Sold, Anak dalam Pelacuran di India
Hari itu
hujan sangat deras, sawah keluargaku rusak, sehingga tak ada sumber pemasukan.
Ayah tidak bisa berbuat apa-apa, karena ia cacat. Ketika menghadiri festival
desa aku bertemu Bilma untuk pertama kalinya. Ia menceritakan kemegahan kota
padaku, dan menawarkan pekerjaan sebagai pelayan di India. Aku ragu dan berusaha
menjauh darinya. Tapi, diam-diam ayah berbicara dengan wanita itu, dan membuat
kesepakatan dengannya. Ayah menerima uang dari Bilma lalu menyerahkan aku
padanya. Singkat cerita, ayah telah menjualku, menjual anak kandungnya,
Lakshmi.
Aku dibawa Bilma hingga melewati
perbatasan, kemudian ia mengajakku ke sebuah bangunan, yang ternyata adalah
rumah bordil. Bilma menyerahkanku pada Mumtaz, awalnya kupikir ia baik karena
memakaikan cincin di jari kakiku, belakangan aku baru tahu jika ternyata ia
seorang germo. Kemudian Mumtaz meminta seorang pelacur mengajarkanku cara-cara
menggoda laki-laki. Aku dipaksa untuk meniru, tapi tidak kulakukan.
Setelah
didandani, Mumtaz mengajakku ke sebuah kamar, kakiku diikat. Tak lama seorang
pria masuk. Varun, orang kaya yang berani membayar mahal untuk keperawanan
gadis berusia 14 tahun. Ketika ia mulai mendekat dan meraba, aku menggigit
wajahnya hingga berdarah, ia terdorong dan jatuh. Aku lekas membuka ikatan di
kaki dan kabur, namun anak buah Mumtaz berhasil menangkapku. Di ruang gelap aku
dipukuli habis-habisan. Dari jendela aku meminta pertolongan, tidak ada yang
menggubris.
Keesokan
harinya seorang perempuan asing melintas. Dari jendela aku menjatuhkan bulu
sebagai petunjuk. Upayaku berhasil, ia memotretku. Sayangnya, anak buah Mumtaz
melihat dan menghancurkan kamera perempuan itu.
~
Aku
Sophia, fotografer yang bekerja sama dengan organisasi anti perdagangan
manusia, Hope House. Hari itu aku menyamar, membagikan brosur kesehatan untuk
orang-orang di tempat lokalisasi. Ketika sedang berjalan, aku menemukan bulu
yang terjatuh, kucari asalnya. Ternyata seorang gadis yang menjatuhkan bulu itu
dari jendela sebuah bangunan. Ia meminta pertolongan, wajahnya sangat
ketakutan. Aku hanya bisa memotretnya. Tapi seorang laki-laki memergoki dan
merusak kameraku, kemudian ia pergi. Tak lama setelah itu aku mendengar jerit
kesakitan dari dalam bangunan. Sepertinya gadis itu dipukuli dengan keras, dan
aku tak bisa berbuat apa-apa.
Beruntung
aku masih bisa menyelamatkan foto-foto dari kamera yang dirusak. Aku meminta
Vikram untuk melakukan penggerebekan rumah bordil itu, tapi ia enggan
melakukannya tanpa perencanaan yang tepat, karena persiapan penggerebekan
membutuhkan waktu berminggu-minggu. Dulu Vikram adalah seorang polisi, ia
pernah datang ke rumah bordil dan melihat atasannya menerima suap. Ketika itu
seorang gadis berlari ke arahnya dan meminta pertolongan. Beberapa hari
kemudian Vikram kembali ke tempat itu, si gadis kecil sudah menghilang. Sejak
itu ia memutuskan keluar dari kepolisian dan bergabung di Hope House sebagai
mata-mata.
~
Karena aku
selalu memberontak, secara diam-diam Mumtaz memasukkan obat bius ke dalam jus, dan
aku meminumnya. Dalam keadaan setengah sadar aku dibawa ke sebuah kamar, lalu Varun
memerkosaku. Keesokan harinya aku dibius lagi supaya bisa melayani beberapa
pria dalam semalam. Sejak itu, aku resmi menjadi bagian dari mereka, pelacur di
Rumah Mumtaz.
Di tengah keputusasaan, aku mengenal bocah
laki-laki bernama Harish, anak dari seorang pelacur yang sudah sakit-sakitan. Ia
mengetahui pekerjaan ibunya. Ketika ada pelanggan, Harish yang menjaga adik
perempuannya yang masih balita. Suatu hari Harish mengajakku bermain
layang-layang di atap. Dari atas aku melihat anak buah Mumtaz mengubur mayat di
pekarangan belakang. Merasa takut dan tak berdaya, aku memutuskan bunuh diri,
tapi seseorang berhasil mencegah.
Malam itu
aku mendapat pelanggan seorang Amerika, ia menunjukkan sebuah bulu untuk memberi
tahu bahwa ia sedang dalam penyamaran, wanita asing itu yang mengirimnya. Ia
memberiku kartu nama Hope House, dan mengatakan akan ada penggerebekan dalam
waktu dekat. Aku diminta memberi petunjuk jika Mumtaz berusaha
menyembunyikanku.
Seminggu
berlalu, aku dan pelacur lainnya dibawa ke sebuah klinik. Ini adalah hal rutin yang
dilakukan untuk memastikan bahwa kami tidak memiliki penyakit. Di malam harinya
terjadi penggerebekan, kami digiring ke ruang bawah tanah. Dibawah ancaman, aku
tak bisa meninggalkan petunjuk apa pun.
~
Suatu malam, kami dan polisi menggerebek
rumah bordil itu, namun tidak menemukan siapa pun. Aku yakin gadis yang kulihat
di jendela dan beberapa gadis lainnya telah disembunyikan. Tapi tak ada
petunjuk. Kami pergi dari sana. Rasa penyesalan datang padaku, gadis di jendela
itu selalu muncul dalam ingatan. Bagaimana tidak, ia seusia anakku. Entah apa
lagi yang harus kulakukan.
~
Keesokan harinya Mumtaz mengirim seorang
pelacur ke Timur Tengah untuk dijadikan budak seks, karena dianggap membocorkan
informasi tentang rumah bordil sehingga terjadi penggerebekan. Di hari yang
sama, Harish sekeluarga terpaksa harus pergi karena sakit ibunya semakin parah.
Aku merasa sedih, karena ia satu-satunya teman. Diam-diam aku meletakkan kartu
nama Hope House di koper Harish.
Hari itu aku merencanakan pelarian. Ketika
semua orang sedang menyaksikan acara pemujaan Dewi Kali di televisi, aku melarikan
melalui jendela menggunakan kain panjang yang sudah aku ikat. Penjaga hampir
menangkapku, untungnya aku berhasil lolos dengan menyemburkan cabai ke wajahnya.
Tujuanku Hope House, hanya itu yang aku tahu, dan di sana aku bertemu Harish.
~
Aku senang Lakshmi bisa kabur dari rumah
bordil itu. Kini aku bisa melihat senyumnya. Ia ada di sini, di Hope House.
Tempat banyak anak belajar berbagai keterampilan untuk menghilangkan trauma dan
supaya berdaya.
Beberapa hari setelah pelarian Lakshmi,
kami mengadakan penggerebekan lagi. Ia menjadi petunjuk kami, sehingga
anak-anak lain yang menjadi korban perdagangan manusia bisa diselamatkan.