Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2026

Disiplin dan Keselarasan Hidup

Gambar
  "Mbak, rajin banget olahraganya, kerjanya apa?" Saya sangat sering mendapatkan pertanyaan seperti itu. Lantas, kenapa orang sering mengaitkan kebiasaan kita dengan pekerjaan? Saya pikir, karena selama ini kedisiplinan hanya dianggap sebagai bagian dari rutinitas saja, bukan keselarasan hidup. Kebanyakan dari kita menghabiskan waktu 8 jam sehari untuk melakukan pekerjaan teratur, yang tentunya memerlukan kedisiplinan. Faktanya, di luar itu kita memilih untuk tidak menerapkan disiplin diri seperti yang dilakukan ketika kita bekerja. Saat sedang libur, kita menjadi lamban dan bermalas-malasan, karena merasa telah menghabiskan banyak waktu untuk bekerja, sehingga harus melakukan "pemberontakan" dalam bentuk pemanjaan diri (yang kekanak-kanakan). Pun ketika berpuasa, kita bisa disiplin mengikuti aturan-aturan yang berlaku, termasuk melakukan kontrol diri. Namun ketika tiba waktunya berbuka puasa, kita lupa soal disiplin diri. Konsep menahan hawa nafsu yang seja...

Perjumpaan Terakhir di Kelas Bermain Kecapi

Gambar
Setelah hampir seminggu menghilang, aku kembali menginjakkan kaki di hutan kota ini, untuk terakhir kalinya. Langkah meraba tanah yang menyimpan kenangan, mata menangkap sepi di setiap sudut. Tak ada anak-anak yang berkejaran, juga tawa renyah, atau bisik-bisik rahasia yang biasa mereka sembunyikan. Daun-daun kering berserakan, angin menggerakkannya perlahan, mencipta bunyi gesekan yang melengkapi sepi. Buah-buah kecapi jatuh dari dahannya, menggelinding lalu tergeletak begitu saja, perlahan membusuk dalam pelukan bumi. Aku mematung, membiarkan diriku menjadi saksi terakhir dari sebuah tempat yang pernah hidup, sebelum akhirnya kutinggalkan bersama segala yang tak bisa kubawa pulang. Hembusan angin membawa aroma buah busuk memecah lamunan, mengantarku bergegas merapikan ruangan yang selama ini menyimpan seluruh barang kegiatan literasi. Ruang yang diam-diam telah menampung begitu banyak cerita, tawa, dan harapan. Meja kerja yang biasanya penuh dengan buku kini harus kosong kembali....

Ruang 'Antara'

Gambar
Di kejauhan, cahaya matahari pudar di balik langit abu-abu. Lampu-lampu jalan mulai memancarkan cahaya temaram. Angin semakin liar menyentuh wajahku yang berjerawat, membawa singgah debu jalanan ke sela pori-pori. Kayuhan mulai terasa berat, tapi roda masih harus berputar lirih, bersentuhan dengan aspal yang masih basah bekas hujan siang tadi. Waktu agaknya berjalan lambat, mencipta ruang untuk pikiran yang tak bisa diam, lebih berisik dari detak jantung dan deru napas menuju malam. Aku sampai di tujuan. Seseorang yang ingin kutemui menjemput di gerbang, masih dengan senyum khasnya yang ramah, meski kami bertemu di sela waktu yang jarang ramah. Ya, sore hari, jam pulang kantor, ketika energi sudah tercurah habis, hanya menyisakan sedikit harapan untuk segera kembali ke rumah. Ia mendampingiku ke tempat parkir untuk menaruh sepeda. Kusandarkan sepeda di tiang lalu menguncinya. Kami langsung menuju kantin, yang ternyata sudah tutup. Sepi, hanya ada barisan meja dan kursi yang tersu...

Kuasa Makhluk Jahat

Aku berjalan menembus hari-hari dengan sedikit senyum yang tersisa. Berkali-kali angin mencoba mematahkan langkah dan menghantam wajah, seolah memaksa untuk kembali pulang. Napasku tersengal, teringat kehidupan yang pernah menjanjikan pelukan hangat, tapi yang kudapat justru jerat panjang tanpa ujung, melilit di kaki, leher dan lidah. Kini, aku berusaha berdiri tanpa penyangga. Hatiku yang patah mencari tempat bersandar dalam reruntuhan harapan, di tengah kuburan empati manusia. Kaki mulai gemetar, rasanya tak sanggup lagi menuruti jarak. Kuhentikan langkah, menyandarkan kepala pada dinding senja, sunyi lekas menggenggam tanganku. Aku merasakan jeda, waktu pun ikut menarik napas panjang bersama. Dunia sedikit melunak, mata melepas pandang kosong namun penuh, sedang hatiku mulai mengeluh, ”Aku lelah.” Masa berjalan lambat, tapi pikiranku melesat cepat, jauh, menyusuri hari-hari yang telat lewat. Sunyi dan senja terdiam, seolah mengerti jika hanya tempat bersandar yang kubutuh saat i...