Aku Berhenti Menunggu
Aku selalu tahu bagaimana rasanya menunggu. Bukan menunggu yang manis seperti dalam novel percintaan remaja, yang dipenuhi pesan-pesan singkat penuh rindu atau suara hangat dari panggilan telepon menjelang tidur. Menungguku adalah jenis yang lain. Sunyi, panjang, dan seringkali membuat bertanya apakah aku sedang menunggu sesuatu yang memang akan datang. Atau, sesuatu yang sejak awal tidak pernah benar-benar ada. Padahal, dulu tidak seperti ini. Di awal kami berhubungan, ia adalah seseorang yang begitu hadir. Ponselku hampir tak pernah benar-benar sepi karena namanya selalu muncul di layar. Ia akan mengirim pesan hanya untuk menanyakan hal-hal sederhana. Jika aku terlambat membalas, ia akan mengirim pesan lagi, dan lagi. Bahkan langsung menelepon. Jika aku tidak mengangkat, ia akan mencoba beberapa kali, seolah memastikan aku benar-benar tidak dalam masalah. Saat itu, aku tidak pernah merasa sendirian. Tidak pernah merasa harus menunggu. Karena sebelum aku sempat merindukannya, ia ...