Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2015

Singkong, Gandum dan Peluncuran Jurnal*

Makan singkong pagi ini membuatku ingat ketika aku mengantarkan istriku ke acara yang dia ikut tampil di dalamnya. Ia membacakan narasi. Aku tak tahu acara utamanya apa di tempat itu, sepertinya diskusi atau seminar yang menemani launching jurnal terbaru dari Yayasan Bina Desa. Banyak aktivis LSM yang kutemui di sana juga aktivis gerakan bahkan ada juga Happy Salma. Hahaha..., tampaknya menarik sekali acara ini. Di sana aku membaca sebuah artikel gratis yang tergeletak di meja, judulnya “Kenapa Tidak Gandum?” tampaknya menarik sebab di salah satu adegan yang dipentaskan oleh kelompok yang istriku main di dalamnya menceritakan tentang pertarungan gandum dan ganyong. Awalnya aku tidak mengerti bagaimana mungkin ada makanan yang yang dipertarungkan dan itu menyebabkan budaya dan perekonomian suatu negeri dapat terkena dampaknya. Halah... terlalu jauh itu orang mengait-ngaitkan, begitu pikirku.

Membangun Pembiasaan

Saya yakin, tidak ada sesuatu yang dikatakan sebagai budaya tanpa ada pembiasaan sebelumnya. Maka dari itu, tulisan ini tidak menekankan pada ‘budaya’ apa yang harus dimiliki oleh suatu golongan supaya dapat terwujud nilai yang dicita-citakan, saya lebih tertarik melihat bagaimana budaya dapat terbentuk dengan ‘revolusi’. Salah satu cara yang saya soroti adalah pembiasaan. Sebagian besar masyarakat kita sepakat bahwa agama merupakan bagian dari budaya. Namun, (mungkin) tidak banyak orang yang setuju jika saya katakan eksistensi agama tetap hidup karena pembiasaan. Berawal dari kebutuhan untuk mempercayai bahwa ada yang menciptakan manusia dan alam semesta, kebutuhan untuk mengendalikan pihak lain dan kebutuhan untuk membuat kehidupan berjalan dengan stabil, akhirnya dibuatlah aturan-aturan. Dibuat, diterima, diterapkan secara kontinyu (pembiasaan), dibakukan, kemudian dibungkus dengan nama agama.   Pun dengan sopan santun yang diklaim sebagai budaya bangsa, masih hidup karen...