Film Horor: Media Sosialisasi Nilai-nilai Misoginis
Film masuk ke dalam jajaran
seni yang ditopang oleh industri hiburan menawarkan impian pada penonton yang
ikut menunjang lahirnya karya-karya dalam dunia perfilman. Film sering disebut
sebagai sarana hiburan dan rekreasi masyarakat yang relatif murah. Film
ditayangkan di bioskop dengan harga tiket yang variatif, film juga dapat
dinikmati di televisi. Hal ini memungkinkan seluruh lapisan masyarakat dapat
menikmatinya. Oleh karena itu, saat ini film semakin diakui sebagai kebutuhan
manusia.
Film merupakan manifestasi
perkembangan kehidupan budaya masyarakat pada masanya. Dari zaman ke zaman,
film mengalami perkembangan baik dari segi teknologi yang digunakan maupun tema
yang diangkat. Hal ini disebabkan karena film berkembang sejalan dengan
unsur-unsur budaya masyarakat yang melatarbelakanginya, termasuk di dalamnya
adalah perkembangan bahasa. Film tidak dapat terlepas dari kondisi sosial
budaya masyarakat yang melatarbelakangi pembuatan film tersebut. Dengan
kata lain, film merupakan cerminan budaya manusia.
Film Horor
dari Waktu ke Waktu
Dalam beberapa tahun
kemunculannya, film-film horor Indonesia menyuguhkan konstruksi hantu-hantu
yang masih terikat dengan mitos dan kepercayan yang terikat kuat dengan
masyarakat Indonesia. Penampilan dan kemunculan hantu-hantu yang dapat dibilang
"tradisional" seperti pocong, genderuwo, sundel bolong, dan
sebagainya muncul saat pertama kali film horror masuk dalam dunia perfilman di
Indonesia. Seiring dengan perkembangan, konstruksi hantu-hantu mulai mangalami
peralihan, yakni lebih kepada penangkatan cerita-cerita mengenai orang-orang
yang mempunyai kekuatan lebih, seperti Nyai Roro Kidul, Nyai Blorong, Ratu
Pantai Selatan dan beberapa cerita rakyat yang diusung menjadi sebuah tontonan
berbentuk film seperti, cerita tentang kepala gadis pemakan bayi, gadis
jadi-jadian yang berubah rupa di malam purnama dan lain sebagainya.
Pada tahun 1970-an sampai
dengan 1990-an, kebanyakan kisah film horor berpusat pada tokoh perempuan yang
teraniaya sampai mati, lalu menjadi hantu gentayangan. Tatkala masih hidup dan
eksis sebagai manusia, perempuan adalah makhluk yang tak berdaya di hadapan
laki-laki. Perlawanan para perempuan terhadap laki-laki hanya bisa dilakukan
ketika mereka telah meninggal dan menjadi hantu.
Setelah menjadi hantu, para
perempuan itu baru bisa membalas perlakuan para laki-laki atas mereka. Dalam
film-film itu sering digambarkan sejumlah lelaki bejat mati secara mengenaskan
di tangan arwah perempuan gentayangan. Sekilas, racikan kisah macam ini seolah
menampilkan sosok perempuan yang mampu membalas penindasan yang diterimanya
dari kaum laki-laki. Tapi kalau diamati lebih dalam, nyatalah bahwa film itu
memosisikan perempuan sebagai sosok marjinal, karena perlawanan perempuan
terhadap laki-laki itu hanya terjadi ketika sang perempuan telah meninggalkan
dunia yang nyata dan menjadi arwah. Selama masih menjadi manusia, perempuan
adalah sosok tak berdaya.
Melalui kisah semacam itu, film-film horor Indonesia pada 1970-an sampai
1990-an sebenarnya merepresentasikan sosok perempuan sebagai manusia tak
berdaya. sebagai manusia yang eksis, perempuan tak berdaya. Baru kemudian, jika
mereka mati dan menjadi hantu, mereka akan berubah jadi sosok yang berdaya.
