Postingan

Menampilkan postingan dari 2015

Pendekatan Penelitian Sosial

Metodologi penelitian adalah bagian yang membuat ilmu sosial menjadi ilmiah. Lalu munculah sebuah pertanyaan “apakah yang peneliti lakukan ketika meneliti? , bagaimana mereka melakukan penelitian?” , pertanyaan tersebut bukanlah pertanyaan yang dapat dijawab secara sederhana. Perdebatan mengenai ilmu sosial disebabkan oleh definisi yang kaku mengenai ilmu. Pertanyaan lainpun  muncul, “apakah yang membuat sebuah penelitian ilmiah itu menjadi ilmiah?”. Ada tiga pendekatan dalam penelitian sosial berdasarkan asumsi filosofis berbeda tentang tujuan ilmu pengetahuan dan sifat realita sosial. Ketiga pendekatan tersebut memiliki jawaban yang berbeda-beda atas pertanyaan dasar tentang penelitian. Namun, kebanyakan peneliti hanya menggunakan satu pendekatan saja, lalu mereka mengombinasikan elemen-elemen dari tiap pendekatan. Para tokoh sosiologi klasikal berpendapat bahwa observasi di dunia sosial yang tepat dan sistematik, digabungkan dengan pemikiran yang teliti dan cerma...

(Kayaknya) Aksi Teatrikal

Gambar
Melanjutkan pos sebelumnya yang bertajuk Singkong, Gandum dan Peluncuran Jurnal , di sini saya hanya ingin berbagi hasil dokumentasi kegiatan launching jurnal terbaru dari Yayasan Bina Desa. Dalam kegiatan itu Wadon Sindikat melakukan pentas, ya semacam aksi teatrikal mungkin (yang jadi narator aja gak yakin) , yang pasti dalam pertunjukan tersebut kami mengkritisi..., sepertinya tidak perlu saya jelaskan lagi karena sudah dijabarkan di Singkong, Gandum dan Peluncuran Jurnal . Inilah beberapa perempuan yang "nyemplung" ke dalam Wadon Sindikat. Dari mana saja asal mereka? Ada yang masih mahasiswa, dosen, aktivis dan komnas perempuan, yang pasti mereka berasal dari rahim yang sama, rahim perempuan. Sesuai niat awal, di sini saya hanya ingin berbagi sedikit hasil jepretan di TKP. Sedikit saja, tak perlu banyak...! Sampai jumpa di pos berikutnya...!

Singkong, Gandum dan Peluncuran Jurnal*

Makan singkong pagi ini membuatku ingat ketika aku mengantarkan istriku ke acara yang dia ikut tampil di dalamnya. Ia membacakan narasi. Aku tak tahu acara utamanya apa di tempat itu, sepertinya diskusi atau seminar yang menemani launching jurnal terbaru dari Yayasan Bina Desa. Banyak aktivis LSM yang kutemui di sana juga aktivis gerakan bahkan ada juga Happy Salma. Hahaha..., tampaknya menarik sekali acara ini. Di sana aku membaca sebuah artikel gratis yang tergeletak di meja, judulnya “Kenapa Tidak Gandum?” tampaknya menarik sebab di salah satu adegan yang dipentaskan oleh kelompok yang istriku main di dalamnya menceritakan tentang pertarungan gandum dan ganyong. Awalnya aku tidak mengerti bagaimana mungkin ada makanan yang yang dipertarungkan dan itu menyebabkan budaya dan perekonomian suatu negeri dapat terkena dampaknya. Halah... terlalu jauh itu orang mengait-ngaitkan, begitu pikirku.

Bebas (Jangan) Dilepas

Kebebasan berpendapat, menghargai setiap pendapat. Tapi kebanyakan dari kita hanya fokus pada kata ‘kebebasan’. Kita melupakan beberapa hal yang menyertai makna kebebasan berpendapat, seperti kepentingan, kesetaraan dan sikap saling menghargai. Seperti yang terjadi pada kasus Charlie Hebdo. Ia dan negara yang ia tinggali sangat menjunjung tinggi kebebasan berpendapat. Maka dari itu, baginya tidak jadi soal ketika ia mengungkapkan pemikiran melalui karyanya tentang Islam, Kristen dan sebagainya. Namun, bagaimana kebebasan tersebut dapat membakar amarah banyak golongan? Berkaca dari kasus tersebut, mari kita selami makna kebebasan yang selama ini membelenggu kita dalam kebingungan. Ketika kebebasan sudah menjadi komoditas pribadi atau golongan, otomatis kepentingan publik sudah dikesampingkan. Saat ini kebebasan lebih sering berada di sisi kepentingan pribadi atau golongan. Contohnya, melalui jasa media massa seseorang bisa meningkatkan citra dirinya, pun bisa menjatuhkan citra law...

Belajar Keseimbangan

Membaca judulnya jangan berpikir bahwa saya akan bercerita pengalaman saya berdiri dengan satu kaki, sambil membungkuk dan melebarkan lengan (masa TK). Atau, berdiri dengan satu kaki sambil menjewer kedua telinga saya (masa SD). Tapi, boleh juga  sih  saya cerita sedikit tentang pengalaman itu sebelum saya menceritakan apa yang sebenarnya ingin saya umbar dalam tulisan ini. Kalau ingat masa-masa di TK pasti bahagia (senyum-senyum sendiri). Coba dipikir, kalau bukan di TK, di mana lagi kita bisa jadi pesawat, kancil, srigala, polisi, pilot, pramugari, arsitek dan sebagainya? Coba dipikir, kapan lagi kita bisa  'sok-sok'  punya profesi yang keren dan setiap saat bebas ganti-ganti tanpa ada yang komentar  nyi-nyir ? Ya, cuma di TK. Sayangnya, saat ini kebanyakan TK kurang mengajarkan anak berimajinasi dan bermain, justru anak sekecil itu (nyanyi - Iwan Fals) dipaksa untuk bisa baca-tulis.  Yah , mau gimana lagi ya, tuntutan untuk masuk SD semakin tinggi. Alh...