𝐎𝐭𝐨𝐫𝐢𝐭𝐚𝐬 𝐝𝐚𝐧 𝐁𝐚𝐡𝐚𝐬𝐚 𝐏𝐞𝐧𝐠𝐚𝐦𝐩𝐮𝐧𝐚𝐧: 𝐒𝐞𝐛𝐮𝐚𝐡 𝐂𝐚𝐭𝐚𝐭𝐚𝐧 𝐊𝐞𝐜𝐢𝐥 𝐝𝐚𝐫𝐢 𝐓𝐨𝐢𝐥𝐞𝐭
Setiap
pukul 03.30 menjadi rutinitasku untuk buang air besar. Aku memang
biasa bangun sepagi ini, bahkan sering kali lebih pagi, tanpa alarm. Di antara
10-15 menit duduk di toilet, rasanya seperti ada cacing-cacing kecil yang
berlalu-lalang di otak, mengusik aliran oksigen dan menggelitik pikiranku. Aku
tersenyum, mirip Dolores Umbridge, senyum palsu yang menyembunyikan kekejaman.
Bagaimana tidak? Di toilet ini, ketika aku sedang membuang kotoran, aku
teringat pada seseorang yang menampilkan diri sebagai sosok beriman. Ia
berbicara tentang pengampunan setelah melakukan berbagai tindakan yang
merugikan orang lain. Yang lebih ganjil lagi, pengikutnya yang mengetahui
persoalan tersebut memilih menutup mata dan tetap mengamininya atas nama agama.
Aku pikir, bagaimana "kepercayaan" bisa membuat manusia menjadi
begitu bodoh, bahkan ketika dihadapkan dengan fakta, mereka memilih menjadi
buta?
...
Aku mengejan, seperti sedang berusaha mengeluarkan sesuatu yang sangat besar.
Beberapa hari ini aku memang sembelit karena obat pereda nyeri. Kakiku cedera
setelah memanjat pohon rambutan di depan rumah, sehingga aku harus mengonsumsi
obat tersebut.
Setelah bersusah payah, akhirnya sesuatu yang besar itu keluar. Bukan dari
anusku, melainkan dari otakku. Barangkali, inilah yang sebenarnya sedang
mengganggu pikiranku. Mengapa bahasa pengampunan begitu mudah digunakan untuk
menangani korban, tetapi tidak digunakan untuk menuntut pertanggungjawaban
pelaku?
Aku pikir (oh, ya, aku terus berpikir), dalam relasi yang diikat oleh
manipulasi, korban tidak seharusnya dihadapkan pada tuntutan untuk segera
memaafkan, mengikhlaskan, atau melepaskan kemarahannya. Terutama, ketika
pengalaman korban belum diakui dan pelaku belum mempertanggungjawabkan
tindakannya. Sebab, pengampunan adalah pilihan personal, bukan kewajiban moral
yang bisa dipaksakan kepada korban.
Masalahnya adalah, seringkali tuntutan tersebut justru datang dari seseorang
yang memiliki otoritas keagamaan. Nasihat tentang pengampunan memiliki pengaruh
yang lebih besar ketika disampaikan oleh figur yang dipercaya memiliki pengetahuan
moral dan spiritual. Dalam situasi ini, bahasa yang tampak menenangkan bisa
berubah menjadi tekanan ketika kemarahan korban dipandang sebagai
ketidakmampuan untuk menjadi baik, sementara keputusan untuk memaafkan
diposisikan sebagai ukuran kedewasaan atau kesalehan.
Berkaca pada realitas yang dialami korban, pengampunan tidak menghapus fakta
bahwa manipulasi telah terjadi. Pengampunan juga tidak menggantikan kebutuhan
akan perlindungan, pemulihan, batas yang aman, maupun pertanggungjawaban
pelaku. Ketika pengampunan didorong terlalu cepat, persoalan yang seharusnya
diarahkan kepada pelaku justru menjadi beban moral bagi korban. Korban
seolah-olah diminta berdamai dengan pengalaman yang menyakitkan, sementara
tindakan pelaku menjadi kabur. Karena itu, otoritas keagamaan perlu
berhati-hati ketika menggunakan bahasa pengampunan dalam situasi yang
melibatkan ketimpangan kuasa.
