberapa menit menunggu, tidak ada pergerakan yang berarti, akhirnya kuletakkan di tempat yang aman, dan melanjutkan perjalanan. Sekitar 15 menit berlalu untuk mengurus seekor kupu-kupu yang sekarat. Ya, 15 menit. Bagi kebanyakan orang apa yang kulakukan ini hanya membuang-buang waktu. Tapi tidak bagiku. Aku sering melakukan hal-hal (yang menurut anakku) "random" ketika sedang melakukan perjalanan, termasuk ketika bersepeda atau lari. Misalnya seperti yang sudah kuceritakan di atas. Tidak hanya kupu-kupu, tapi juga hewan lain. Aku pun sering tiba-tiba berhenti untuk memungut bung...

Si Cerdas

“Manusia tidak dilahirkan dan tidak pula mati. Setelah mewujudkan eksistensinya, dia tidak akan sirna begitu saja, sebab dia abadi dan tidak lekang.” ~ Paulo Coelho   Hari ini aku memutuskan untuk keluar dari cangkang, mencoba lepas dari kenyamanan. Aku menyusuri jalan dengan bertelanjang. Seluruh mata memandang, mengamati  Id  yang selama ini kusembunyikan, bahwa aku adalah sesosok yang liar.  Aku adalah si Berani, aku adalah si Pengecut. Aku terlalu mengandalkan kecerdasan, sampai aku sadar bahwa itu membuatku meremehkan kekuatan lawan. Aku terlalu berstrategi, sampai itu berubah menjadi tragedi yang memuakan. Namun, karena aku cerdas, aku menyadari bahwa strategi tak akan mampu mengalahkan kekuatan. Pada saat sulit dan melelahkan, aku memilih menghadapi berbagai tantangan dengan kepasrahan dan keberanian. Aku tak mundur dalam medan perang. Aku lebih suka menghadapi kekalahan dengan luka dan darah yang bercucuran, kemudian mengobatinya di depan si Lawan....

Sold, Anak dalam Pelacuran di India

Hari itu hujan sangat deras, sawah keluargaku rusak, sehingga tak ada sumber pemasukan. Ayah tidak bisa berbuat apa-apa, karena ia cacat. Ketika menghadiri festival desa aku bertemu Bilma untuk pertama kalinya. Ia menceritakan kemegahan kota padaku, dan menawarkan pekerjaan sebagai pelayan di India. Aku ragu dan berusaha menjauh darinya. Tapi, diam-diam ayah berbicara dengan wanita itu, dan membuat kesepakatan dengannya. Ayah menerima uang dari Bilma lalu menyerahkan aku padanya. Singkat cerita, ayah telah menjualku, menjual anak kandungnya, Lakshmi. Aku dibawa Bilma hingga melewati perbatasan, kemudian ia mengajakku ke sebuah bangunan, yang ternyata adalah rumah bordil. Bilma menyerahkanku pada Mumtaz, awalnya kupikir ia baik karena memakaikan cincin di jari kakiku, belakangan aku baru tahu jika ternyata ia seorang germo. Kemudian Mumtaz meminta seorang pelacur mengajarkanku cara-cara menggoda laki-laki. Aku dipaksa untuk meniru, tapi tidak kulakukan. Setelah didandani, Mumtaz mengaj...

Parched, Perempuan di Lingkaran Tradisi India

Hari ini ada pertemuan warga, dipimpin oleh para tetua, yang semuanya laki-laki. Pertemuan ini untuk membahas Campha yang kabur dari rumah mertuanya. Di rumah itu dia tidak mendapat kebahagiaan, suami tidak peduli padanya, dia hanya dijadikan bulan-bulanan oleh mertua dan saudara iparnya, dilecehkan dan disiksa, bahkan dia pernah menggugurkan kandungan karena tidak tau siapa ayah dari janin itu. Tetua memutuskan Campha harus kembali ke rumah mertuanya untuk menjaga kehormatan desa dan menghindari pertikaian dua keluarga. Aku melihat Campha menangis, memohon pada ibunya, meminta pertolongan, tapi sia-sia. Inilah desaku, terletak di Rajasthan, India. Segala hal diputuskan oleh para tetua. Di sini laki-laki bebas melakukan apapun, tapi perempuan sangat terbatas. Apa yang ingin kami lakukan, apa yang ingin kami miliki, semua ditentukan oleh laki-laki. Mereka yang berhak memutuskan apa yang benar dan salah bagi kami. Turun-temurun hal itu dilakukan, sudah menjadi tradisi. Maka tak heran ke...

