Bangsa Berbudaya atau Bangsa Beragama?
Kebudayaan adalah keseluruhan
sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan
masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dangan belajar. Masyarakat
Indonesia marupakan masyarakat multikultural yaitu masyarakat yang memiliki
beragam kebudayaan yang berbeda-beda (masyarakat majemuk ). Salah satu faktor
yang menyebabkan kemajemukan masyarakat Indonesia yaitu pengaruh kebudayaan
asing.
Indonesia terletak pada posisi
silang antara dua samudra, yakni Samudra Hindia dan Samudra Pasifik serta dua
benua, yakni Benua Asia dan Benua Australia. Kondisi yang strategis ini menjadi
daya tarik tersendiri bagi bangsa-bangsa asing yang datang, singgah, dan
menetap di Indonesia. Ada yang datang untuk berdagang. Ada pula yang datang
untuk menyebarkan agama yang dianutnya. Di sinilah salah satu letak penyebab
banyaknya terjadi perubahan kebudayaan Indonesia dari kebudayaan asli menjadi
kebudayaan yang telah membaur dangan kebudayaan lain.
Indonesia, sebuah negara yang
di dalamnya tumbuh berbagai macam perbedaan. Perbedaan itu tumbuh dengan
sendirinya, baik yang disadari maupun yang tidak disadari. Perbedaan merupakan
suatu corak yang tidak dapat dihapuskan. Hal yang demikian dikarenakan setiap
orang memiliki penilaian sendiri tentang apa yang mereka lihat dan rasakan.
Walaupun terkadang kita mencoba untuk menyamakan penilaian kita terhadap
sesuatu, namum pada kenyataannya tetap saja masih terlihat perbedaan dalam diri
kita. Seperti yang banyak kita lihat saat ini, masyarakat Indonesia yang dengan
berbagai macam kebudayaan berbeda dapat hidup membaur dengan kebudayaa lain.
Hal ini menunjukan bahwa betapa mudahnya masyarakat Indonesia mengadopsi
kebudayaan lain.
Berbagai
hasil percampuran kebudayaan sudah merasuki masyarakat Indonesia. Kebudayaan
dari luar telah banyak melunturkan kebudayaan asli orang Indonesia. Terdapat
unsur-unsur kebudayaan masyarakat kita yang berubah. Hal itu biasa terjadi
karena berkembangnya kebutuhan masyarakat, adanya unsur-unsur kebudayaan asing
yang masuk melalui proses akulturasi, adanya proses asimilasi, inovasi, dan
difusi. Hal ini mengakibatkan masyarakat Indonesia mulai melupakan kebudayaan
asli.
Ada
tiga wujud kebudayaan, yaitu (1) idea, wujud ideal dari
kebudayaan yang bersifat abstrak, tak dapat diraba dan difoto, lokasinya ada di
dalam kepala-kepala atau dalam pikiran warga masyarakat di mana kebudayaan
bersangkutan itu hidup. (2) activities, dalam
kebudayaan ini disebut sistem social, mengenai tindakan berpola dari manusia
itu sendiri, sistem sosial ini bersifat konkret, terjadi dalam kehidupan kita
sehari-hari, bisa diobservasi dan didokumentasikan. (3) artifacts, ini
tidak memerlukan banyak penjelasan karena berupa seluruh total hasil fisik dari
aktivitas, perbuatan, dan karya semua manusia dalam masyarakat, maka sifatnya
paling konkret. Ketiga wujud dari kebudayaan tersebut tidak terpisah satu
dengan lain. Kebudayaan ideal dan adat-istiadat mengatur dan memberi arah
kepada tindakan dan karya manusia. Baik pikiran-pikiran dan ide-ide, maupun
tindakan dan karya manusia.
Tuntutan zaman yang semakin
modern sangat mempengaruhi keadaan masyarakatnya. Masyarakat yang majemuk
seperti masyarakat Indonesia cendrung lebih mudah terpengaruh kebudayaan baru.
Mungkin hal ini dikerenakan masyarakat Indonesia yang sangat terbuka dengan
kebudayaan baru. Westrenisasi adalah salah satu wujud perubahan budaya di
Indonesia, dari budaya tradisional menjadi budaya barat modern.