Dan, jika suatu hari korban memilih untuk memaafkan, keputusan tersebut
sepenuhnya berada dalam ruang personalnya. Namun, pilihan itu tidak boleh
dijadikan syarat untuk memperoleh pengakuan, perlindungan, dan keadilan. Korban
tidak perlu memaafkan pelaku agar pengalamannya dianggap sah. Korban juga tidak
perlu berhenti marah agar disebut sebagai pribadi yang dewasa dan beriman.
...
Oh, tidak, rasanya masih ada sesuatu yang ingin keluar, tetapi aku sudah tidak
kuat mengejan. Anus mulai terasa perih, jika dipaksakan bisa lecet. 🙈
Akhirnya aku memutuskan selesai, membasuh anusku dari sisa kotoran yang masih
menempel. Meski masih ada rasa mengganjal karena ada sesuatu yang belum keluar
seluruhnya, tetapi keputusan untuk terus mengejan atau berhenti tetap berada di
tanganku. Itu otoritasku. Aku memilih berhenti memaksakan sesuatu yang memang
belum bisa keluar, karena ada bagian tubuh yang perlu dilindungi. Tidak semua
ketidaknyamanan harus diselesaikan dengan paksaan, kan? Justru, itu menjadi
bentuk perlindungan terhadap diri sendiri.
Mungkin terasa aneh jika sebuah pengalaman buang air besar digunakan untuk
berbicara tentang otoritas. Namun, justru di situlah aku melihat sesuatu yang
sederhana. Otoritas bukan hanya soal kemampuan untuk mengendalikan, melainkan
juga tentang kemampuan menentukan batas atas apa yang boleh dilakukan terhadap
diri sendiri.
Dalam konteks relasi kuasa, korban berhak menentukan apa yang sanggup
dihadapinya, kapan harus berhenti, batas apa yang perlu dibuat, dan apakah
suatu saat ingin memaafkan atau tidak. Seperti aku yang akhirnya memilih
berhenti mengejan agar anusku tidak terluka, korban juga tidak seharusnya
dipaksa menghadapi sesuatu yang membuatnya kembali terluka hanya demi
menciptakan keadaan yang dianggap nyaman oleh pihak lain. Aku pikir, di situlah
letak perbedaan antara otoritas yang melindungi dan otoritas yang
mengendalikan.
Otoritas yang berpihak pada martabat manusia bukanlah otoritas yang sekadar
menenangkan keadaan melalui bahasa pengampunan. Jika bahasa pengampunan
digunakan untuk mempertahankan ketimpangan kuasa dan menghapus pengalaman orang
yang telah dirugikan, maka perdamaian yang dibangun hanya akan memindahkan
beban konflik dari pelaku kepada korban. Korban diminta berdamai, sementara
pelaku perlahan dibebaskan dari tuntutan untuk bertanggung jawab. Di sini,
pengampunan tidak lagi menjadi pilihan batin seseorang, melainkan menjadi
bahasa yang digunakan untuk menata kembali relasi kuasa agar tetap
menguntungkan pihak yang memiliki otoritas.
...
Aku selesai membasuh anus, kemudian mencuci tangan. Oh, kurasa cukup. Aku tidak
akan membuat analogi tentang mencuci tangan dengan mencuci dosa, yang lagi-lagi
(harus) menghubungkan dengan bahasa pengampunan. Cukup sudah.
Kenapa urusan buang air besar ini menjadi lebih rumit, ya? Haha. Aku jadi
teringat pada sebuah film India berjudul 𝑃𝑖𝑘𝑢,
yang pemeran utamanya adalah Amitabh Bachchan. Sepanjang film, sembelit menjadi
topik yang begitu serius, seolah-olah urusan buang air besar seperti persoalan
eksistensial. 😅
Hhmmm, baiklah.... Setidaknya, cacing-cacing kecil yang tadi menggelitik
akhirnya menemukan jalan pulang, meskipun dengan cara yang sedikit tidak lazim.
Trisna Ari Ayumika