Perempuan vs Perempuan

Setelah menikah perempuan harus bekerja dan berpenghasilan sendiri? Menurutku TIDAK HARUS selama suami ada dan mampu mencukupi kebutuhan hidup kita sebagai perempuan, ibu dan isteri. Tapi sebagai perempuan kita HARUS memberdayakan diri, mencintai diri sendiri, belajar banyak hal, berpendidikan, intinya mau meng-upgrade diri. Itu wajib, bagi perempuan yang sudah menikah maupun yang belum. Jadi meski sudah menikah dan punya anak kita tetap berdaya. Ditinggal suami? Kita masih berdaya. Kamu mau teriak-teriak kalau ini eranya emansipasi, bahwa perempuan (isteri) harus bekerja supaya dihargai laki-laki (suami)? Agar dinilai "mahal" dan tidak akan ditinggalkan? Kalau kamu berpikir begitu, meski kamu bekerja dan punya penghasilan kamu bukan perempuan yang berdaya. Emansipasi bukan lagi soal persaingan laki-laki dan perempuan untuk menjadi yang dominan atau sama. Tapi soal mengubah sudut pandang. Misalnya soal pekerjaan, kita (baik laki-laki ataupun perempuan) harus mengubah pandan...

Bangsa Berbudaya atau Bangsa Beragama?

Kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dangan belajar. Masyarakat Indonesia marupakan masyarakat multikultural yaitu masyarakat yang memiliki beragam kebudayaan yang berbeda-beda (masyarakat majemuk ). Salah satu faktor yang menyebabkan kemajemukan masyarakat Indonesia yaitu pengaruh kebudayaan asing. Indonesia terletak pada posisi silang antara dua samudra, yakni Samudra Hindia dan Samudra Pasifik serta dua benua, yakni Benua Asia dan Benua Australia. Kondisi yang strategis ini menjadi daya tarik tersendiri bagi bangsa-bangsa asing yang datang, singgah, dan menetap di Indonesia. Ada yang datang untuk berdagang. Ada pula yang datang untuk menyebarkan agama yang dianutnya. Di sinilah salah satu letak penyebab banyaknya terjadi perubahan kebudayaan Indonesia dari kebudayaan asli menjadi kebudayaan yang telah membaur dangan kebudayaan lain. Indonesia, sebuah negara yang di dalam...

Pendekatan Penelitian Sosial

Metodologi penelitian adalah bagian yang membuat ilmu sosial menjadi ilmiah. Lalu munculah sebuah pertanyaan “apakah yang peneliti lakukan ketika meneliti? , bagaimana mereka melakukan penelitian?” , pertanyaan tersebut bukanlah pertanyaan yang dapat dijawab secara sederhana. Perdebatan mengenai ilmu sosial disebabkan oleh definisi yang kaku mengenai ilmu. Pertanyaan lainpun  muncul, “apakah yang membuat sebuah penelitian ilmiah itu menjadi ilmiah?”. Ada tiga pendekatan dalam penelitian sosial berdasarkan asumsi filosofis berbeda tentang tujuan ilmu pengetahuan dan sifat realita sosial. Ketiga pendekatan tersebut memiliki jawaban yang berbeda-beda atas pertanyaan dasar tentang penelitian. Namun, kebanyakan peneliti hanya menggunakan satu pendekatan saja, lalu mereka mengombinasikan elemen-elemen dari tiap pendekatan. Para tokoh sosiologi klasikal berpendapat bahwa observasi di dunia sosial yang tepat dan sistematik, digabungkan dengan pemikiran yang teliti dan cerma...