Analisis Weber tentang
perubahan budaya dalam melihat elemen-elemen itu bisa cocok satu dengan yang
lain. Bagaimanapun, kita bisa memulainya dengan posisi metodologis Weber. Weber
menganggap bahwa tugas ilmu budaya adalah memahami dan menjelaskan aspek-aspek
realitas sosial yang memiliki arti budaya. Perubahan budaya juga muncul sebagai
materi yang perlu difokuskan oleh Weber untuk menjawab pertanyaan utama yang
dihadapinya, yaitu apa arti budaya dari rasionalisme barat modern? Pertanyaan
ini mengharuskan adanya adopsi metode komparatif karena tidak mungkin menjawab
pertanyaan tersebut tanpa menempatkan ke dalam konteks sejarah budaya universal
komparatif. Pokok persoalan dan metode Weber didikte oleh
kesimpulan-ksimpulan yang didapatnya dalam etika protesan. Cara Weber untuk
menentukan kekhususan dunia modern, baik dalam studinya tentang agama-agama
lain di dunia, adalah dengan memberikan fokus pada budaya.
Ketika manusia memikirkan
kehidupan yang ada adalah rutinitas harapan dan pencarian kenyataan. Kenyataan
adalah bukti adanya kebenaran. Sedangkan kebenaran muncul ketika ada bukti.
Selanjutnya manusia sampai pada satu titik yang membingungkan dalam melaksanakan
rutinitas terutama rutinitas dogmatis yang menuntut ditaati secara utuh.
Seperti agama induk yang bisa menelurkan kepercayaan. Sehingga orang akan lebih
suka dan lebih mempercayai sesuatu yang diperintah atas dasar agama. Nilai yang
ada memunculkan pemahaman yang berbeda. Lalu nilai-nilai tersebut berkembang
menjadi norma dan pada akhirnya membudaya dalam masyarakat. Lantas keberadaan
agama pun dipertanyakan, apakah agama lahir sebagai kepercayaan atau sebagai
kebudayaan? Pertanyaan ini muncul karena antara kepercayaan dan kebudayaan
dalam agama sama-sama menganut dan menjunjung tinggi nilai dan norma yang ada
di dalamnya.
Tuhan menurunkan agama sebagai
pedoman dasar kehidupan umat manusia. Dengan agama, manusia mamiliki landasan
etika dan moral dalam menjalankan hidup sesuai dengan tuntutan Tuhan. Dengan
kata lain, agama lahir untuk manciptakan manusia beradab. Agama sebagai sistem
nilai tersebut memberi kejelasan pada manusia tentang apa yang baik dan yang
buruk, yang mendasari seluruh kegiatannya dalam menciptakan peradaban.
Setiap agama diisyaratkan
memiliki prinsip dasar. Pertama, mengakui suatu logika yang menyatakan
bahwa yang satu bisa dipahami dan diyakini dengan berbagai bentuk dan
tafsiran. Kedua, mengakui bahwa kualitas pengalaman keagamaan yang
partikular dan beragama itu hanya sebagai alat dan jalan untuk
mencapai kebenaran absolut yang universal. Ketiga, walaupun pengalaman
religiusitas yang partikular itu dipahami hanya sebagai alat atau jalan untuk
mencapai realitas absolut, tetapi masing-masing jalan itu
harus diyakini sebagai satu jalan yang mutlak. Namun, sikap
ini mengakui adanya kemungkinan penganut jalan yang berbeda,
mamiliki sikap yang sama, yaitu memutlakkan jalan yang
dianutnya.
Perlu diperhatikan bahwa agama
yang ada di bumi tidak hanya satu melainkan terdiri dari berbagai agama yang
masing-masing mengklaim ajarannya paling benar. Pengklaiman semacam itu
sebenarnya wajar dan menjadi hak penganutnya, akan tetapi jika tidak diletakan
pada posisi yang proposional akan menimbulkan konflik. Apalagi jika sampai
menafikan eksistensi agama lain. Kisah bangsa Palestia dan Bosnia, atau
konfrontasi Kristen Katolik dan Protestan adalah realita yang tak terbantahkan.
Tentu saja agama itu bertolak belakang dengan tujuan lahirnya agama semula.