Pada posisi inilah, marjinalisasi terhadap perempuan terjadi di dalam film-film
horor.[1]
Marjinalisasi
perempuan dalam film horor juga terjadi tatkala sosok perempuan sebagai manusia
yang utuh direduksi sebagai sekadar tubuh yang digunakan untuk alat pemuas
kebutuhan seksual. Mulai dekade 1980-an, film-film horor mulai memasukkan
adegan-adegan panas dalam bangunan alur mereka. Mula-mula sebagai bumbu, tapi
lama-kelamaan seks justru menjadi inti cerita.
Pada tahun 1990-an, amat banyak
film horor yang menyajikan adegan seks secara vulgar dan berlebihan. Pada
dekade itu pula lahir sejumlah artis wanita yang sering dijuluki sebagai
"bom seks" karena peranan mereka dalam film horor. Relasi fisikal
tubuh antara laki-laki dan perempuan dalam film horor tidak hanya bisa dilihat
sebagai sebuah relasi biologis semata. Adegan-adegan seksual yang umumnya
menempatkan perempuan sebagai pihak yang tak berdaya itu juga menjadi sebuah
petanda adanya relasi ideologis. Dalam relasi ideologis tersebut, perempuan
hampir selalu berada sebagai pihak yang marjinal. Dalam dunia kapitalisme yang
dipengaruhi wacana patriarki, perempuan akan selalu ditempatkan sebagai ”objek
kesenangan” dari dunia laki-laki.
Menginjak tahun 1990-an, penyajian film-film horor di Indonesia mulai menginjak
pada suatu tahap yang dapat dikatakan modern, konstruksi hantu yang ditampilkan
pada saat itu mulai mengangkat hantu-hantu modern yang terlepas dari
cerita-cerita kepercayaan zaman dulu. Pada masa ini, mitos-mitos tradisional
yaitu ditampilkan adalah hantu-hantu yang merupakan arwah penasaran akibat
penganiayaan atau kekerasan dengan penampilan yang cantik dan seksi, seperti
film Si Manis Jembatan Ancol, yang bercerita tentang sosok hantu manis dan seksi
yang merupakan arwah penasaran akibat penganiayaan oleh para pria di sekitar
daerah Ancol.
Setelah itu, memasuki tahun
2000-an konstruksi hantu-hantu dalam film horor di Indonesia banyak mendapatkan
pengaruh dari film horor luar negeri, yang paling fenomenal adalah pengaruh
hantu dengan gaya shadako (sosok hantu perempuan Jepang dengan rambut panjang
yang terurai). Tidak hanya itu, pada beberapa tahun terakhir ini, hantu yang
digambarkan dalam film-film tersebut juga menggambarkan sosok yang berhubungan
dengan suatu tempat, seperti Suster Ngesot (hantu penunggu rumah sakit),
Hantu Jeruk Purut atau hantu-hantu dalam kereta api di Stasiun Manggarai. Jika
diamati, dari sekian banyakn konstruksi hantu yang disuguhkan terdapat suatu
kecenderungan umum mengenai konstruksi hantu yang ditampilkan yaitu sosok hantu
tidak pernah terlepas dari sosok perempuan.
Perubahan alur, karakter dan
ikonografi ini mencerminkan perubahan situasi produksi film di Indonesia
sekaligus perubahan sosial-politik-ekonomi yang telah melanda masyarakat
Indonesia selama sepuluh tahun terakhir. Namun demikian, film-film horor Indonesia
memiliki konsistensi yang membuatnya terus bertahan sebagai institusi sinema
yang penting. Konsistensi tersebut menyangkut kehadiran hantu/makhluk
supernatural (yang kebanyakan perempuan) dengan motivasi balas dendam.
Film-film horor, berbeda dengan
jenis film lain yang diproduksi di Indonesia, menghadirkan pencitraan dari masa
lalu yang menggambarkan kesakitan, kekejaman, kekejian dan dendam ke masa kini.
Di dalam film horor, pencitraan tentang pengorbanan, pemerkosaan dan pembunuhan
hadir sebagai wajah paling buruk dari masa lalu.
Hal yang paling khas dari film
horor Indonesia adalah ekspos atau penggambaran trauma peristiwa masa lalu yang
terjadi dalam konteks Indonesia. Meski mengambil konvensi dan pola naratif dari
berbagai sentra produksi film horor dunia (Hollywood, Jepang, Thailand),
film-film horor Indonesia menjadi khas Indonesia karena kehadiran ikonografi
hantu dan referensi pada peristiwa-peristiwa trauma yang terjadi dalam
masyarakat Indonesia.
