Aku Berhenti Menunggu

Aku selalu tahu bagaimana rasanya menunggu. Bukan menunggu yang manis seperti dalam novel percintaan remaja, yang dipenuhi pesan-pesan singkat penuh rindu atau suara hangat dari panggilan telepon menjelang tidur. Menungguku adalah jenis yang lain. Sunyi, panjang, dan seringkali membuat bertanya apakah aku sedang menunggu sesuatu yang memang akan datang. Atau, sesuatu yang sejak awal tidak pernah benar-benar ada.

Padahal, dulu tidak seperti ini. 

Di awal kami berhubungan, ia adalah seseorang yang begitu hadir. Ponselku hampir tak pernah benar-benar sepi karena namanya selalu muncul di layar. Ia rutin mengirim pesan hanya untuk menanyakan hal-hal sederhana. 

Jika aku terlambat membalas, ia akan mengirim pesan lagi, dan lagi. Bahkan langsung menelepon. Jika aku tidak mengangkat, ia akan mencoba beberapa kali, seolah memastikan aku benar-benar tidak dalam masalah. 

Saat itu, aku tidak pernah merasa sendirian. Tidak pernah merasa harus menunggu. Karena sebelum aku sempat merindukannya, ia sudah lebih dulu hadir. 

Ia pernah berkata mencintaiku. Tidak sekali, tapi berkali-kali. "Aku cinta kamu," begitu katanya, dalam kalimat yang sepertinya tulus, dengan nada suara yang tidak pernah tergesa. Aku mengingatnya dengan jelas.

Tapi perlahan, sesuatu berubah.

Pesan-pesan mulai berjarak. Ponsel yang dulu tidak pernah sunyi mulai jarang terdengar. Dan, aku mulai belajar menunggu.

Setelah itu, tidak ada kabar berjam-jam. Selalu begitu. 

Awalnya aku mencoba memahami. Kupikir, mungkin ia sibuk. Mungkin sebenarnya ia tipe yang tidak terbiasa dengan komunikasi intens. Atau, mungkin caranya mencintai memang berbeda. 

Sampai suatu malam, aku duduk di dekat jendela. Suara merdu Bernadya mengalir dari ponsel yang sejak sore kugenggam. Lagu yang tidak benar-benar kudengar entah kenapa beberapa kalimatnya terasa seperti berbicara kepadaku, seolah tahu apa yang tidak pernah berani kutanyakan. 

𝑆𝑒𝑗𝑎𝑘 𝑘𝑎𝑝𝑎𝑛 𝑠𝑒𝑚𝑢𝑎𝑛𝑦𝑎 𝑏𝑒𝑟𝑢𝑏𝑎ℎ?
𝐴𝑝𝑎 𝑠𝑒𝑗𝑎𝑘 𝑘𝑎𝑢 𝑙𝑖ℎ𝑎𝑡𝑘𝑢 𝑚𝑎𝑟𝑎ℎ?
𝐴𝑝𝑎 𝑘𝑎𝑟e𝑛𝑎 𝑙𝑒𝑙𝑢𝑐𝑜𝑛𝑘𝑢 𝑖𝑡𝑢-𝑖𝑡𝑢 𝑠𝑎𝑗𝑎?
𝐴𝑡𝑎𝑢 𝑚𝑒𝑚𝑎𝑛𝑔 𝑘𝑎𝑚𝑢 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑡𝑎𝑘 𝑙𝑎𝑔𝑖 𝑐𝑖𝑛𝑡𝑎?
𝐴𝑝𝑎 𝑚𝑢𝑛𝑔𝑘𝑖𝑛 𝑐𝑎𝑟𝑎𝑘𝑢 𝑏𝑖𝑐𝑎𝑟𝑎?
𝐴𝑝𝑎 𝑚𝑢𝑛𝑔𝑘𝑖𝑛 𝑐𝑎𝑟𝑎𝑘𝑢 𝑡𝑒𝑟𝑡𝑎𝑤𝑎?

Angin masuk perlahan dari celah jendela yang kubuka sedikit. Sejuk, tapi tidak cukup untuk mengusir rasa kosong yang mengendap di dada. Kubaca ulang pesan terakhirku yang terpaku tanpa balasan, "Hari ini aku sangat lelah, kepalaku sakit." 

Aneh, ya.

Dulu, jika aku berkata seperti itu, ia akan langsung menelepon. Memastikan semuanya aman. Bahkan, kadang ia tetap terjaga di telepon hanya untuk menemani sampai aku mengantuk. "Rasanya ingin di sana bersamamu, memanjakanmu," ucapnya lembut. 

Sekarang, pesan itu hanya menjadi teks. Tanpa respon. Tanpa rasa. 

Akhirnya, aku mulai berhenti menunggu. Berhenti berharap ditanya, “Sedang apa, Sayang? Bagaimana kabarmu, Sayang?” Berhenti menceritakan hal-hal kecil dalam hidupku, entah tentang mimpi, kejadian menyebalkan, dan canda-canda ringan. 

Aku berhenti, karena aku tidak pernah meminta banyak. Tidak pernah. Hanya ingin tahu bahwa aku dipikirkan. Bahwa kehadiranku berarti. Bahwa jika aku hilang beberapa jam saja, seseorang akan mencariku. Tapi bersamanya, aku merasa seperti pilihan yang bisa ditunda. Atau, bahkan dilupakan.

Aku mulai menyadari sesuatu yang selama ini kusangkal. Ia tidak jahat, ia hanya tidak membutuhkan aku. Ia terbiasa sendiri. Terlalu nyaman dengan ruangnya. Dan, mungkin di dalam hidup yang seperti itu, cinta hanyalah tambahan, bukan kebutuhan. 

Suatu hari, tanpa drama dan pertengkaran, aku memutuskan berhenti lebih dulu. Tidak mengirim pesan, tidak menanyakan kabar, tidak mencoba hadir. Dan, untuk pertama kalinya aku belajar untuk tidak menunggu. 

6 jam pertama, tidak ada apa-apa. 10 jam, juga sama. 14 jam, ponselku tetap sunyi. Setelah hampir 24 jam, akhirnya ia mengirim pesan.

"Maaf, Sayang, kegiatan hari ini agak padat." 

Aku membaca pesan itu lama. Sangat lama. Bukan karena bingung harus membalas apa, tapi karena akhirnya aku tahu jawaban untuk diriku sendiri. Selama ini, ia tidak pernah benar-benar "ada" di tempat yang kuperjuangkan. Mungkin, bukan tidak mampu mencinta, tapi ia hanya tidak mencinta dengan cara yang aku butuhkan. 

Aku tersenyum kecil. 

"Tak apa. Sekarang aku mengerti. Tapi aku memilih tenang untuk diriku sendiri. Maaf jika selama ini kehadiranku terasa mengganggu."

Aku menatap layar sebentar, lalu menekan kirim. Untuk pertama kalinya, aku (berusaha) tidak merasa menunggu siapa pun. 

"Aku kangen kamu," balasnya. 

Kata "kangen" itu terasa seperti pelukan. Tapi juga seperti jarak. Karena setelah mengatakan itu, ia kembali ke dunianya, dunia yang tidak pernah benar-benar memberi ruang untukku. 



Trisna Ari Ayumika 

Postingan populer dari blog ini

Sekolah, Ruang Pembentukan Identitas

Perempuan vs Perempuan

Asia Menguasai Dunia*