Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2026

Krisis Aktivitas Bermakna

Kekurangan aktivitas menghancurkan kondisi baik manusia, itulah yang dikatakan Plato, dan saya sepakat. Kenapa? Dalam konteks sekarang, mampu mengisi waktu luang dengan baik adalah hal terbaru dalam peradaban, dan tidak banyak orang dapat mencapai tingkatan ini. Kebanyakan orang ketika dibebaskan untuk mengisi waktu luang sesuai pilihan sendiri, mereka akan kesulitan, bingung. Berpikir 'apa kegiatan yang cukup menyenangkan untuk dilakukan'. Tapi, ketika berhasil memutuskan apa yang dapat dilakukan, mereka akan tetap terusik oleh pikiran 'pasti ada kegiatan lain yang lebih menyenangkan'. Kenapa sulit? Karena terbiasa melakukan kehidupan monoton, disodorkan hiburan pasif, seperti menonton TV atau bermain gadget. Tidak terbiasa keluar dan mengeksplorasi. Jadi yang dipahami, dunia itu hanya sebatas layar TV dan handphone, semua dapat dilihat dan diketahui dari situ. Padahal bagian terpentingnya bukan sekadar 'lihat' dan 'tahu', tapi bagaimana '...

Seksualitas, Moralitas, dan Ketimpangan Gender

Seks tidak pernah berdiri sendiri sebagai urusan tubuh dan dorongan biologis semata. Tersembunyi di balik bahasa, makna, dan kuasa, sehingga masyarakat, agama, dan budaya mengatur seks untuk memberi bentuk dan batas pada sesuatu yang dianggap begitu kuat sekaligus rentan. Masyarakat meyakini bahwa seks merupakan peristiwa penting yang harus diatur dengan tata tertib dan tanggung jawab sosial. Agama memperkuatnya dengan memasukkan dimensi moral dan transendental, mengikat seks dengan hukum tuhan; batasan (halal-haram), etika (suci-najis), dan ibadah (pahala-dosa). Melalui identitas dan norma-norma, budaya mengatur tentang tubuh, dan bagaimana manusia memandang hasrat seksual. Apa yang boleh ditampilkan di ruang publik dan apa yang harus disembunyikan di ruang privat, adalah parameter yang telah dinegosiasikan dan harus dijaga sebagai warisan turun-temurun. Seiring dengan perkembangan masyarakat, institusi sosial turut mengambil alih fungsi-fungsi tersebut. Ilmu pengetahuan menggolongkan...

Pertemuan dengan Cahaya

Di sepanjang sisi sungai aku berlari dengan langkah terukur, menyusuri jalan basah yang masih menyimpan sisa hujan semalam. Udara lembap melumuri kulitku, aroma tanah menyertai irama napas yang kian teratur. Rambutku bergerak lincah mengikuti denyut di dada yang mulai menemukan tempo. Setelah melalui sepuluh kilometer jarak, langkahku menyerah pada diam. Keringat mengalir di pelipis dan leher, berbaur dengan napas yang mulai terengah. Dadaku naik turun seperti ombak kecil yang sudah lelah menjemput pantai. Kulempar pandang kepada sungai yang tenang. Airnya bergerak pelan, memancarkan cahaya matahari yang pecah menjadi kilauan. Di sini, di pinggir sungai ini, aku berdiri diam, merasakan denyut jantung yang menyatu dengan irama kontras, antara sungai yang tenang, dan segala perasaan tak bernama yang kembali mengoyak. Kemurungan segera datang tanpa mengetuk, seperti gerimis yang tiba-tiba jatuh ketika matahari sedang panas-panasnya. Aku menunduk, air mata terasa mengambang, menunggu...

Berdamai dengan Kesepian

  Hari ini panas sekali, seolah matahari bergerak selangkah lebih dekat, kemudian lidahnya menjilati permukaan bumi. Keringat terus mengucur sebelum sempat kuseka. Kaki tak henti melangkah mencari teduh. Berharap siang ini segera selesai, tapi apa boleh buat, terik tanpa ampun membuat waktu berjalan lambat. “Andai setelah ini berganti mendung,” harapku. Angin berbisik-bisik, dedaunan bergemerisik, perlahan riak awan bergerak, mengubah langit biru menjadi abu-abu tenang. Udara membawa sejuk, seolah mengisyaratkan butir-butir hujan sedang menunggu waktu yang tepat untuk jatuh ke tanah. Kurasa, waktu telah kembali bergerak dengan ritmenya. “Semesta mendengarku.” Di bawah naungan mendung ini, aku melakukan petualangan kecil yang menjanjikan rasa manis di ujung perjalanan. Dengan langkah ringan aku bergegas, diiringi angin yang membawa aroma ceria. Papan penuh warna cerah yang sedikit tertutup bayangan pepohonan itu mulai terlihat. Kupercepat langkah, semakin dekat, semakin kurasa...