Dalam film-film yang dibuat sebelum reformasi, karakter-karakter dan masyarakat
Indonesia yang ditampilkan dalam film-film horor adalah karakter masyarakat
yang hidup dengan legenda dan kepercayaan-kepercayaan tradisional. Dalam
film-film kontemporer, karakter dan masyarakat yang ditampilkan adalah karakter
masyarakat modern yang terjebak dalam situs dan arsitektur yang dibuatnya
sendiri yang kemudian menjadi sumber ancaman. Rumah, apartemen, jembatan, dan
jalan raya menjadi situs lahirnya horor dan teror akibat masa lalu yang tidak
diselesaikan.
Dengan munculnya film-film
horor, maka bangkitlah sensualisme dan erotisme dalam media masa, yang
berfungsi tak hanya menjadi “penyedap”, malainkan sebagai menu utama. Secara
naratif film-film horror indonesia jelas menjadi situs kontestasi ideologi antara
yang dominan dengan marjinal, modern dan tradisional, patriarkal maupun
subversif, yang saling berjuang mendapatkan tempat. Meski menjadi tempat
perayaan massa (populer), film-film horor dengan naratifnya yang menjadikan
perempuan sebagai korban sekaligus monster yang menakutkan, menjadi alat
konstruksi ideologi patriarkal yang bersifat konservatif.
Film Horor
dan Perempuan Indonesia
Kecenderungan umum yang terjadi
dalam penyuguhan hantu dalam film-film horor Indonesia memang tidak terlepas
dari kisah ataupun sosok hantu perempuan. Sosok para hantu perempuan yang
sering menjadi ikon dalam film-film horor Indonesia ini, menggambarkan relitas
media di Indonesia yang menunjukkan adanya bias gender dalam representasi
perempuan dalam media. Kenyataannya, perempuan memiliki potensi pemasaran yang
luar biasa, tidak hanya dari segi fisik, tetapi juga dalam segi kesenangan yang
merupakan ukuran terhadap tingkat kepuasan khalayak dalam menikmati seni.
Topik-topik dengan segi kesenangan merupakan hal yang memiliki kecenderungan
diminati masyarakat, bagi para pengusaha atau pemilik modal hal ini dapat
menghasilkan keuntungan.
Media mempunyai suatu politik
representasi yang memberikan penegasan dalam memproduksi realitas, realitas
yang ditampilkan media adalah realitas yang sudah diseleksi, realitas tangan
kedua (second hand reality), media akan memproduksi sesuatu tema dan
akan mengesampingkan tema yang lain. Semua ini terjadi dalam tatanan bersifat
hierarkis serta berlangsung simultan melalui mekanisme dan
pertimbangan-pertimbangan.[2] Seperti,
representasi mengenai konstruksi hantu dalam film-film horor di Indonesia yang
memiliki kecenderungan menggunakan sosok hantu perempuan. Hal ini memberikan
gambaran bahwa penempatan perempuan dalam media (dalam hal ini adalah film-film
horror) selalu berada dalam posisi yang lemah dan tidak berdaya.
Pemunculan sosok hantu
perempuan sering dikaitkan dengan sosok wanita atau perempuan yang teraniaya
dan terpojok , yang terlalu labil dan mudah untuk ditindas oleh lawan jenisnya,
yang pada akhirnya digambarkan dengan kematian dan pembalasan dendam terhadap
manusia yang masih hidup di dunia. Selain itu terdapat penggambaran di mana
sosok hantu perempuan merupakan sosok hantu yang lebih jahat (ex: Film Hantu
Stasiun Manggarai), mereka akan menjadi berkuasa dan dapat membela diri mereka
atau membalaskan dendamnya ketika mereka telah meinggalkan dunia dan berubah
menjadi arwah penasaran.
