Postingan

Menampilkan postingan dari 2010

Adakah Pemenang Sejati?

Gambar
Judul: The Winner Stands Alone Penulis: Paulo Coelho “A diamond is the supreme manifestation of human vanity.” Novel ini menceritakan tentang seorang kaya raya asal Rusia bernama Igor. Ia percaya bahwa dengan membunuh ia bisa mendapatkan kembali mantan istrinya yang telah menjadi istri seorang tokoh terkemuka di bidang fashion designer. Igor seorang pria yang berkemauan keras dan berambisi, yang kemudian menjadi seorang pembunuh berantai. Sebagai mantan tentara Rusia yang terlatih, sangatlah mudah baginya untuk membunuh korbannya secara cepat dan tepat, bahkan tanpa menggunakan senjata. Dengan adanya pembunuhan berantai yang misterius, maka mantan istrinya akan segera mengetahui siapa di balik pembunuhan tersebut dan memahami bahwa mantan suaminya itu menginginkan agar ia kembali ke sisinya. Pembaca juga disuguhi cerita di balik layar Festival Film Cannes yang notabene tidak jauh dari kehidupan para artis, model, sutradara, dan semua orang yang terlibat dalam ind...

Ketimpangan Akses Pendidikan dan Reproduksi Kemiskinan di Indonesia

Kompetisi dalam berbagai aspek kehidupan ekonomi serta perubahan kebutuhan yang berlangsung cepat merupakan konsekuensi dari kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kondisi ini menuntut tersedianya sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas agar mampu beradaptasi dan bersaing secara global. Oleh karena itu, peningkatan mutu pendidikan di Indonesia, khususnya dalam hal pemerataan akses bagi seluruh lapisan masyarakat, menjadi sebuah keharusan. Pendidikan merupakan fondasi utama dalam mewujudkan kemajuan bangsa di masa depan sekaligus bekal strategis dalam menghadapi era global yang sarat dengan persaingan. Dengan demikian, pendidikan tidak lagi dipandang sebagai kebutuhan sekunder, melainkan sebagai syarat mutlak bagi suatu bangsa untuk memenangkan kompetisi global. Pendidikan telah menjadi faktor determinan yang memengaruhi daya saing, produktivitas, dan keberlanjutan pembangunan nasional. Berdasarkan latar belakang tersebut, pembangunan pendidikan seharusnya ditempatkan sebagai s...

Menyontek sebagai Akar Budaya Korupsi

Tuntutan hidup mendorong manusia berlomba-lomba mencari harta. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika harta menjadi sesuatu yang ingin dimiliki oleh setiap orang. Berbagai cara pun ditempuh untuk memperolehnya, baik secara sportif maupun curang. Setiap individu memiliki definisi masing-masing tentang harta berdasarkan apa yang dianggap paling penting. Bagi peserta didik, harta dapat berupa nilai; sementara bagi koruptor, harta identik dengan uang. Ironisnya, cara-cara curang tersebut seakan telah membudaya dan dianggap sebagai hal yang biasa, bahkan lumrah. Salah satu bentuk kecurangan yang sering dianggap wajar adalah menyontek. Tidak sedikit orang yang menyebut menyontek sebagai “budaya” di Indonesia. Praktik ini terjadi di berbagai tingkat dan bidang, mulai dari ujian sekolah, ujian nasional, seleksi Pegawai Negeri Sipil (PNS), plagiarisme di perguruan tinggi, hingga peniruan budaya antarnegara yang masih hangat diperbincangkan di berbagai media. Memang, manusia memiliki kecende...

