Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2019

Sold, Anak dalam Pelacuran di India

Hari itu hujan sangat deras, sawah keluargaku rusak, sehingga tak ada sumber pemasukan. Ayah tidak bisa berbuat apa-apa, karena ia cacat. Ketika menghadiri festival desa aku bertemu Bilma untuk pertama kalinya. Ia menceritakan kemegahan kota padaku, dan menawarkan pekerjaan sebagai pelayan di India. Aku ragu dan berusaha menjauh darinya. Tapi, diam-diam ayah berbicara dengan wanita itu, dan membuat kesepakatan dengannya. Ayah menerima uang dari Bilma lalu menyerahkan aku padanya. Singkat cerita, ayah telah menjualku, menjual anak kandungnya, Lakshmi. Aku dibawa Bilma hingga melewati perbatasan, kemudian ia mengajakku ke sebuah bangunan, yang ternyata adalah rumah bordil. Bilma menyerahkanku pada Mumtaz, awalnya kupikir ia baik karena memakaikan cincin di jari kakiku, belakangan aku baru tahu jika ternyata ia seorang germo. Kemudian Mumtaz meminta seorang pelacur mengajarkanku cara-cara menggoda laki-laki. Aku dipaksa untuk meniru, tapi tidak kulakukan. Setelah didandani, Mumtaz mengaj...

Parched, Perempuan di Lingkaran Tradisi India

Hari ini ada pertemuan warga, dipimpin oleh para tetua, yang semuanya laki-laki. Pertemuan ini untuk membahas Campha yang kabur dari rumah mertuanya. Di rumah itu dia tidak mendapat kebahagiaan, suami tidak peduli padanya, dia hanya dijadikan bulan-bulanan oleh mertua dan saudara iparnya, dilecehkan dan disiksa, bahkan dia pernah menggugurkan kandungan karena tidak tau siapa ayah dari janin itu. Tetua memutuskan Campha harus kembali ke rumah mertuanya untuk menjaga kehormatan desa dan menghindari pertikaian dua keluarga. Aku melihat Campha menangis, memohon pada ibunya, meminta pertolongan, tapi sia-sia. Inilah desaku, terletak di Rajasthan, India. Segala hal diputuskan oleh para tetua. Di sini laki-laki bebas melakukan apapun, tapi perempuan sangat terbatas. Apa yang ingin kami lakukan, apa yang ingin kami miliki, semua ditentukan oleh laki-laki. Mereka yang berhak memutuskan apa yang benar dan salah bagi kami. Turun-temurun hal itu dilakukan, sudah menjadi tradisi. Maka tak heran ke...