Representasi film-film horor
Indonesia tentang perempuan yang digambarkan dalam sosok hantu perempuan
tersebut juga dapat memengaruhi masyarakat. Dalam hal ini, film horor yang
ditampilkan pada akhirnya akan memberikan efek melalui pesan atau penggambaran
yang disajikan di dalamnya. Melalui realitas dalam bentuk tangan kedua
tersebut, film-film horor juga memberikan konstribusinya dalam pembentukan atau
konstruksi citra dalam diri masyarakat, yang pada akhirnya melalui citra yang
dibentuk secara selektif oleh media tersebut terbentuklah stereotipe mengenai
posisi dan gambaran perempuan (yang lemah, mudah dianiaya dan tidak dapat
berbuat banyak untuk membela dirinya) melalui film-film horor.
Perempuan dengan stereotip
seksi, mengundang hawa nafsu kaum adam, dan sama sekali tidak menggambarkan
relasi kesetaraan gender. Film-film semacam ini sebetulnya bukan hal baru.
Sebab, era 1980-an pun pernah terjadi pula. Film-film yang lebih mengutamakan
fisik perempuan. Tidak hanya film drama dewasa, film horor dan komedi pun
selalu dibumbui penampilan perempuan seksi, adegan seks, atau tokoh banci.
Entah disadari atau tidak,
pastinya sebagian besar film produksi Indonesia masih menggambarkan ketimpangan
secara gender. Yakni, domestifikasi perempuan dan politik relasi gender,
segregasi perempuan dalam realitas simbolik film, dan perempuan sebagai objek
seks. Ketiga aspek ini muncul dalam film-film produksi sineas Indonesia.
Padahal film merupakan alat untuk memahami dan melihat realitas sosial
masyarakat yang ada pada saat itu. Bila memang arti film secara harfiah seperti
itu, cerminan perempuan di era modern sekarang masih terjebak pada urusan
domestifikasi, simbolik, dan objek seks setidaknya benar adanya. Pasalnya, saat
ini kasus kekerasan dalam rumah tangga terus bertambah. Kekerasan domestik ini
juga berlaku di ranah bisnis film. Kerabat kerja sinema bisa berperan sebagai
penguasa, pemodal, dan pemaksa kepada pemain film perempuan agar berperan
sesuai dengan keinginannya. Ini semua berhubungan dengan cara pandang negara
dalam memahami dan melegitimasi posisi perempuan.
Representasi
dan Marjinalisasi
Film menampilkan wacana yang
dapat dijadikan pintu untuk memahami kondisi suatu masyarakat. Film dipandang
sebagai proses ideologi, sehingga konstruksi sosial yang membentuk masyarakat
dapat dilihat melalui film. Dalam konteks gender konstruksi sosial muncul dalam
penampilan perempuan dan laki-laki dalam peran-peran sosial, masalah seksual
dan reproduksi, pekerja perempuan, gambaran tentang feminitas dan stereotip
perempuan.
Problem pokok dalam tiap wacana
yang menampilkan sosok perempuan adalah masalah representasi. Representasi
merujuk pada bagaimana seseorang, satu kelompok, gagasan atau pendapat tertentu
ditampilkan dalam isi sebuah teks.[3] Representasi
perempuan dalam teks yang diproduksi oleh budaya dengan dominasi patriarki
biasanya cenderung bias. Perempuan condong ditampilkan sebagai pihak yang
marjinal dibandingkan laki-laki. Hal tersebut mencerminkan sikap misoginis.
Misoginis adalah sikap yang membenci, menaklukan dan merepresi keberadaan,
budaya dan spiritualitas perempuan yang hidup dalam budaya patriarki. Dalam
pandangan misoginis perempuan adalah mahluk lemah dan harus dikontrol segala
sikap dan tindak tanduknya karena ia merupakan mahluk “yang lain”. Misoginis
menjadi mapan karena adanya sosialisasi dan legitimasi dari berbagai institusi
yang ada seperti institusi kenegaraan, pranata sosia dan institusi media massa.[4] Penggambaran
perempuan sebagai sosok yang negatif di media massa adalah salah satu bentuk
dari misoginis.
Dalam film-film horor
Indonesia, representasi perempuan cenderung berbeda dalam tiap dekade. Meski
memiliki variasi, ada kecenderungan perempuan ditampilkan sebagai sosok yang
marjinal jika dibandingkan laki-laki. Marjinalisasi perempuan dalam film horor
juga terjadi tatkala sosok perempuan (sebagai manusia yang utuh) direduksi
sebagai sekadar tubuh yang digunakan untuk alat pemuas kebutuhan seksual.
