Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2025

Hidup Tanpa Diri

Semakin besar kebebasan dan individualitas, semakin besar juga rasa keterasingan. Ketika manusia bebas (secara liar) menentukan sendiri hidupnya, seiring itu pula mereka merasa terputus dari manusia lainnya. Kemudian mereka mulai mencari cara untuk saling terhubung dengan sesuatu yang lebih kuat dari dirinya, sebab mereka tidak tahan dengan keterasingan. Manusia akan merasa aman jika menjadi bagian dari sesuatu yang ‘lebih’, walau harus mengorbankan jati diri. Ini seperti ‘otoritarianisme’ yaitu kecenderungan ‘menyerahkan diri’ pada seseorang atau sesuatu di luar dirinya, untuk memperoleh rasa aman, kekuatan dan identitas yang dirasa tidak dimilikinya. Erich Fromm menyebut ini sebagai bentuk keterhubungan yang bersifat simbiotik, hubungan antara ‘yang dominan’ dan ‘yang tunduk’. Akhirnya, hubungan antar manusia satu dengan lainnya seperti hubungan robot-robot terasing. Mereka menjadi mekanis, mereaksi sesuatu persis seperti yang direncanakan, menuruti kemauan pihak lain, dan saling...

Keyakinan, Rasionalitas, dan Keteguhan Diri

Aku sering berpikir, untuk alasan apa kita hidup, kenapa kita diciptakan sebagai diri kita yang sekarang, dan apa maksud Sang Pencipta mempertemukan kita pada sesuatu, yang bahkan sebenarnya tidak ingin kita temui. Ketika aku mempertanyakan hal itu pada beberapa teman, alih-alih menjawab, mereka justru menganggap pikiranku aneh karena mempertanyakan apa yang sudah menjadi ketetapan. Padahal, apa yang sekarang dianggap sebagai ketetapan adalah sesuatu yang awalnya tidak atau belum tetap. Lantas, kenapa mempertanyakan ‘prosesnya’ dianggap tidak biasa? Apakah ‘bertanya’ sudah menjadi hal yang tabu? Mungkinkah karena selama ini kita hanya diajarkan untuk menerima dan melaksanakan, kemudian menarasikan apa yang sudah terjadi sebagai kehendak Sang Pencipta sehingga tidak perlu dipertanyakan, cukup diyakini dan dijalani? Aku tidak bisa menerima sesuatu sebagai kebenaran hanya karena mayoritas mengatakan demikian, seperti aku percaya pada Sang Pencipta hanya karena banyak orang yang meyaki...

Anak Badai: Identitas, Kegelapan, dan Kelahiran Makna

Setelah beberapa waktu menenggelamkan diri ke dunia yang benar-benar gelap, aku menyadari satu hal; bahwa hati manusia tidak ada yang tetap. Oh, apakah aku manusia? Bukan. Peri? Tidak juga. Iblis? Mungkin. Tapi mereka menyebutku Putri Tuhan. Entah aku ini apa, yang pasti aku memiliki sisi baik dan buruk semua makhluk. Termasuk Tuhan? Hmm, apakah Tuhan itu makhluk? Atau, hanya sebuah konsep? Bahkan, jika disebut sebagai Putri Tuhan, aku tidak tahu apa pun tentang orangtuaku, bagaimana aku lahir, dan kapan aku dilahirkan. Mereka, iya, mereka, para peri, hanya menjelaskannya melalui situasi. Pagi itu angin berhembus menyusup lirih, daun-daun bergetar dan beterbangan menari di ruang hampa. Langit tampak muram, seperti wajah seorang kekasih yang patah hati. Suasana menjadi gelap, bak rahasia yang enggan diungkap. Awan berarak perlahan bagai pasukan yang bergerak senyap dan siap menabuh genderang perang. Akhirnya suara itu datang, gemuruh dari atas sana. Membuat degup jantung semakin c...