Komersialisasi Pendidikan

  Pendidikan sebagai alat untuk mencerdaskan manusia sehingga mampu membebaskan dirinya dari segala bntuk penindasan, itulah hakikat pendidikan yang sesungguhnya. Sungguh mulia. Namun, mengapa pendidikan saat ini sulit dijamah mereka yang termiskinkan oleh sistem kapitalisme yang bertopeng neoliberalisme?! Pendidikan yang katanya merupakan hak setiap warganegara, seharusnya dapat dijamah oleh semua lapisan. Lantas, mengapa pemerintah justru mempersulit akses untuk memperoleh pendidikan bagi kaum menengah ke bawah ya?! Uuuhhhh…, TRAGISSS!!! Ide privatisasi kemudian muncul sebagai jalan untuk menuntaskan permasalahan pendidikan di Indonesia. Ide ini merupakan agenda besar pemerintah. Sebenarnya, privatisasi pendidikan hanyalah sebuah alasan pemerintah untuk melepaskan negara dari tanggung jawab guna memenuhi kebutuhan dasar warga negaranya akan pendidikan. Biaya pendidikan yang semakin mahal adalah salah satu dampak nyata dari privatisasi pendidik...

Feminisme dan Mereka yang Masih Terpasung

Siapa yang berani mengakui secara terbuka bahwa dirinya adalah seorang penganut feminisme? Pasti tidak banyak yang berani mangakuinya. Pasalnya, feminisme cenderung dipandang negatif, dan para feminis dianggap membenci laki-laki, kebarat-baratan, individualistis, bahkan tak jarang yang menganggap feminis itu anti agama. Apa sih sesungguhnya feminisme? Mengapa para feminis digambarkan sebagai tokoh yang demikian negatif? Feminisme muncul dari kesadaran akan ketidakadilan terhadap perempuan yang telah berlangsung lama. Sesungguhnya, perempuan telah melakukan berbagai bentuk perjuangan untuk membebaskan diri dari ketidakadilan tersebut jauh sebelum istilah feminisme dikenal. Istilah ini mulai disosialisasikan oleh majalah Century pada tahun 1914, meskipun sejak dekade 1910-an kata feminisme—yang berakar dari bahasa Prancis—telah kerap digunakan. Di Prancis sendiri, istilah feminisme pertama kali dipakai pada tahun 1880-an. Hingga kini, feminisme masih kerap disalahartikan dan dipanda...

Reduksi Makna Ruang Publik: Studi Kasus Taman Monas

Taman Monumen Nasional (Monas) merupakan salah satu hutan kota yang dirancang sebagai taman dengan tata lanskap yang menarik dan dilengkapi beragam fasilitas pendukung. Sebagai ruang terbuka hijau (RTH), Taman Monas dapat dikatakan sebagai yang paling dikenal dan ramai dikunjungi. Tingginya jumlah pengunjung tidak terlepas dari keberadaan Monas sebagai ikon Kota Jakarta sekaligus daya tarik taman yang indah dan luas. Oleh karena itu, kawasan ini kerap menjadi tujuan rekreasi utama bagi wisatawan dari luar Jakarta. Taman Monas dapat diakses menggunakan kendaraan pribadi maupun transportasi umum. Salah satu moda transportasi yang tersedia adalah TransJakarta. Pengunjung dapat berangkat dari Halte Harmoni dengan bus jurusan Blok M dan membayar tarif Rp3.500. Penumpang kemudian turun di Halte Monumen Nasional, yang merupakan halte pertama setelah Harmoni. Dari halte tersebut, Tugu Monas sudah tampak jelas. Di sekitar halte, biasanya tersedia delman yang menawarkan jasa antar menuju pin...

Fiksi, Mimpi, dan Perjuangan Hidup dalam Sang Pemimpi

Gambar
Fiksi dapat dipahami sebagai fenomena sosial yang memiliki kebenarannya sendiri. Kebenaran tersebut tidak terletak pada fakta peristiwa, melainkan pada gagasan yang lahir dari pengalaman dan perenungan pengarang terhadap realitas. Dengan demikian, karya fiksi merupakan representasi sosial yang mengandung nilai kebenaran tersendiri. Hal ini sejalan dengan novel Sang Pemimpi, yang hadir ketika persoalan pendidikan menjadi kegelisahan serius dalam kehidupan bangsa. Melalui novel ini, Andrea Hirata mengajak pembaca meninjau kembali makna sejati pendidikan lewat kisah masa kecil yang sarat refleksi. Novel tersebut mengisahkan perjuangan hidup yang harus dijalani dalam kondisi penuh keterbatasan. Kehidupan Ikal, Arai, dan Jimbron jauh dari kata sejahtera. Seperti peribahasa sudah jatuh tertimpa tangga , penderitaan seolah terus menyertai langkah mereka. Pada usia yang masih belia, Arai dan Jimbron harus kehilangan orang tua, sementara Ikal memikul beban batin melihat sepupu jauhnya, Arai, ...