Relasi fisikal tubuh antara laki-laki dan perempuan dalam film horor tidak
hanya bisa dilihat sebagai sebuah relasi biologis semata. Adegan-adegan seksual
yang umumnya menempatkan perempuan sebagai pihak yang tak berdaya itu juga
menjadi sebuah petanda adanya relasi ideologis. Dalam relasi ideologis
tersebut, perempuan hampir selalu berada sebagai pihak yang marjinal.
Media massa dapat menjadi
reflektor dari ketidakadilan gender yang dalam masyarakat karena menampilkan
kehidupan manusia faktual maupun fiksional. Penampilan wacana ketidak-adilan
ini seolah diterima sebagai kewajaran, karena pekerja media menghadirkan informasi
tanpa disertai upaya yang menempatkan suatu wacana dalam suatu perspektif
struktural. Komodifikasi perempuan dapat berlangsung di ruang publik, dari sini
diangkat sebagai informasi media. Memperlakukan tubuh perempuan sebagai
komoditas ini terjadi secara langsung dalam bisnis seks dan hiburan, atau
secara tidak langsung dengan menjadikan perempuan sebagai teks dalam proses
pasar media.
Dalih dalam komodifikasi media biasanya karena perempuan yang bersangkutan
sendiri menyukai atau mendapat kemanfaatan atas posisinya di pasar. Dalih ini
bersifat mikro, karenanya sama sekali tidak menjawab permasalahan struktural
yang bersifat makro. Komodifikasi perempuan berlangsung dengan menjadikan
faktor tubuh perempuan sebagai komoditi. Ini dapat berlangsung dalam interaksi
sosial maupun secara mediasi.
Daftar
Pustaka
Ibrahim, Idi dan Suranto.
1998. Wanita dan Media: Konstruksi Ideologi Gender dalam Ruang Publik
Orde Baru. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Prabasmoro, Aquarini Priyatna.
2006. Kajian Budaya Feminis: Tubuh, Sastra, dan Budaya Pop.
Yogyakarta: Jalasutra.
Primariantari, dkk. 1998. Perempuan
dan Politik Tubuh Fantastis. Yogyakarta: Kanisius.
Siagian, Gayus. 2006. Menilai
Film. Jakarta: Dewan Kesenian Jakarta (DKJ).
Soemandoyo, Priyo. 1999. Wacana
gender & Layar Televisi: Studi Perempuan dalam Pemberitaan Televisi
Swasta. Yogyakarta: Lembaga Penelitian Pendidikan Penerbitan Yogya dan
The Ford Foundation.
Strinati, Dominic. 2007. Popular
Culture. Yogyakarta: Jejak
Wardhana, Veven SP. 2000.
“Perempuan dalam Sinetron Indonesia: Petaka atau Perkasa”, dalam Siregar,
Ashadi; Pasaribu, Rondang; Prihastuti, Ismay, ed., Eksplorasi Gender di
Ranah Jurnalisme dan Hiburan. Yogyakarta: Lembaga Penelitian
Pendidikan Penerbitan Yogya dan The Ford Foundation.
[1]http://digilib.umm.ac.id/gdl.php?mod=browse&op=read&id=jiptummpp-gdl-s1-2005-ikanurmawa-4367&PHPSESSID=42d6ee65b827a38f44956092d28ba985,
diakses pada 15 Juni 2011, pukul 17.20 WIB.
[2] http://kineforum.files.wordpress.com/2010/03/sas4_makalah_veronica_kusuma.pdf,
diakses pada 15 Juni 2011, pukul 18. 30 WIB.
[3]http://www.suaramerdeka.com/smcetak/index.php?fuseaction=beritacetak.detailberitacetak&id_beritacetak=35700,
diakses pada 15 Juni 2011, pukul 20.20 WIB.
[4]http://www.lontar.ui.ac.id/opac/themes/libri2/detail.jsp?id=132657&lokasi=lokal,
diakses pada 15 Juni, pukul 19.40 WIB.
~ Trisna Ari
Ayumika