Jika di atas dikatakan agama
sebagai pedoman dasar kehidupan umat manusia, maka seharusnya agama dapat
menjadi tempat yang jauh dari persoalaan-persoalan rumit duniawi dan menjadi
penyelamat bagi umatnya. Namun pada kenyataannya, banyak persoalan yang menyangkut
keagamaan yang sebenarnya muncul bukan karena agama itu sendiri, melainkan
muncul dari penganut agama tersebut. Penganut agama saat ini bukan lagi
menjadi pengikut Tuhan mereka, melainkan menjadi penghancur agama itu sendiri.
Namun, apapun sikap penganutnya terhadap misteri akhir keselamatan, ada
kemungkinan untuk meneruskannya melalui langkah-langkah tertentu menuju tujuan
yang ada. Kesalamatan tidak bersandar pada kekuatan-kekuatan luar biasa, tetapi
hanya pada para penganutnya sendiri. Tipe keyakinan dan tindakan ini adalah
rasional, di mana kemudian hanya cara sehari-hari atau cara duniawi yang bisa
menimbulkan pengaruh-pengaruh keagamaan yang diharapkan.
Perbedaan antara magis dan
agama berdasarkan “rasionalitas” dan “irasionalitas” yang memberikan salah satu
pilar utama di mana analisis Weber tentang budaya dan perubahan budaya
berstandar. Namun, sebuah tipologi abstrak tentang rasionalitas dalam tulisan-tulisannya
tidak memungkinkan karena Weber melekatkan makna-makna yang berbeda untuk
istilah tersebut dalam konteks tersebut diuraikan dengan jelas, kita bisa
menunjukkan maknanya. Dan Weber ingin membedakan konsekuensi-konsekuensi magis
dan agama sebagai bentuk-bentuk budaya yang terpisah.
Lepas
dari basis kognitif magis para penganutnya, ada interpretasi dari bidang
keyakinan dengan bidang-bidang kehidupan lain yang menciptakan sebuah
penghalang bagi perubahan budaya. Interpretasi tersebut pada gilirannya merupakan akibat
dari fakta bahwa magis mengejar keanekaragaman tujuan dan dari tidak adanya
kemungkinan penyatuan hal-hal bersifat sakral. Bagaimanapun pentingnya peran
magis hanya muncul dengan cara yang berbeda dengan agama-agama dunia. Seperti
yang kita lihat, agama-agama dunia ditandai oleh tipe rasionalitas yang
berbeda, dan karenanya menghasilkan dinamika budaya yang secara keseluruhan
berbeda. Namun, harus diingat bahwa meskipun ada perbedaan yang jelas, ditemukan
di seluruh kekuasaan agama dunia. Bagi Weber, dalam hal ini magis secara khas
mewakili “budaya populer” yang semakin terutinisasi, yang keberadaannya
berdampingan dengan “tradisi besar” atau “budaya tinggi”, dengan menggunakan
sebuah terminologi yang berbeda.
Keanakaragaman agama memang
tidak dapat dilihat terpisah dari budaya. Agama dan budaya saling keterkaitan,
karena agama merupakan bagian dari budaya itu sendiri. Sebenarnya keduanya
tidak mempermasalahkan hal tersebut, namun para penganutnyalah yang menentang
keanekaragaman. Beranjak dari hal tersebut, mencuat keniscayaan imperatif
(perintah) dan kewajiban etis untuk menciptakan saling pengertian dan
penghargaan yang lebih baik antara kaum beragama lewat suatu dialog. Seandainya
penganut agama mau berdialog satu sama lain dan mematikan ego masing-masing.
Duduk sejajar dalam keanekaragaman agama tetapi dengan satu Tuhan. Mungkin
dengan begitu tujuan dasar agama akan terbentuk.
Islam, Kristen, Hindu dan Budha
merupakan sedikit dari banyak agama yang turut mewarnai kebudayaan di
Indonesia, bukan agama yang menodai kebudayaan. Dialog satu Tuhan merupakan
suatu cara untuk menyatukan para penganut agama. Lebih dari itu dialog ini juga
dapat menyelesaikan persoalan etis kemausiaan dewasa ini yang semakin kompleks
seiring dengan laju modernisasi. Dengan dialog, diharapkan cara berfikir
teologi klasik yang penuh dengan apriori terhadap agama lain terkikis.
~ Trisna Ari Ayumika