Postingan

Menampilkan postingan dari 2026

Kuasa Makhluk Jahat

Aku berjalan menembus hari-hari dengan sedikit senyum yang tersisa. Berkali-kali angin mencoba mematahkan langkah dan menghantam wajah, seolah memaksa untuk kembali pulang. Napasku tersengal, teringat kehidupan yang pernah menjanjikan pelukan hangat, tapi yang kudapat justru jerat panjang tanpa ujung, melilit di kaki, leher dan lidah. Kini, aku berusaha berdiri tanpa penyangga. Hatiku yang patah mencari tempat bersandar dalam reruntuhan harapan, di tengah kuburan empati manusia. Kaki mulai gemetar, rasanya tak sanggup lagi menuruti jarak. Kuhentikan langkah, menyandarkan kepala pada dinding senja, sunyi lekas menggenggam tanganku. Aku merasakan jeda, waktu pun ikut menarik napas panjang bersama. Dunia sedikit melunak, mata melepas pandang kosong namun penuh, sedang hatiku mulai mengeluh, ”Aku lelah.” Masa berjalan lambat, tapi pikiranku melesat cepat, jauh, menyusuri hari-hari yang telat lewat. Sunyi dan senja terdiam, seolah mengerti jika hanya tempat bersandar yang kubutuh saat i...

Seksualitas, Moralitas, dan Ketimpangan Gender

Seks tidak pernah berdiri sendiri sebagai urusan tubuh dan dorongan biologis semata. Tersembunyi di balik bahasa, makna, dan kuasa, sehingga masyarakat, agama, dan budaya mengatur seks untuk memberi bentuk dan batas pada sesuatu yang dianggap begitu kuat sekaligus rentan. Masyarakat meyakini bahwa seks merupakan peristiwa penting yang harus diatur dengan tata tertib dan tanggung jawab sosial. Agama memperkuatnya dengan memasukkan dimensi moral dan transendental, mengikat seks dengan hukum tuhan; batasan (halal-haram), etika (suci-najis), dan ibadah (pahala-dosa). Melalui identitas dan norma-norma, budaya mengatur tentang tubuh, dan bagaimana manusia memandang hasrat seksual. Apa yang boleh ditampilkan di ruang publik dan apa yang harus disembunyikan di ruang privat, adalah parameter yang telah dinegosiasikan dan harus dijaga sebagai warisan turun-temurun. Seiring dengan perkembangan masyarakat, institusi sosial turut mengambil alih fungsi-fungsi tersebut. Ilmu pengetahuan menggolongkan...

Pertemuan dengan Cahaya

Di sepanjang sisi sungai aku berlari dengan langkah terukur, menyusuri jalan basah yang masih menyimpan sisa hujan semalam. Udara lembap melumuri kulitku, aroma tanah menyertai irama napas yang kian teratur. Rambutku bergerak lincah mengikuti denyut di dada yang mulai menemukan tempo. Setelah melalui sepuluh kilometer jarak, langkahku menyerah pada diam. Keringat mengalir di pelipis dan leher, berbaur dengan napas yang mulai terengah. Dadaku naik turun seperti ombak kecil yang sudah lelah menjemput pantai. Kulempar pandang kepada sungai yang tenang. Airnya bergerak pelan, memancarkan cahaya matahari yang pecah menjadi kilauan. Di sini, di pinggir sungai ini, aku berdiri diam, merasakan denyut jantung yang menyatu dengan irama kontras, antara sungai yang tenang, dan segala perasaan tak bernama yang kembali mengoyak. Kemurungan segera datang tanpa mengetuk, seperti gerimis yang tiba-tiba jatuh ketika matahari sedang panas-panasnya. Aku menunduk, air mata terasa mengambang, menunggu...