Aku, Buku, dan Sepotong Sajak Cinta
Penerbit : Media Abadi
Tebal Buku : 368 Halaman
Tahun Terbit : September 2004
Membaca itu
ilham, menulis itu ilham, dan ilham itu ada kerena pembiasaan. Dengan kemampuan itu manusia
diharapkan dapat melahirkan penciptaan. Membaca merupakan salah satu usaha
untuk mengetahui dan mengerti isi suatu tulisan, sedangkan menulis merupakan
salah satu bentuk dari pengabadian hasil karya manusia lewat kata-kata yang
ditulis.
Dalam buku "Aku, Buku, dan
Sepotong Sajak Cinta" Muhidin dengan jelas menceritakan pengalaman
hidupnya, mulai dari seorang Muhidin yang benci membaca dan menulis sampai ia
memiliki minat pada buku dan menulis, sehingga baginya dunia buku adalah dunia
pelarian dan menulis adalah ritual dalam kehidupan malamnya.
Muhidin
tinggal di lingkungan yang tidak sesuai dengan kepribadiannya, dan ia memilih
mengasingkan dirinya. Dalam keterasingannya ia merasa jenuh dan akhirnya ia
bergabung ke dalam organisasi di sekolahnya yang bernama PII (Pelajar Islam
Indonesia). Di sana ia banyak belajar, ia mulai kritis dan tergila-gila dengan
buku, buku yang menjadi bacaan favoritnya adalah buku-buku ideologi. Dari sini
jelas terlihat bahwa buku pun bisa dijadikan dunia pelarian bagi orang-orang
yang hidupnya terasing. Dari buku ia belajar menangkap sesuatu yang bersemayam
di alam pikiran, dan menuangkannya dalam bentuk tulisannya.
Di tengah
kejenuhannya membaca buku-buku ideologi, ia membaca novel San Pek Eng Tay yang
membawanya sangat terlarut. Baginya membaca novel memabukkan dan bisa melupakan
seseorang dalam lingkungannya. Juga derita yang disandangnya. Dari sana ia
menemukan aktivitas baru. Melarikan diri dari dunia yang serba suram dan serba
tidak menggembirakan. Dunia ini penuh dengan cerita, ironi dan logikanya
sendiri-sendiri yang tak bekerja statis dan lurus. Menurut Muhidin, membaca
novel dapat menghilangkan kejenuhan dan kegalauan.
Muhidin
bekerja di Majalah Kampus IKIP Yogyakarta. Di sana ia serius belajar menulis.
Di sana pula ia mulai mengetahui bahwa dunia penerbitan tidak seperti yang ia
bayangkan. Banyak dilema yang ia hadapi selama bekerja di Majalah Kampus. Dari
sekian banyak dilema yang ia hadapi, ada satu permasalahan yang membuatnya
terlempar dari Majalah Kampus yaitu Cut Genaration. Semua pengurus Majalah
Kampus resmi berakhir sampai di sini.
Di sela-sela
“pengangguran” setelah dilepas paksa dari Majalah Kampus, ia mengikuti beberapa
sayembara artikel di rubrik opini Koran. Tulisanya selalu ditolak. Namun, itu
tidak membuatnya putus asa. Setelah banyak mengirimkan tulisannya, akhirnya
koran Kompas memuat tulisannya. Melalui kejadian itu ia belajar mengasah
kesabaran.
Bengkel
Penerbitan, di sana Muhidin berlabuh. Sebuah penerbitan yang baru dua tahun
berdiri, sebuah penerbitan yang serampangan dan melahirkan buku yang
memprihatinkan. Ia bekerja di sana bukan karena kemauannya, tapi karena
diminta. Di sana ia mendapati banyak konflik. Penerbitan itu membajak buku-buku
pengarang besar. Dan, uang jatah dua persen dari setiap buku yang semestinya
disumbangkan kepada Yayasan Pengarang Besar justru dikorupsi oleh orang yang
dipercayakan untuk mencetak dan mandistribusikan buku-buku pengarang besar,
Arkazh Kahin. Seminggu setelah kasus korupsi itu tebongkar, Muhidin
mengundurkan diri. Jobless, jalan itu yang ia pilih.
Dalam
bukunya Muhidin juga bercerita tentang pengalaman cintanya. Baginya cinta
adalah “kita dan kebersamaan”. Dengan cinta orang bisa berdialog. Alhasil,
cintalah yang sesungguhnya melandasi semua lingkar perdamaian. Berdasarkan
pengalaman yang ia alami dan dari buku-buku yang pernah dibacanya, cinta itu
berliku, sakit, dan tak kepalang deritanya. Ada ketulusan sekaligus tumbal
pengorbanan yang sungguh berat, dan cinta sejati adalah mereka yang sanggup
membakar egonya. Setiap makhluk yang pernah melewati fase kehidupan dilahirkan
pasti melewati tahapan cinta. Tidak ada yang membantah pendapat dan kenyataan
ini.
Buku ini
sangat menarik karena selain penulis menceritakan pengalaman hidupnya yang
menarik, ia juga berusaha mengajak dan membujuk kita untuk melakukan pembiasaan
dalam membaca dan menulis. Bahasa yang digunakan pun tidak terlalu baku
sehingga terkesan buku ini bacaan yang ringan. Dari buku ini terdapat pesan
yang ditinggalkan oleh penulis, bahwa kita harus menanam harapan, karena
manusia tanpa harapan sama seperti mayat berjalan.
Menulislah.
Selama engkau tidak menulis, engkau aka hilang dari dalam masyarakat dan dari
pusaran sejarah. Scripta Manent Verba Volant “yang tertulis akan tetap
mengabdi, yang terucap akan berlalu bersama angin”.
~ Trisna
Ari Ayumika