Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2025

Cerita Tentang Anugerah, Komitmen, dan Kebebasan Diri

Aku duduk di batang pohon kecapi, bernyanyi sambil mengayunkan kaki. Memandang ke sekeliling hutan. Menyaksikan para peri hutan bergiat pagi untuk menjaga kesimbangan dan keindahan tempat ini. Bagaimana aku bisa naik ke pohon ini? Tentu saja dengan bantuan Tinkerbell. Bukan dengan serbuk peri. Sebagai peri pencipta, ia benar-benar tidak menyia-nyiakan bakatnya. ia membuatkan tangga supaya aku bisa naik kapan pun. Uniknya, tangga ini bukan terbuat dari kayu, besi atau batu. Ini terbuat dari “anugrah peri”. Kalian pernah mendengarnya? Setiap kelahiran Putri Tuhan, para peri akan berkumpul untuk meniupkan anugerahnya pada sang bayi. Misalnya peri perburuan, Arthemis, menganugerahkan kebebasan. Lalu Athena, peri kebijaksanaan, menganugerahkan ketangguhan. Kelimpahan diberikan padaku oleh Demeter, peri pemurah. Keabadian yang kumiliki merupakan anugerah dari Aphrodite, sang peri cinta. Hestia, peri kebatinan, menganugerahkan kekuatan spiritual. Oleh Hera, peri kesetiaan, aku dianugerahi...

Perempuan yang Mendahului Zaman

Padahal hari Minggu, tapi bus ini penuh sekali. Selama lebih dari satu jam aku di sini, berjejal seperti ikan sarden di dalam kaleng. Aku sudah tidak tahan, dan akhirnya memutuskan turun di halte terdekat. Sebenarnya aku mau ke mana? Entah, hanya ingin berjalan-jalan, barangkali menemukan inspirasi untuk menulis. Aku keluar dari bus dengan bersusah payah, terhimpit, terdesak, terjungkal, terinjak-injak, ternodai. Tidak, kejadian sebenarnya tidak seperti itu, aku hanya mendramatisir. Tentu saja aku keluar dengan mudah, karena berdiri di dekat pintu. Tak berbeda dengan bus, halte pun penuh sesak, karena banyak orang yang memilih berteduh di sini. Iya, sama seperti hari sebelumnya, pagi sampai siang terik, sorenya hujan lebat. Aku tak membawa payung atau jas hujan, tapi aku tak mau berdesakkan di sini. Aku memilih keluar dari halte, berteduh di bawah JPO. Aku melanjutkan perjalanan, melangkah di trotoar yang konturnya tidak rata, banyak lubang dan licin. Kubayangkan, bagaimana jik...

Hujan, Tupai, dan Waktu yang Harus Kembali

Kalian kenal buah kecapi? Kalau tak kenal, kenalan dulu, ya. Mana tahu nanti nyaman, lalu berubah jadi sayang. Tapi kalau sudah sayang, jangan berharap lebih, supaya tak kecewa. Kalau mau berharap lebih, pastikan dia memiliki perasaan yang sama, jangan sampai kamu excited sendiri. Tak kenal maka tak sayang, sudah kenal belum tentu bisa saling sayang. Lanjut ya.... Sekarang aku sedang berdiri di bawah rindang pohonnya. Menikmati angin yang bertiup lembut membawa bau hujan. Kuhirup dalam-dalam udara sejuk ini sambil membayangkan diriku menjadi Tinkerbell. Hinggap dari satu pohon ke pohon lain, bersenandung riang, menebarkan serbuk peri, hingga semua yang di sekitarku ikut menari bersamaku. Khayalanku buyar ketika buah kecapi mendarat di kepala. Aku reflek menengok ke atas. Ah, beberapa tupai! Mataku dengan awas mengamati mereka. "Lucu sekali! Rasanya ingin bergabung dengan kalian," kataku bersemangat. Seolah mengerti apa yang kuucapkan, seekor tupai melaju turun, lalu...