Memaknai 'Kartini' dalam Kesederhanaan

Kalau ditanya bagaimana aku memaknai Hari Kartini (meski sebenarnya tidak ada yang bertanya) jawabanku sederhana. Sesederhana caraku merayakannya dalam keseharian. Bagiku, ini bukan tentang kebaya atau seremoni, melainkan tentang menghadirkan nilai-nilai Kartini secara konsisten dan apa adanya dalam cara hidupku. Semua itu hadir melalui pilihan-pilihan kecil yang sering dianggap sepele, padahal bermakna bagiku. Memang tidak mudah, tetapi yang utama adalah terus belajar tanpa merasa cukup.

Aku membaca berbagai buku untuk mengisi kekosongan, mendengarkan kisah orang lain tanpa menyela, berdiskusi tentang hal-hal yang kusukai, dan menuangkan kegelisahan dari proses itu ke dalam tulisan. Inilah bentuk belajarku, bukan untuk mengejar gelar, melainkan untuk memahami hidup dengan lebih tenang. Aku tidak merasa harus menjadi hebat, tidak perlu menunggu posisi atau kekuasaan untuk berbuat baik, berani berpikir terbuka meski tumbuh di lingkungan yang kolot, dan berusaha selalu menghargai proses, sekecil apa pun langkahnya. Yang paling penting, aku mencoba keluar dari standar sosial yang membatasi (terutama bagi perempuan), seperti standar perilaku, kecantikan, dan kekayaan.

Dalam menyikapi standar perilaku perempuan di masyarakat, aku belajar untuk tidak menerimanya sebagai kebenaran mutlak. Aku mencoba memilah mana yang bernilai, dan mana yang justru membatasi ruang gerak dan cara berpikir. Aku mulai memberi ruang bagi diri sendiri untuk menjadi apa adanya, tanpa harus memenuhi ekspektasi orang lain. Aku bisa pergi sendirian, berpakaian sesuai kehendakku, dan melakukan hal-hal yang dianggap tidak "normal" bagi perempuan. Semuanya tidak membuatku menjadi kurang sebagai seorang perempuan, karena menjadi perempuan tidak harus selalu tampak "sempurna" di mata siapa pun.

Begitu pula dalam hal standar kecantikan, aku belajar untuk tidak lagi menjadikannya sebagai tolok ukur utama dalam menilai diri. Aku tidak ingin terjebak dalam definisi cantik yang sempit, yang menuntut keseragaman dan mengabaikan keunikan. Bagiku, merawat diri bukan untuk memenuhi ekspektasi orang lain, melainkan sebagai bentuk penghargaan terhadap diri sendiri. Aku belajar menerima diriku apa adanya, yang pada akhirnya menggeser cara pandangku, bahwa kepercayaan diri dan cara berpikir jauh lebih bermakna daripada penampilan luar. Karena itu, aku tidak takut terpapar matahari meski membuat kulitku lebih gelap, tidak menyembunyikan kerut di wajah dengan riasan, dan tetap percaya diri dengan lipatan-lipatan di tubuhku. Tanpa persetujuan siapa pun, aku tetap cantik.

Tentang standar kekayaan di masyarakat, aku menyikapinya dengan cara pandang yang lebih sederhana. Sering kali kekayaan diukur dari apa yang dimiliki, digunakan, atau ditampilkan. Namun bagiku, hidup tidak sesederhana angka atau simbol semata. Aku belajar untuk tidak menjadikan pencapaian orang lain sebagai tolok ukur. Setiap orang memiliki ritme dan prioritas yang berbeda, dan aku memilih berjalan dengan caraku sendiri. Bukan berarti aku tidak ingin berkembang, tetapi aku tidak ingin kehilangan arah hanya karena sibuk mengejar apa yang dianggap "cukup" oleh orang lain. Bagiku, cukup bukan tentang memiliki segalanya, melainkan tentang merasa tenang dengan apa yang ada, sambil tetap berproses menjadi lebih baik. Aku ingin menjalani hidup yang terasa utuh dari dalam.

Seperti itulah caraku memaknai Kartini, bukan sebagai sosok yang jauh dan hanya layak dikenang, melainkan sebagai nilai yang hidup dan tumbuh dalam keseharian. Dalam langkah-langkah kecil yang tidak harus selalu terlihat, dalam keberanian untuk berpikir berbeda, dan dalam kesediaan untuk terus belajar. Mungkin jalanku tidak sempurna, tetapi selama tetap berpegang pada nilai-nilai yang kuyakini, di situlah makna itu hadir. Sederhana, tetapi nyata.


 

Trisna Ari Ayumika

Postingan populer dari blog ini

Sekolah, Ruang Pembentukan Identitas