Feminisme untuk Pemula: Membaca Sejarah Penindasan dan Perjuangan Perempuan

Kami adalah perempuan yang punya posisi istimewa. Jutaan perempuan lainnya telah berjuang mencintai dan mati. Semuanya turut memberikan andil bagi kerja besar yang tiada henti dalam sejarah kaum perempuan.(Sappho, penyair besar pada masa yunani kuno,650 SM).   Sebelum istilah feminisme diperkenalkan, berbagai bukti tentang gerakan, kebangkitan, dan bahkan kekuasaan perempuan telah lebih dahulu muncul dan sempat menguat di berbagai peradaban. Feminisme kemudian hadir sebagai bentuk perlawanan terhadap pembagian kerja dalam masyarakat yang menempatkan laki-laki sebagai pihak yang berkuasa di ranah publik—seperti pekerjaan, olahraga, perang, dan pemerintahan—sementara perempuan dibatasi pada ranah domestik sebagai pekerja tanpa upah yang memikul hampir seluruh beban kehidupan keluarga. Pada masanya, gerakan feminisme memang menjadi kebutuhan historis. Ada periode panjang dalam sejarah ketika kebebasan perempuan mengalami pemasungan sistematis. Sejarah dunia menunjukkan bahwa se...

MPA dan Kekerasan yang Dinormalisasi

Masa Pengenalan Akademik (MPA) merupakan kegiatan seremonial yang diselenggarakan pada awal masuknya mahasiswa baru sebelum menjalani aktivitas perkuliahan. Melalui MPA, mahasiswa baru diperkenalkan pada lingkungan akademik kampus yang sebelumnya asing bagi mereka. Jika ditinjau dari tujuan idealnya, kegiatan ini sejatinya memiliki nilai yang sangat penting dan bermanfaat. Namun, pertanyaannya: masih relevankah MPA ketika pelaksanaannya justru melenceng dari tujuan awal tersebut? Salah satu hal yang kerap menjadi sorotan dalam MPA adalah kewajiban penggunaan atribut tertentu oleh mahasiswa baru. Atribut tersebut—seperti tas, topi, name tag, dan perlengkapan lainnya—dibuat berbeda-beda di setiap jurusan dengan dalih kreativitas. Sayangnya, atribut itu sering kali jauh dari fungsi keseharian. Bentuknya dibuat serba unik, berbeda, bahkan terkesan aneh, sehingga tidak jarang mahasiswa baru justru menjadi bahan tertawaan para senior. Pembuatan atribut MPA juga menuntut biaya yang tidak ...

DILEMA PENDIDIKAN DAN PENGANGGURAN: PENGANGGURAN TERDIDIK TEREKSKLUSI

  Dalam dunia pendidikan, masalah terbesar di Indonesia yang harus menjadi prioritas penyelesaian adalah kualitas dan mutu. Artinya, kualitas sistem dan metode pendidikan, tenaga pendidik, kesejahteraan tenaga pendidik, metode mengajar, dan infrastrukturnya harus ditingkatkan. Namun, ada satu hal yang perlu dicermati, yakni peningkatan kualitas pendidikan adalah sebagai titik penentu yang mempertinggi kesempatan orang-orang terdidik memperoleh pekerjaan. Hal tersebut bertujuan supaya dapat mengurangi angka pengangguran terdidik di Indonesia dan menekan laju pertumbuhan masyarakat tereksklusi. Pengagguran  Pengangguran atau tuna karya adalah istilah untuk orang yang tidak bekerja, sedang mencari kerja, bekerja kurang dari dua hari selama seminggu, atau seseorang yang sedang berusaha mendapatkan pekerjaan yang layak. Pengangguran seringkali menjadi masalah dalam perekonomian karena dengan adanya pengangguran, produktivitas dan pendapatan  masyarakat  akan berkurang...